Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 593)

“Apa yang kau senyumkan?” tanya Thi Binh lagi.
“Dirimu…” ujar si Bungsu jujur.
“Mengapa diriku?”
“Kau tak mau tidur karena takut, bukan?”
“Takut pada apa?”
“Takut aku tinggalkan…” ujar si Bungsu sambil menelan durian di mulutnya.
Kali ini Thi Binh terdiam. Dia menatap si Bungsu yang kembali memasukkan isi durian ke empat ke dalam mulutnya.
“Kau tahu aku takut kau tinggalkan?” ujarnya.
Si Bungsu mengangguk.
“Apakah kau memang akan meninggalkan diriku?”
Si Bungsu menggeleng.
“Tidurlah. Aku takkan meninggalkan dirimu. Per cayalah…” ujar si Bungsu sambil menelan isi durian yang memenuhi rongga mulutnya.
Thi Binh menggeleng. Si Bungsu mengelap tangannya. Kemudian membuang kulit durian jauh-jauh. Lalu dia membaringkan tubuhnya di bawah pohon rindang di mana kini mereka berada.
“Tidurlah. Kita perlu memulihkan tenaga. Untuk bisa bergerak cepat ke bukit merah itu…” ujar si Bungsu sambil menguap.
Thi Binh menggeser dirinya ke dekat si Bungsu.
“Saya tidur bersamamu di sini, boleh?” ujarnya perlahan.
Si Bungsu menarik nafas. Betapapun gadis itu masih sangat kanak-kanak, yang tak seharusnya menerima cobaan yang demikian berat. Menjadi korban perkosaan dan pemuas nafsu puluhan tentara selama berbulan-bulan.
Dia mengangguk sambil mengulurkan tangan ke bahu Thi Binh. Gadis itu merebahkan dirinya di sebelah tubuh si Bungsu. Mereka berbaring berhadapan. Saling menatap. Si Bungsu membelai wajah gadis itu dengan lembut. Menyi-bakkan anak rambut di dahinya.
Kemudian perlahan mencium keningnya, matanya, pipinya. Kemudian mengecup bibirnya perlahan. Thi Binh merasakan semua yang dilakukan si Bungsu dengan sepenuh hati. Merasakan betapa bulu-bulu roma di tubuhnya berdiri, merasakan betapa bahagianya dia diperlakukan begitu oleh lelaki pertama yang dia cintai.
“Tidurlah…” bisik si Bungsu sambil memeluk tubuh gadis itu, dan menggeser dirinya, ke dekat tubuh Thi Binh.
Gadis itu memeluk si Bungsu.
“Kau takkan meninggalkan diriku, dikala aku tertidur bukan?” bisik Thi Binh sambil menatap dalam-dalam ke mata si Bungsu, yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
Si Bungsu menggeleng.
“Saya tak pernah mungkir janji, Thi-thi. Saya sudah berjanji padamu, tak akan meninggalkan dirimu. Akan membawamu keluar dengan selamat dari belantara ini ke kota. Insya Allah, Tuhan akan mengabulkan janji saya…” ujar si Bungsu perlahan sambil memainkan anak rambut Thi Binh.
“Terimakasih…” ujar Thi Binh, perlahan di antara matanya yang basah.
Si Bungsu kembali membelai rambut dan wajah gadis cantik itu, kemudian mengecup bibirnya dengan lembut. Mereka berdua pun akhirnya segera tertidur berselimut angin semilir, di bawah pohon rindang di puncak bukit tersebut.
—o0o—
MALAM sudah merangkak cukup larut ketika keempat orang itu sampai di kaki bukit berkayu merah, yang siang tadi mereka lihat dari puncak bukit di mana mereka makan dan tidur. Tatkala sampai di sebuah tempat ketinggian, tiba-tiba Thi Binh terdengar merintih.
Si Bungsu yang berada di sisinya segera berpaling, khawatir kalau-kalau gadis itu disengat binatang berbisa atau digigit ular. Thi Binh menggigil dan bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Si Bungsu meraba dahi gadis itu. Merasakan kalau-kalau diserang demam.
Suhu badannya normal. Dia meraba nadi di pergelangan tangan Thi Binh. Denyut darah gadis itu memang terasa sangat kencang. Si Bungsu berjongkok, meraba seluruh kaki Thi Binh yang terbungkus oleh pantalon tebal. Memeriksa kalau-kalau ada kalajengking yang menyengat atau digigit ular.
Namun tak ada apapun yang dikhawatirkan.
“Ada apa..?” bisik si Bungsu, sementara Duc Thio dan Han Doi siaga dengan bedil mereka di depan.
Thi Binh menunjuk ke sebuah arah di bawah bukit, bibirnya kembali bergerak seakan-akan ingin bicara. Namun suaranya seperti tersendat di kerongkongan. Si Bungsu menatap ke arah yang ditunjuk Thi Binh. Dia melihat kerlip obor di bawah sana. Ada belasan obor dipasang di depan beberapa barak panjang.
Di antara cahaya obor itu, samar-samar kelihatan beberapa tentara lalu lalang. Dan tiba-tiba si Bungsu menjadi arif, apa yang membuat gadis itu terpekik dan menggigil.
“Itu barak di mana engkau dahulu pernah disekap, Thi-thi?” bisik si Bungsu.
Gadis itu menangis, kemudian mengangguk, kemudian memeluk si Bungsu erat-erat. Bayangan betapa dia melewatkan hari-hari penuh jahanam, di neraka di bawah sana, kembali melintas dalam fikirannya. Itulah yang membuat dia menjadi terguncang. Si Bungsu menarik nafas. Dia memeluk dan membelai punggung Thi Binh, sembari menatap pada Duc Thio dan Han Doi yang tegak berlindung di balik-balik kayu, sekitar tiga depa di depan mereka. Kedua orang itu juga tengah menatap padanya.
“Jika engkau memang benar-benar ingin membalaskan dendammu Thi Binh, engkau harus kuat…” bisik si Bungsu.
Thi Binh masih terisak beberapa saat. Kemudian dia mengangguk. Kemudian dia menghapus air mata. Kemudian menatap tepat-tepat pada si Bungsu.
“Aku kuat…!” bisik gadis itu pendek, sambil kembali mengangkat bedilnya.
Si Bungsu menarik nafas. Kemudian memberi isyarat kepada Han Doi dan Duc Thio untuk berkumpul. Si Bungsu mencari tempat yang dia rasa paling aman, selain untuk tempat mengawasi lembah di bawah sana, juga untuk mereka berunding.
“Tunggu di sini, saya akan memeriksa apakah ada tentara Vietnam menjaga bukit di mana kita sekarang berada…” bisik si Bungsu sambil bergerak untuk pergi.
Namun langkahnya tertahan oleh pegangan Thi Binh pada lengannya. Dia berhenti dan menatap gadis itu. Gadis itu juga tengah menatap padanya. Si Bungsu segera ingat janjinya, bahwa dia takkan pernah lagi meninggalkan Thi Binh meski agak sesaat.
“Baik, mari kita memeriksa bukit ini…” ujarnya.
Thi Binh tersenyum. Dengan bedil di tangan kanan, dan tangan kiri memegang tangan si Bungsu, dia segera mengikuti lelaki Indonesia itu menyelusup belantara gelap tersebut. Sementara Duc Thio dan Han Doi memperhatikan setiap gerak yang terjadi jauh di bawah sana, di lembah yang dipenuhi barak penghibur dan tentara Vietnam.
Sayup-sayup angin membawa ke telinga mereka suara gelak tentara dan pekik serta tertawa cekikan wanita. Sebagai bekas tentara dan intelijen, Han Doi memperkirakan paling tidak di bawah sana ada sekitar tiga puluh sampai lima puluh tentara. Jumlah itu tak seluruhnya. Sebab, menurut penuturan Thi Binh, barak para wanita penghibur itu terpisah dengan barak tentara.
Sementara itu, si Bungsu..

2 Comments

  1. Uda nop,ambo sangaik suko carito si bungsu ko, tolong lanjuik kan sambu ngan si bungsu wakatu di vietnam.(episode 2 bagian 718 sampai tamat) tarimo kasiah.

    • kalau lanjutannya basaborobk samo kito, insyaAllah kito lanjuikan sampai tamaik…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s