Tikam Samurai (Bagian 13)

Berkata begitu si kurus menyiramkan kopi itu ke kepala anak muda tersebut. Namun tiba-tiba ada cahaya berkelebat cepat sekali. Dan-..trasss Gelas di tangan jepang itu belah dua. Kopinya tumpah ke wajahnya sendiri. Tangannya luka mengucurkan darah jepang itu terpekik kaget dan melompat mundur. Anak muda itu masih membelakang. Kini kelihatan dia lambat-lambat meletakkan tongkatnya. Samurai tanpa terasa keempat serdadu itu berkata sambil tegak. Mereka menatap dengan kaget. siti.

”Ambilkan kopi untuk saya…”

Anak muda yang tak lain daripada si Bungsu itu berkata lagi perlahan. Dia masih teap duduk

memunggungi keempat serdadu jepang tersebut. Si kurus yang tangannya luka, tiba-tiba dengan memekikkan kata Banzai yang panjang mencabut samurainya. Dan menebas leher si Bungsu. Namun tiba-tiba setengah depa di belakang anak muda itu, sebelum dia sempat membabatkan samurainya sebacokpun, tubuhnya seperti ditahan.

Ternyata yang menahan adalah ujung tongkat kayu anak muda itu. Samurai itu tak dia cabut. Hanya sarungnya yang dia hentakkan ke dada tentang jantung si kurus. Kini mereka berempat, termasuk Siti dan ayahnya, baru dapat melihat dengan jelas wajah anak muda itu. Seorang anak muda yang berwajah gagah, tapi amat murung.

”Saya tak bermusuhan dengan kamu kurus. Kalau engkau coba melawan saya, engkau akan

mati seperti anjing. Pemilik kedai ini serta anak gadisnya juga tak bermusuhan dengan kalian-Kalian datang menjajah kemari. Kalian telah banyak menangkapi para lelaki. Dan memperkosa wanita negeri ini. Karena ini jangan ganggu gadis ini. Saya meminta kopi, jangan ganggu saya minum….”

Sehabis berkata begini, dia menolakkan tongkatnya. Dan si kurus terdorong ke belakang tanpa sempat membabatkan samurai di tangannya yang telah terangkat. si Bungsu menatap pada Siti yang masih duduk di pangkuan salah seorang jepang tersebut. ”Siti, ambilkan kopi saya…” katanya perlahan.

Siti segera berdiri. jepang yang memeluknya seperti tersihir, tak berani menahan gadis itu. Siti segera membuatkan kopi. Kemudian meletakkannya di depan anak muda itu.

”Duduklah…” anak muda itu menyuruh Siti duduk di kursi di depannya. Sudah tentu dengan

segala senang hati Siti menurutinya.

”Apapun yang akan terjadi Siti, tetaplah diam…” dia berkata perlahan sekali sebelum meneguk kopinya.

Siti mendengar ucapan itu. Matanya tak lepas menatap anak muda tersebut. Dia mengangguk. Dan saat itu si kurus yang tadi masih tertegak dengan samurai terhunus tak dapat membiarkan dirinya dilumuri taik seperti itu. Tanpa teriakan Banzai seperti tadi, dengan diam-diam saja agartidak di ketahui, dia melangkah maju. Dan tiba-tiba dia membabatkan samurainya ke tengkuk anak muda tersebut.

Ketiga temannya memperhatikan dengan tenang .Siti ingin berteriak. Namun dia segera ingat pada pesan anak muda ini barusan- Agar dia tetap tenang, apapun yang akan terjadi. Meski matanya terbeliak karena kaget dan ingin memperingatkan, namun dia menggigit bibirnya. Sudah terbayang olehnya leher anak muda di depannya ini putus dibabat samurai. Namun apa yang harus terjadi, terjadilah

Jepang kurus itu tetap tak sempat membabatkan samurainya meski seayunpun. Dengan

kecepatan yang amat luar biasa, si Bungsu mencabut samurainya. Dua kali ayunan cepat dan sebuah tikaman ke belakang mengakhiri pertarungan itu. Babatan pertama memuat putus lengan si kurus yang memegang samurai. Lengan dan samurainya terlempar menimpa barang jualan di kedai itu. Darah menyembur-nyembur Babatan kedua merobek dadanya. Dan tikaman terakhir menembus jantungnya. Tikam Samurai Ketiga jepang lain tertegak dengan wajah takjub dan pucat.

”Sudah saya katakan. Kalau dia melawan saya, dia akan mati seperti anjing…” anak muda ini berkata perlahan.

”Kalian mencari teman kalian si Kempetai gendut bernama Sumite itu bukan?”

Ketiga jepang itu seperti dikomandopada mengangguk. Mereka masih terpesona melihat

kehebatan anak muda ini memainkan samurai.

”Nah, dia dan dua kempetai lainnya, juga mati di tangan saya. Mati seperti anjing. Bukan salah saya. Mereka yang meminta. Karena kalian sudah mendengar, maka kalian juga harus mati. Tapi sebelum kalian mati, kalian harus menjawab pertanyaan saya. Dimana Kapten Saburo Matsuyama kini berada?”

Tak ada yang menjawab. Ketiga jepang itu saling pandang. Dan tiba-tiba seperti dikomando,

mereka melompat mencabut samurai mereka. si Bungsu meloncat ke atas meja. Ketiga samurai itu memburu ke sana. Dia meloncat turun. Ketiga jepang itu memburunya. Dan kembali terjadi apa yang harus terjadi Dua buah sabetan yang amat cepat, kemudian disusul sebuah tikaman ke belakang. Tikaman yang pernah dipergunakan Datuk Berbangsa ketika melawan belasan purnama yang lalu.

Dua kali babatan pertama merubuhkan dua tentara jepang. Yang satu robek dadanya. Yang

satu hampir putus lehernya. Dan tikaman membelakang terakhir, menyudahi nyawa serdadu yang ketiga. Anak muda itu terhenti sesaat. Kemudian cepat dia mencabut samurai yang tertancap di dada jepang itu. Dan-..trap samurai itu masuk ke sarung di tangan kirinya. Kini dia hanya seperti memegang sebuah tongkat kayu.

Siti dan ayahnya seperti terpaku di tempat mereka. Anak muda itu berjalan lagi dengan tenang ke mejanya, di mana Siti duduk dengan diam. Dia mengangkat gelas kopinya. Kemudian meminum kopinya tiga teguk.

Kemudian memandang pada siti. Kemudia menoleh pada pemilik kedai itu. ”Maafkan saya

terpaksa menyusahkan Bapak…” dia melangkah ke dekat lelaki tua itu.

Lalu tiba-tiba samurainya bekerja. Sret.. Lelaki itu terpekik. Siti terpekik. Lelaki tua itu

merasakan dadanya amat perih. Samurai si Bungsu memancung dadanya. Mulai dari bahu kanan robek ke perut bawah. Siti menghambur dan memukul anak muda itu sambil memekik-mekik. Namun lelaki tua itu masih tegak dengan wajah pucat.

”Pergilah lari ke markas jepang di ujung jalan ini. Laporkan di sini ada serdadu yang mabuk

dan berkelahi. Cepatlah”

Lelaki tua itu kini tiba-tiba sadar apa sandiwara yang akan dia mainkan. Luka di dada dan

perutnya hanya luka di kulit yang tipis. Meski darah banyak keluar, tetapi luka itu tak berbahaya. Anak muda ini nampaknya seorang yang amat ahli mempergunakan samurainya. Siti yang juga

maklum, jadi terdiam. Dia jadi malu telah memaki dan memukuli anak muda itu.

”Pergilah. Kami akan mengatur keadaan di sini…”

Si Bungsu berkata. Orang tua itu mulai berlarian dalam hujan yang mulai lebat. Memekik dan berteriak-teriak hingga sampai ke Markas Tentara jepang. Dalam waktu singkat, lebih dari selusin serdadu jepang dan puluhan penduduk datang membawa suluh. Kedai itu berubah seperti pasar malam. Kedai itu kelihatan centang perenang .Meja dan kursi terbalik-balik.

Seorang anak muda kelihatan tersandar ke dinding di lantai. Dada dan tangannya berlumur

darah. Nampaknya dia kena bacokan samurai pula. Siti kelihatan menangis di dapur. Baju di

punggungnya robek panjang. Dari robekan itu kelihatan darah merengas tipis. Di antara mereka kelihatan keempat serdadu jepang itu telah jadi mayat. Samurai-samurai mereka kelihatan berlumur darah.

”Mereka mabuk. Minum sake dan minta kopi. Kemudian entah apa sebabnya mereka lalu saling mencabut samurai. Main bacok. Kami tak sempat menghindar…saya terkena bacokan, entah samurai siapa saya tak tahu. Anak muda itu yang sudah sejak sore tadi terkurung hujan juga kena sabetan samurai….Siti juga…”

Lelaki pemilik kedai itu bercerita dengan wajah pucat penuh takut.

”Lihatlah kedai saya…centang perenang. Saya rugi…” katanya.

Tiga orang Kempetai yang juga ikut nampak sibuk mempelajari situasi kedai itu dan mencatat di buku laporan mereka.

”Saya sudah bilang jangan biarkan mereka minum sake dalam tugas..”

Komandan Kempetai itu berkata dengan berang. Kemudian menghadap pada pemilik kedai.

”Maaf, anak buah saya membuat kekacauan. Dia sudah pantas menerima kematian atas

kebodohan mereka ini. Bapak besok bisa datang ke Markas. Kami ingin minta keterangan

tambahan dan memberikan ganti rugi yang timbul malam ini. Kami tak mau tentara jepang

merugikan rakyat…Nipong Indonesia sama-sama. Nipong saudara tua, Indonesia saudara muda…”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s