Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 596)

Dia ingin mengambil peluncur proyektil antitank, atau sebuah senapan mesin ringan. Namun jika itu dia lakukan, tentara Vietnam akan segera mengetahuinya. Mereka akan siaga, melakukan penyisiran di seluruh hutan dan bukit, dan bisa saja mereka segera memindahkan tawanan. Dia tak ingin hal itu terjadi. Jika yang diambil hanya sebuah ransel, peluru dan beberapa batang dinamit, kehadiran mereka takkan segera diketahui.
Sebab ada puluhan ransel, berpeti-peti peluru dan dinamit. Tak mungkin mereka menghitung peluru butir demi butir dan dinamit batang demi batang. Beda halnya jika yang diambil senapan mesin atau peluncur proyektil anti tank. Jumlahnya yang tak seberapa menyebabkan kekurangan sebuah saja akan segera diketahui. Setelah merasa cukup, dia melangkah dengan hati-hati ke bahagian belakang barak.
Sebelum membuka dua keping papan yang tadi dia tutupkan, dia mengetuk dinding dengan halus. Dia mendengar ketukan yang menyatakan aman dari luar. Ditanggalkannya kedua keping papan itu kembali, kemudian merayap keluar. Di luar kembali dia memasang kedua papan itu, serta memakunya dengan cara khusus, sehingga jika tak diperhatikan dengan seksama, orang takkan tahu bahwa papan itu pernah dibuka secara paksa, dan peluru dan dinamit dari dalam barak tersebut telah dicuri.
Dia memberi isyarat pada Han Doi yang berjaga-jaga di sudut barak tersebut. Kemudian mereka bergerak mundur, sambil menghapus jejak yang ditinggalkan di belakang barak amunisi itu. Di sebalik batu besar dimana mereka tadi mengatur siasat, mereka berhenti sebentar.
“Masih ada sisa waktu, untuk kita mencari goa yang dikatakan Thi Binh sebagai tempat menyekap tawanan Amerika itu…” bisik si Bungsu.
“Barangkali kita tak perlu susah-susah mencari…” bisik Han Doi, yang masih tegak dan menatap ke arah barak.
Si Bungsu menatap temannya itu. Dia tak faham apa yang dimaksud Han Doi. Orang Vietnam itu memberi isyarat agar si Bungsu berdiri. Dia menunjuk ke sela antara dua barak yang baru mereka tinggalkan. Di depan sana, di sela bukit-bukit batu yang tegak menjulang, kelihatan empat orang sedang berjalan menuju ke barak yang terdapat persis di sebelah barak amunisi yang tadi dimasuki si Bungsu.
Di bawah pantulan cahaya api unggun dengan jelas kelihatan bahwa dua di antara orang yang sedang berjalan itu adalah wanita. Dua lagi lelaki. Kedua lelaki itu tak disangsikan lagi adalah tentara Vietnam. Hanya anehnya, kedua lelaki itu tak membawa bedil. Mereka berempat berjalan seolah-olah baru pulang dari pasar saja laiknya.
Dua orang lagi, kendati memakai celana panjang dan kemeja lengan panjang model tentara, bisa dipastikan wanita. Itu terlihat dari rambut mereka yang tak mengenakan topi. Dan warna rambut itu yang memastikan mereka bukan orang Vietnam. Rambut kedua wanita itu pirang.
Wanita Amerika di barak tentara Vietnam! Bisa dipastikan bahwa mereka adalah tawanan. Namun yang terasa ganjil di hati si Bungsu dan Han Doi, dalam perjalanan dari sela-sela bukit ke barak, kedua wanita itu terdengar saling ngobrol dengan kedua tentara Vietnam yang mengiringi mereka. Malah pembicaraan mereka di sela dengan tertawa renyah si wanita.
Kedua wanita berambut pirang dan bicara dalam bahasa Inggeris itu diantar ke barak yang berada di kiri barak amunisi. Mereka masuk ke dalam, dan kedua tentara yang mengiring kannya ikut bergabung dengan teman-temannya di sekeliling api unggun. Si Bungsu ternganga melihat kenyataan itu. Dia menggelengkan kepala, seolah-olah tak bisa mempercayai penglihatannya.
Dia tak tahu apakah salah seorang di antara kedua wanita berambut pirang itu adalah gadis yang bernama Roxy Rogers, anak tunggal multi milyuner Amerika bernama Alfonso Rogers, yang sedang dia cari untuk dibebaskan dan dikirim kembali kepada ayahnya di Amerika sana.
“Well, bagaimana?” suara Han Doi mengejutkan si Bungsu.
“Kita harus menyelidiki, apakah di antara kedua wanita tadi ada yang bernama Roxy Rogers…” bisik si Bungsu.
“Coba saya lihat fotonya sekali lagi…” ujar Han Doi.
Si Bungsu mengambil dompet dari kantong belakang celananya. Mengeluarkan foto berwarna ukuran 4 x 6 cm, yang dibuat secara khusus dengan campuran plastik. Kendati berlipat-lipat atau kena air, foto itu tetap selamat. Han Doi berjongkok, kemudian menyorot foto itu dengan senter sesaat.
Lalu mematikan senternya dan mengembalikan foto tersebut kepada si Bungsu. Meski sebenarnya dia sudah dua tiga kali melihat foto itu, dia harus mengakui bahwa gadis yang bernama Roxy itu adalah seorang gadis cantik dan menggiurkan. Kecantikan itu pasti akibat kawin campuran. Karena dia lahir dari blasteran, ayahnya yang Amerika turunan Spanyol dan ibunya yang Amerika asal Irlandia Utara.
“Kita mencoba mencari tahu ke barak itu?” tanya Han Doi.
Si Bungsu mengangguk sambil meletakkan ransel berisi peluru dan dinamit di sela batu. Sesaat mereka mem perhatikan keadaan sekeliling, kemudian mulai menyelusup ke arah barak yang dimasuki kedua wanita berambut pirang dan berbahasa Inggris tadi. Kedua mereka, selain ingin memastikan apakah salah seorang dari kedua wanita itu adalah Roxy, juga ingin tahu apa yang mereka perbuat di barak tentara pada malam selarut ini.
Begitu sampai di belakang barak, si Bungsu memberi isyarat aga mereka mengambil tempat di sudut menyudut barak itu. Si Bungsu di sudut kiri, Han Doi di sudut kanan. Posisi itu menyebabkan mereka bisa mengawasi bahagian kiri dan kanan barak tersebut, kalau-kalau ada tentara yang bergerak menuju belakang barak untuk terkencing atau patroli. Si Bungsu segera mencari celah pada dinding, untuk mengintip ke dalam.
Dia menemukan sebuah lobang kecil, dan mendekatkan mata. Namun yang terlihat hanya cahaya suram lampu dinding dan pandangan selebihnya terhalang oleh sebuah mantel hujan yang digantungkan pada sebuah paku. Han Doi lebih beruntung. Dia segera menemukan sebuah celah pada papan yang besarnya sekitar dua jari dan panjangnya sekitar lima sentimeter. Dari tempatnya dia melihat salah seorang wanita berambut pirang tadi.
Dia segera memastikan wanita itu bukan Roxy, seba gaimana fotonya yang barusan diperlihatkan si Bungsu. Dia segera pula memastikan bahwa wanita itu memang orang Amerika, atau Inggris. Dia mencoba mencari tahu di mana wanita yang seorang lagi. Namun barak ini nampaknya khusus untuk para perwira. Itu dapat dilihat dari tempat yang sedang dia intip. Tempat itu disekat-sekat setinggi dua meter dari lantai, sehingga membentuk sebuah kamar berukuran 2 x 3 meter.
Wanita itu tegak sesaat di depan pintu kamar. Menatap ke tempat tidur. Dekat tempat tidur berdiri seorang perwira Vietnam, yang usianya sekitar 30-an tahun, berbadan tinggi dan agak kurus, hanya memakai handuk sebatas pinggang. Mereka bertatapan. Dan tiba – tiba sama – sama maju, dan berpelukan, lalu berciuman dengan sama – sama penuh nafsu. Han Doi kaget melihat peristiwa itu.
Sepanjang cerita yang dia dengar selama ini, wanita Amerika yang ditangkap Vietnam selalu saja menjadi korban perkosaan. Artinya, mereka sungguh-sungguh melawan ketika tentara menjahili mereka. Mereka terpaksa melayani nafsu setan tentara Vietnam Utara karena mereka tak mampu melawan. Ada yang dipukuli sampai pingsan, ada yang diikat ada yang diberi obat bius, sebelum mereka akhirnya diperkosa.
Namun yang..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s