Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 597)

Namun yang dia lihat kini, samasekali bertolak belakang, ketika orang di dalam kamar berukuran kecil itu, dalam posisi masih sama-sama berdiri, saling melucuti pakaian. Saling memeluk, bergumul, mendesah dan saling meremas dengan rakus. Di sisi lain dari barak itu, di tempat si Bungsu mengintai ke dalam mula-mula dia melihat seo¬rang wanita Eropah memasuki sebuah kamar.
Wanita itu kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Dan si Bungsu baru mengetahui bahwa si tempat tidur itu sedang berbaring seorang perwira Vietnam. Usia perwira itu barangkali sekitar 45 tahun. Nampaknya dia sedang memegang botol minuman keras. Begitu wanita Eropah tersebut duduk, si perwira memberikan botol minuman itu padanya. Si wanita menerima botol pipih kecil tersebut.
Kemudian menenggak minuman itu, beberapa teguk. Di bawah sinar lampu dinding, wajahnya segera terlihat bersemu merah usai menenggak beberapa teguk minuman keras tersebut. Sambil menatap nanap pada si perwira, wanita itu kemudian duduk berlutut di pem baringan. Perlahan dia membuka pakaiannya satu persatu, sampai lembar terakhir. Si Bungsu meninggalkan celah tempat mengintip tersebut, setelah memastikan bahwa wanita itu bukan Roxy, anak milyuner Amerika yang sedang dia cari.
Han Doi menoleh ketika mendengar isyarat dari arah kirinya. Dia melihat silhuet sosok si Bungsu. Lelaki Indonesia itu kembali memberi isyarat agar mereka segera mening galkan barak tersebut. Mereka kemudian menuju ke arah belukar berbatu-batu besar di mana tadi mereka mening galkan ransel.
“Apakah wanita yang engkau lihat itu Roxy?” tanya si Bungsu, begitu mereka sampai ke bebatuan besar tempat mereka bersembunyi tadi.
“Tidak…” jawab Han Doi.
“Kalau begitu dia masih disekap di goa yang diceritakan Thi Binh…” ujar si Bungsu sambil meng¬angkat ransel.
“Kita berangkat…” ujar si Bungsu.
“Akan kemana kita?”
“Kita cari goa tersebut…”
“Tapi, jalan ke arah goa itu dipenuhi ranjau…”
“Kita tunggu di bawah bukit sana…” ujar si Bungsu menunjuk ke arah bukit dari mana kedua wanita itu tadi muncul.
“Kedua wanita itu akan kembali di antar ke goa tempat penyekapan mereka, setelah mereka selesai memuaskan tentara di barak tadi. Kita tunggu mereka, dan kita jadikan sebagai penunjuk jalan…” tutur si Bungsu.
Mereka kemudian mengawasi barak yang terletak sekitar seratus meter di depan tempat mereka berada sekarang. Han Doi memang sangat me¬ngantuk. Sangat sekali. Dia meraba-raba ketika menemukan tempat yang agak datar di dekat sebuah batu besar, dia segera melonjorkan kaki dan me¬nyandarkan diri. Tak lama kemudian dia tertidur.
Mendengar dengkur halus Han Doi si Bungsu mendekati kawannya itu. Dia meraba urat di dekat leher bekas tentara Vietnam tersebut. Menjentiknya perlahan. Dengkurnya hilang, dan akibat jentikan di urat pada tengkuknya itu, Han Doi kini tak hanya tertidur pulas, tapi sekaligus berada dalam keadaan tak sadar secara penuh.
“Maaf kawan. Saya rasa engkau istirahat di sini dulu. Saya akan pergi sendiri, nanti kau kuba¬ngunkan lagi…” guman si Bungsu perlahan sambil meletakkan bedil dan ransel berisi peluru dan dinamit yang dia sandang di dekat tubuh Han Doi.
Si Bungsu memperhatikan bukit di dekat me¬reka berada. Dia tak yakin bukit ini tempat menyekap tentara Amerika. Dia kemudian menelusuri kaki bukit arah ke barat. Di balik bukit itu dia melihat ada bukit lain yang amat terjal sekitar se¬ratus meter dari tempatnya berada. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Sayup-sayup dia mendengar suara beberapa orang bicara dari arah kaki bukit di depannya.
Si Bungsu segera bergerak cepat, menerobos belukar, menyeberangi sebuah anak sungai dangkal dan masuk ke belukar berikutnya di seberang su¬ngai kecil tersebut. Sekitar sepuluh menit mengendap-ngendap dari pohon ke pohon, dari balik batu yang satu ke batu yang lain, akhirnya dia menemukan tempat asal suara yang tadi dia dengar. Ada api unggun kecil di balik dua batu besar, tak jauh dari sebuah bukit yang menjulang terjal.
Di sekitar api unggun itu hanya ada dua ten¬tara sedang bersandar ke batu, dengan bedil di ta¬ngan, sedang ngobrol perlahan. Si Bungsu memperhatikan dengan seksama tempat kedua orang itu berbaring. Dia harus berusaha agar sekitar seratusan tentara Vietnam di tempat penyekapan tawanan Amerika ini tak mengetahui kehadirannya, sebelum dia berhasil membebaskan Roxy.
Tugas pertamanya sekarang tentu saja harus mencari di mana goa tempat penyekapan itu. Pasti di bukit yang dijaga ini, tapi di mana? Dia menatap bukit tersebut. Kegelapan malam yang kental menyebabkan dia hanya melihat sosok bukit cadas tinggi menjulang, Tak melihat pepohonan apalagi goa di tebing bukit batu terjal tersebut. Saat dia kembali memperhatikan kedua ten¬tara di dekat api unggun itu, terdengar suara tawa re¬nyah mendekat.
Kedua tentara di dekat api unggun itu berdiri. Hanya beberapa saat kemudian, kedua wanita Eropah yang tadi datang menjadi pemuas nafsu perwira di salah satu barak, yang diintip sesaat oleh si Bungsu dan Han Doi, kelihatan muncul. Sebagaimana saat si Bungsu melihat kedua wanita itu ketika muncul dari daerah perbukitan ke areal terbuka di depan barak, yaitu diiringi dua tentara Vietnam, kini juga begitu.
Kedua wanita itu muncul di dekat api unggun juga dengan dua tentara yang tadi mengantar mereka ke barak tersebut. Si Bungsu melihat hal yang hampir membuat dia muntah didekat api unggun yang hanya sekitar sepuluh depa dari tempat dia bersembunyi.
Begitu kedua wanita…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s