Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 598)

Begitu kedua wanita itu muncul dekat perapian, begitu kedua tentara yang menunggu itu tegak. Seperti sudah ada kesepakatan sebelumnya, kedua wanita itu segera saja menyerahkan diri mereka ke dalam pelukan kedua tentara yang menanti.
Dan mereka merebahkan diri dan bergumul di dekat api unggun, sementara dua tentara yang tadi mengantar kedua wanita itu duduk menatap perbuatan kedua temannya. Hanya dalam waktu sekejap, pakaian keempat manusia yang bergumul itu sudah tercampak kemana-mana. Si Bungsu menyandarkan diri, membelakangi keempat manusia yang sudah tak lagi mengenal batas-batas adab itu.
Cukup lama dia duduk bersandar, ketika dia dengar suara cekikikan, dan menoleh ke arah api unggun. Nauzubillah, dia lihat dua tentara yang tadi hanya menonton, kini mendapat giliran. Jika mau, ini adalah kesempatan yang amat baik bagi si Bungsu untuk menghabisi ke empat tentara tersebut. Namun dia harus berfikiran taktis. Tugas utamanya bukan untuk mem bunuhi tentara Vietnam, melainkan untuk membebaskan Roxy.
Akan jauh lebih baik andainya dia bisa membawa wanita itu tanpa harus berperang. Karenanya, dia terpaksa menanti ke empat tentara Vietnam di dekat api unggun itu menye lesaikan permainan setan mereka bersama kedua wanita tersebut. Sialnya, permainan itu tak segera bisa mereka akhiri. Usai tentara yang dua, yang dua pertama terjun lagi. Usai mereka, yang mengantar wanita itu menggantikan. Laknatnya, kedua wanita itu kelihatan melayani mereka dengan suka cita.
Si Bungsu menyumpah panjang pendek. Ketika perbuatan yang beronde –ronde itu usai. Kedua wanita tersebut ternyata tak segera kembali ke goa dimana mereka disekap. Mereka terkapar di dekat api unggun, dalam keadaan tak berkain secabik pun, di antara ke empat tubuh tentara Vietnam. Setelah terdengar lolong panjang anjing hutan, salah seorang dari tentara itu bangkit. Memakai celana dan baju, kemudian membangunkan kawannya, lalu membangunkan pula kedua wanita tersebut.
Orang-orang yang dibangunkan itu segera memakai pakaiannya masing-masing. Lalu mereka mulai bergerak arah ke bukit terjal tak jauh dari tempat mereka berada. Si Bungsu menyelinap dengan cepat di dalam belantara tersebut, menyusul langkah ke empat orang yang menuju ke bukit itu. Ketika hampir sampai ke kaki bukit batu terjal itu, inderanya yang amat tajam mengisyaratkan bahaya yang mengancam.
Dia yakin pada cerita Thi-thi bahwa jalan ke tempat penyekapan tentara Amerika ini dipenuhi ranjau. Keempat orang yang dibuntutinya itu lenyap ke balik dua batu besar di kaki bukit. Dalam waktu singkat dia tiba di sana, dan masih sempat melihat cahaya senter dari salah seorang tentara Vietnam yang akan masuk ke sebuah goa. Goa itu benar-benar tersembunyi di balik pepohonan dan ada batu besar di depannya.
Jika tidak pernah menempuh jalan tersebut, kendati berdiri semeter di depannya, orang pasti takkan tahu bahwa itu adalah mulut sebuah goa. Si Bungsu menyelinap masuk, dan tetap menjaga jarak dengan ke empat orang itu agar kehadirannya tak diketahui. Goa itu ternyata memiliki terowongan bercabang-cabang. Si Bungsu menggeleng. Kendati sudah berada di dalam, sungguh tak mudah bagi orang untuk mencari mana jalan yang harus ditempuh di antara sekian cabang terowongan itu.
Bahagian dasar terowongan utama yang sedang dia lewati sekarang adalah lantai goa yang tidak rata. Selain batu-batu besar bersumburan, terowongan ini juga memiliki celah-celah yang dalam. Jika tak hati-hati orang bisa terperosok. Setelah melewati empat cabang terowongan, ke empat orang di depan sana dia lihat masuk ke terowongan sebelah kanan. Ketika dia sampai ke terowongan itu, dia hampir kehilangan jejak. Hanya lima meter ke dalam terowongan itu ternyata bercabang tiga.
Ada yang lurus, ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan. Hanya dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam dia bisa mengetahui bahwa keempat orang itu menempuh jalan yang ke kiri. Terowongan itu ternyata merupakan sebuah anak tangga berkelok-kelok dan mendaki amat terjal ke atas. Dia memperkirakan sudah mendaki sekitar dua puluh meter, ketika tiba-tiba dia sampai ke sebuah terowongan yang lebih besar dan mendatar.
Di terowongan yang agak besar dan datar ini ada penerangan berupa damar atau mungkin juga karet, yang diikatkan di ujung kayu, kemudian dibakar. Ada sekitar lima damar yang ditancapkan dalam jarak beberapa meter di sepanjang terowongan itu. Tiba-tiba dia mendengar pintu besi berdenyit dibuka, kemudian ditutupkan. Lalu suara rantai bergerincing, lalu suara anak kunci dikatupkan. Kemudian suara langkah mendekat.
Si Bungsu segera menyeberangi terowongan datar itu, dan mencari tempat bersembunyi. Sesaat dia menyelinapkan diri ke salah satu ceruk di dinding terowongan itu, dia melihat kedua tentara Vietnam tersebut muncul. Mereka menempuh terowongan kecil dari mana mereka tadi masuk. Dia masih menanti beberapa saat, untuk kemudian dengan hati-hati melangkah ke luar.
Dia berdiri di terowongan yang diterangi lampu damar tersebut, menatap sepanjang lorong. Ada beberapa terowongan ke kiri dan ke kanan. Dia yakin, terowongan itu adalah terowongan buntu, yang dipakai sebagai tempat menyekap tawanan. Dari denyit pintu besar dan gemercing rantai, dia yakin pula, tiap terowongan tempat penyekapan ditutup dengan pintu besi.
Udara di dalam terowongan ini terasa dingin. Dia menoleh ke belakang. Hanya ada jarak sekitar tiga meter menjelang dinding batu tebal. Dia tak tahu, yang mana dinding yang menghadap ke arah barak-barak tentara Vietnam di bawah sana.
Dengan sikap penuh…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s