Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 599)

Dengan sikap penuh waspada, si Bungsu mulai melangkah mendekati salah satu terowongan yang berfungsi sebagai kamar penyekapan.
Di depan sebuah terowongan dia menghentikan langkah. Dia melihat pintu jeruji besi sebesar-besar ibu jari kaki, kemudian lilitan rantai yang juga besarnya sebesar itu dengan kunci gembok besar. Dia tak bisa melihat apa yang ada di balik pintu jeruji besi itu. Keadaan demikian gelap. Dia melangkah ke arah sebuah damar yang ditancapkan di dinding.
Sesaat sebelum tangannya mencabut damar itu, firasatnya mengatakan ada yang tak beres dengan tangkai damar tersebut. Dia mengurungkan niatnya mengambil damar itu. Kemudian menatap dengan teliti lobang dinding tempat damar itu di tancapkan disana. Tapi, kenapa firasatnya mengatakan bahwa dia berada dimulut bahaya?
Dia melihat ke bawah. Hanya lantai batu dengan sedikit pasir. Juga tak ada yang…!. Diperhatikannya dengan seksama bahagian lantai yang dia pijak. Hatinya tercekat. Dia berusaha agar pijakannya di lantai tidak bergeser. Pasir halus di lantai goa ini membuat dia amat curiga.
Dia segera ingat, keempat orang yang tadi dia buntuti tetap mengambil jalan di bahagian tengah terowongan. Tak seorangpun yang berjalan di bahagian pinggir. Malah dia melihat, mereka berjalan satu-satu. Si Bungsu yakin sudah, dia telah menginjak sebuah perangkap yang mematikan.
“Engkau berada di atas ranjau…” tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seorang perempuan dalam bahasa Inggeris, dari arah terowongan yang baru saja dia lihat.
Dia menoleh, namun tetap tak melihat orang yang bicara. Kamar tempat penyekapan itu tak ada penerangan sama sekali. Kemudian terdengar suara gemercing rantai. Lalu suara langkah yang diseret di lantai batu. Bulu tengkuk si Bungsu merinding. Para tawanan ini rupanya tidak hanya disekap di tempat yang amat tersembunti, tapi juga dirantai di dalam tempat penyekapannya.
Jarak dari tempat dia tegak ke pintu jerajak di depannya, di seberang lain dari tempat dia tegak, sekitar tiga meter. Sesaat kemudian dia melihat bahagian demi bahagian anggota tubuh perempuan yang bicara itu tersembul di antara jeruji besi dan tersorot cahaya damar. Yang pertama kelihatan ada¬lah kedua tangannya yang berantai di pergelangan, berpegangan pada jeruji besi. Kemudian kedua kakinya, yang juga dirantai di bahagian pergelangan. Lalu wajahnya menyembul sedikit di antara jerajak pintu besi tersebut.
“Engkau tidak orang Vietnam bukan?” tanya perempuan itu perlahan.
Si Bungsu menggeleng. Kemudian perlahan dia duduk. Saat itu dia mendengar suara gemercing rantai hampir dari seluruh pintu-pintu. Kemudian wajah-wajah kuyu muncul dari dalam kegelapan. Hampir seluruh manusia di terowongan itu rupanya tak tidur. Begitu mereka mendengar percakapan yang agak aneh, yaitu suara si perempuan yang mengingatkan si Bungsu akan ranjau tadi, semuanya pada bangkit, dan berjalan ke pintu. Mereka ingin tahu, siapa yang datang.
“Engkau tidak orang Vietnam bukan?” kembali perempuan itu bertanya.
Si Bungsu menggeleng sembari membuka jam tangannya. Kemudian menekan tombol. Kawat baja halus yang pan jangnya semeter itu menyembul keluar dari samping jam tangannya. Dia lalu mencabut empat buah samurai kecil yang tersisip di tangannya. Belasan tawanan yang kini tegak di depan jeruji pintu masing-masing, menatap dengan diam ke arah orang asing di tengah terowongan itu.
Mereka tahu, lelaki asing itu berada di atas bom yang siap melumatkan tubuhnya begitu dia mengangkat kaki. Si Bungsu menyumpahi kebodohannya, kenapa tidak bisa menangkap keanehan tempat tentara Amerika ini disekap. Seharusnya dia tahu, tentulah ada yang tak beres jika tempat penyekapan ini tak ada pengawalnya seorang pun. Kini, kesadarannya sudah terlambat.
Dia harus mampu menyelamatkan diri dari ranjau darat yang kini dia injak. Ke empat samurai kecil itu dia tancapkan ke lantai batu. Karena mata samurai kecil itu terbuat dari baja yang amat tajam, ditambah lantai batu ini tidak begitu keras karena pengaruh udara lembab, maka dengan mudah samurai itu dia tancapkan hingga ke batas gagangnya.
Usai menancapkan keempat samurai kecil itu, dia mengambil sebuah samurai lagi. Perlahan dia mengikis pasir halus di sekitar sepatunya. Hanya beberapa saat, ujung samurainya membentur benda keras. Dia bersihkan terus, dan dia segera menemukan tutup ranjau berupa plat bundar, kira-kira sebesar asbak di bawah kaki kanannya. Dia menarik nafas. Perlahan dia mengikatkan ujung kawat baja dari jam tangannya ke salah satu gagang samurai yang di depan.
Selesai mengikat di samurai yang di depan, bahagian lainnya dari kawat halus itu dia lewatkan di bawah pantatnya. Tanpa mengangkat kaki, dia memutar duduk, menghadap ke belakang. Dia ikatkan lagi kawat baja itu ke gagang samurai yang satu lagi. Lalu hal yang sama dia lakukan ke samurai di kiri dan di kanan dengan cara menyilang. Kini di bawah kakinya ada silangan kawat baja. Dia kembali menguatkan tancapan samurai-samurai kecil itu di lantai.
Semua tawanan ternyata sudah pada tiarap di lantai ruangan masing-masing. Mereka mengamankan diri dari ranjau yang setiap saat bisa meledak. Mereka menatap ke arah lelaki asing itu dengan perasaan tegang dan diam. Mereka tiarap selain untuk menyelamatkan diri juga untuk melihat bagaimana ranjau itu meledak dan orang asing itu tercabik-cabik tubuhnya.
Mereka hakkul yakin lelaki itu tak bisa selamat dari ledakan ranjau yang kini diinjak. Mereka tak percaya karena semua mereka adalah tentara Amerika yang sudah kenyang dengan perang di negeri neraka jahanam ini. Dalam beberapa tahun berperang, sudah tak terhitung teman-teman mereka yang hanya pulang nama karena terinjak ranjau yang ditanam Vietkong.
Usahakan manusia, truk dan tank saja dibuat berkeping-keping oleh ranjau tersebut. Mereka kini menanti sambil menonton. Sebenarnya ada tiga hal yang membuat mereka heran. Pertama, siapa lelaki asing ini? Kedua, apa urusannya masuk ke tempat penyekapan ini? Ketiga, orang ini nampaknya demikian tenang, kendati dia sedang menginjak sesuatu yang tiap detik siap melemparkannya ke neraka.
Sementara itu, di bawah cahaya lampu damar si Bungsu tengah menarik nafas, kemudian menghapus peluh di jidatnya. Dia merasa beruntung pernah diajar temannya dari pasukan Greren Barret di Australia dahulu, tentang bagaimana sistem kerja sebuah ranjau darat. Jenis yang kini berada di bawah kakinya.
Ranjau yang ditanam di tanah, seperti mulut hiu yang menganga diam di dalam laut. Menanti mangsanya mendekat. Saat bahagian atas ranjau tertekan oleh berat minimal tertentu, klip pengaman pegas yang memicu ledakan ranjau yang se¬mula tertekan akan itu lepas dan melenting. Melemparkan tutup ranjau ke atas, sekaligus memicu ledakan.
Dia memang belum pernah menginjak ranjau dan berpraktek mengamankannya. Namun, karena mengetahui sistem kerja ranjau itu, kini paling tidak dia bisa berusaha mengamankannya. Dia harus berusaha agar kawat baja yang dia ikatkan menyilang di atas tutup ranjau di bawah kakinya, paling tidak mampu menahan tutup ranjau itu agar tak melenting, yang bisa menyebabkan le¬dakan dahsyat.
Sekali lagi ditatapnya keempat samurai kecil tempat dia mengikatkan kawat baja dari jam ta¬ngannya. Dicobanya menarik kawat baja yang te¬rentang di bawah kakinya. Tak bergeming, tegang dan keras. Kemudian, masih dalam posisi duduk mencangkung di atas ranjau itu, dia menoleh ke arah tawanan wanita yang tadi memperingatkan dirinya tentang ranjau itu. Perempuan itu juga te¬ngah menatap padanya dalam posisi tiarap.
“Anda bernama Roxy?” tanyanya perlahan.
Tawanan itu terkejut. Namun dia segera meng¬angguk.
“Saya ada pesan untukmu…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s