Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 600)

“Saya ada pesan untukmu ” ujar si Bungsu sambil berdiri.
“Jangan melangkah…” seru wanita itu, tatkala melihat lelaki asing itu mulai melangkah.
Semua tawanan yang tiarap, termasuk Roxy Rogers, yang tengah menatap ke arahnya, pada menutup telinga dan merapatkan kening mereka rata dengan lantai goa. Mereka menanti dengan perasaan berdebar terjadinya ledakan dahsyat. Lalu tiba-tiba terdengar suara.
“Nona saya membawa pesan dari ayah Nona…”
Roxy seperti akan copot jantungnya mendengar ucapan itu. Dengan masih menutup telinga dengan kedua tangannya, dia mengangkat kepala. Dan demi segala anak dan datuk tuyul, demi cucu dan cicit-cicit tuyul, dia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat. Lelaki asing itu kini tengah duduk berjongkok, hanya berjarak sehasta dari dirinya. Jarak antara mereka hanya dipisahkan oleh jeruji besi!
Lewat samping tubuh lelaki tersebut, Roxy menatap ke arah tempat ranjau yang tadi terinjak oleh lelaki asing yang entah dari mana bisa mengenal namanya ini. Dia lihat empat benda kecil-kecil tertancap. Kemudian ada sesuatu yang mengkilat, nampaknya kawat halus, yang secara menyilang menghubungkan ke empat benda kecil itu.
Keheningan dalam goa itu dipecahkan oleh suara tepuk tangan dari ruangan-ruangan penyekap lain. Begitu mendengar suara orang bercakap-cakap, bukannya suara ledakan, belasan tawanan tentara Amerika yang tadi pada tiarap dan menutup telinga, segera membuka mata dan menatap ke arah tempat orang asing itu menginjak ranjau. Mereka melihat seperti yang dilihat Roxy.
Empat benda kecil tertancap dan ada kawat mengkilat menghubungkan ke empat benda kecil itu. Itulah yang membuat mereka bertepuk kagum. Sungguh di luar dugaan mereka ada orang yang bisa menyelamatkan diri dari ledakan setelah dia menginjak ranjau. Suara bising akibat gemercing rantai segera terdengar begitu tawanan-tawanan tersebut pada berdiri dan berusaha melihat ke arah tempat Roxy.
Sementara itu Roxy masih menelungkup. Kedua tangannya yang di rantai masih memegang jerajak besi pintu ruangan di mana selama bertahun-tahun dia disekap. Dia menatap dan memperhatikan lelaki asing itu dengan seksama. Ada dua hal yang membuat dia heran. Pertama dari mana lelaki ini mengenal namanya? Kedua, bagaimana mungkin dia bisa selamat dari ranjau?
Akan halnya si Bungsu, yang sudah demikian hafal bentuk dan tanda-tanda wajah gadis yang bernama Roxy ini, yang fotonya selama berbulan-bulan dia bawa ke mana-mana, tak lagi ragu bahwa wanita yang ada di depannya ini adalah orang yang dia cari. Orang yang harus dia selamatkan nyawanya. Lebih dari itu, gadis ini harus dia bawa kembali kepada orang tuanya di Amerika sana.
“Siapa engkau, darimana engkau mengenal namaku?” tanya Roxy, yang masih saja tiarap di lantai.
“Saya orang bayaran ayahmu. Saya diminta untuk mengaduk-ngaduk belantara Vietnam untuk mencari, membebaskan serta membawa dirimu pulang ke Amerika…” ujar si Bungsu perlahan.
Kemudian dia berdiri sambil mengeluarkan sebuah bungkusan plastik tipis dari dalam dompetnya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Menatap ke mulut terowongan dari mana dia tadi masuk.
“Kapan biasanya orang-orang Vietnam itu datang?” tanya si Bungsu.
Buat sesaat Roxy tak segera menjawab perta¬nyaan tersebut.
Dia masih saja menatap lelaki itu dari ujung kaki ke ujung rambut. Dia baru menjawab setelah pertanyaan itu diucapkan si Bungsu untuk kedua kalinya.
“Tak ada jadwal yang tetap. Bahkan untuk mengantar makanan pun suka-suka mereka. Kadang-kadang tiap hari. Kadang-kadang sekali dua hari. Bisa dalam tiga hari mereka tak muncul. Kecuali….”
“Kecuali untuk mengambil tawanan perempuan, guna memuaskan nafsu mereka?” potong si Bungsu.
“Engkau juga mengetahuinya?” tanya Roxy yang kini sudah duduk berlutut, dengan kedua tangannya masih ber pegangan ke terali besi.
“Saya sampai kemari karena mengikuti dua wanita yang diantar tadi….”
“Saya sudah menduga demikian…” gumam Roxy perlahan.
Si Bungsu kembali menatap ke arah kanan. Pen-dengarannya yang amat tajam mendengar tetes air di sebelah kanan sana. Dia berdiri dan menatap beberapa saat kepada Roxy.
“Saya akan buka kunci pintu ini, berikut rantai yang mengikatmu…” ujarnya sambil melangkah ke kanan, ke arah dari mana dia mendengar suara air menetes.
“Hei, hati – hati. Lantai goa ini di penuhi ranjau…” ujar Roxy mengingatkan.
Ada beberapa belas meter si Bungsu melangkah dengan hati – hati ke ujung kanan, kemudian melihat ada sebuah ceruk di bahagian kiri dinding. Di ceruk itu kelihatan air menetes dari atas. Dia membuka kantong plastik kecil yang tadi dia keluarkan dari dompetnya.
Di dalam plastik itu terdapat semacam serbuk berwarna putih mengkilat. Tanpa mengeluarkan serbuk putih tersebut, yang jumlahnya barangkali hanya sekitar dua sendok teh, dia menampung tetesan air goa itu dengan kantong plastik. Air tersebut menyatu dengan serbuk di dalam plastik. Kelihatan asap tipis mengepul ketika air dingin itu melarutkan serbuk, dan saling menyatu di dalam kantong plastik.
Ketika kantong plastik itu hampir penuh, dia kembali ke tempat tentara – tentara itu disekap. Dia berhenti di ruangan di sebelah tempat Roxy. Di dalam ruangan kecil itu ada tiga tentara Amerika yang disekap. Ketiga orang itu, yang berdesak – desak di dekat terali, menatap padanya dengan heran.
Si Bungsu meneteskan..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s