Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 602)

Si Bungsu cepat-cepat memupus segala fikirannya tentang apa yang diperbuat kedua wanita ini tadi malam. Jika dihitung Roxy dan Helena yang sedang mandi, berarti jumlah semua tawanan ini ada 17 orang. Dua belas lelaki dan lima wanita. Mereka semua, kecuali kedua wanita itu, kelihatan amat kotor dan amat lelah. Dia tak yakin apakah mereka akan mampu berlari jauh, atau bertempur jika kepergok tentara Vietnam.
“Siapa pangkatnya yang tertinggi di antara kalian?” tanya si Bungsu.
Seorang lelaki mengangkat tangan kanannya dari dalam kerumunan tentara yang baru keluar dari sekapan itu. Dari tanda pangkat berwarna hijau gelap di krah baju loreng lelaki tersebut, si Bungsu tahu lelaki itu berpangkat kolonel. Si kolonel nampaknya memang memiliki wibawa yang lebih dari yang lain. Para tentara yang potongannya kacau balau itu bersibak memberi jalan, ketika si kolonel maju.
“Nama saya MacMahon. Eddie MacMahon. Senang bertemu Anda…” ujar kolonel itu sambil mengulurkan tangan.
“Bungsu. Nama saya Bungsu. Hanya nama pertama, tanpa nama kedua…” ujar si Bungsu membalas jabatan tangan si kolonel.
Dia faham bahwa adalah aneh bagi orang barat, jika ada orang yang namanya hanya terdiri dari satu suku kata. Orang-orang barat selalu memiliki nama paling sedikit dengan dua suku kata. Tergantung nama keluarga dari pihak ayahnya. Kalau nama keluarga dan ayahnya hanya satu suku kata, maka nama seorang anak pasti dua suku kata. Kalau nama keluarga yang dipakai seorang ayah dua suku kata, maka nama anaknya pasti tiga suku kata.
Seperti Kolonel Eddie, nama MacMahon dipastikan nama ayahnya, atau nama kakeknya. Sebab sering juga orang memakai nama keluarga atau klan, bukan nama ayah. Yang memakai nama klan ini, misalnya, dapat dilihat pada keluarga Rockefeler. Turunannya ya anak, ya cucu, ya buyut, semuanya memakai nama Rockefeler di belakang nama mereka.
“Senang bertemu Anda, Bungsu. Anda dari pasukan khusus mana?” ujar kolonel MacMahon.
“Saya seorang pengelana. Murni pengelana dan sipil. Murni sipil…” ujar si Bungsu.
Baik kolonel maupun tentara yang lain, menatap lelaki asing itu dengan tatapan tak percaya. Namun lelaki di depan mereka ini nampaknya sangat bisa dipercaya. Segala gerak dan tindakannya demikian menyakinkan.
“Well, apa yang harus kami perbuat?” ujar si kolonel pada si Bungsu.
Sebelum si Bungsu sempat menjawab, sayup-sayup mereka mendengar suara Roxy memanggil.
“Di bawah sana ada kolam yang airnya amat jernih dan bersih. Kita masih punya waktu, bagi yang ingin mandi silahkan. Sekalian menolong mengangkat Letnan Helena…” ujar si Bungsu.
Yang pertama bergerak adalah ke tiga wanita itu. Mereka segera menemukan ceruk tempat air menetes tersebut, kemudian berpedoman pada suara Roxy, yang memanggil-manggil, mereka segera turun dan menemukan kolam jernih itu. Mereka segera saja pada menanggalkan pakaian dan ikut mandi.
Setelah ke lima wanita itu muncul, lima tentara segera menuju ke tempat tersebut. Yang lainnya, termasuk si kolonel dan kelima wanita itu, kini berada di depan si Bungsu. Mereka pada berdiam diri, menatap pada lelaki asing yang tak mereka ketahui dari mana asalnya ini. Si Bungsu yang tahu isi fikiran orang-orang di hadapannya ini, dia berusaha menjelaskan secara singkat siapa dirinya, dan kenapa dia sampai terlempar ke tempat penyekapan ini.
“Well. Seperti saya katakana tadi, nama saya Bungsu. Saya sipil dan pengelana murni. Saya orang Indonesia. Setahun yang lalu saya datang ke Amerika menemui seorang teman. Kemudian saya berkenalan dengan, mmm… Tuan Rogers. Alfonso Rogers. Saya dimintanya untuk mencari tahu nasib anaknya yang hilang di Vietnam ini saat bertugas dalam pasukan Amerika bersama divisi kesehatan. Saya menolak, karena saya tahu tugas itu bukan tugas saya. Maksud saya, saya tak punya keahlian untuk mencari jejak dan bertarung dengan tentara Vietnam untuk membebaskan seorang tawanan. Namun karena dia membayar terlalu tinggi, dan saya memang memerlukan uang, saya terima tawarannya. Di Kota Da Nang saya bertemu seorang bekas tentara Vietnam Selatan, yang bertugas di bidang intelijen. Dari dialah saya menda¬pat kabar tentang tempat penyekapan ini, di mana diperkirakan Roxy disekap. Teman saya itu, Han Doi, yang menolong saya menemukan tempat ini, ada di bawah sana, berjaga-jaga kalau ada bahaya…” ujar si Bungsu.
Setelah berhenti sejenak dia menyambung.
“Kemudian, bersama saya sekarang juga ada dua orang Vietnam, anak beranak. Duc Thio dan anaknya Thi Binh. Mereka berada di suatu tempat, tak jauh dari sini…” si Bungsu mengakhiri cerita¬nya, sembari menatap sesaat pada Roxy, kemudian pada si kolonel.
“Well, kolonel. Kini komando berada di tangan Anda…” ujar si Bungsu pada MacMahon.
Kolonel itu menatap si Bungsu nanap-nanap. Sebagai seorang yang kenyang dalam berbagai pertempuran, dia sangat faham lelaki dari Indonesia ini bukan sembarang orang. Hal itu, paling tidak, dibuktikan dengan berhasilnya dia menemukan tempat ini. Dia yakin, sudah cukup banyak pasukan-pasukan khusus Amerika, yang ditugaskan mencari mereka.
Pasukan itu terbagi dalam satuan-satuan kecil, yang mencoba mencari dan menemukan tempat ini, maupun tempat-tempat lain yang dipergunakan Vietnam Utara sebagai tempat penyekapan tentara Amerika yang mereka tawan. Yang sampai kemari, hanya orang Indonesia ini. Orang ini bukan sipil biasa, bisik hati MacMahon.
Setelah berfikir beberapa saat, menatap si Bungsu dan tawanan – tawanan sebangsanya yang sudah terpuruk di goa ini beberapa lama, kolonel MacMahon berkata.
“Anda baru saja datang dari bawah sana, Tuan. Menurut Anda, mana yang lebih besar kemungkinan bagi kita, langsung meloloskan diri atau terlebih dahulu melakukan penyerangan untuk menghancurkan tentara Vietkong di bawah sana?”
Si Bungsu segera teringat akan janjinya pada Thi Binh, bahwa dia akan memberi gadis itu kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara Vietnam, yang telah memperkosanya selama berbualan – bulan.
“Gadis bernama Thi Binh yang membantu menunjukkan pada saya bahwa di bukit-bukit ini ada konsentrasi tentara dan tempat penyekapan Tuan-tuan, adalah salah seorang gadis yang dijadikan pamuas nafsu tentara Vietnam. Dia mau menceritakan tentang bukit-bukit ini dengan syarat bahwa dia diberi kesempatan untuk membalaskan dendamnya kepada tentara-tentara tersebut. Tanpa keterangannya, saya takkan pernah tahu di mana tempat penyekapan ini. Saya harus menepati janji saya padanya. Namun itu tak mengikat apapun terhadap Tuan-tuan. Jika Tuan-tuan memutuskan segera meloloskan diri, atau ingin menyerang kamp di bawah sana, putusan itu sepenuhnya berada di tangan Tuan-tuan…” ujar si Bungsu perlahan.
“Anda mengetahui gudang persenjataan mereka?”
Si Bungsu mengangguk.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s