Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 603)

Si Bungsu mengangguk. “Dari barak persenjataan mereka kami mengambil seransel peluru dan beberapa buah dinamit. Namun untuk mendekati barak itu siang hari amatlah berbahaya…” ujar si Bungsu.
Kolonel itu menatap anak buahnya. Lima orang di antara mereka, yang duduk tersandar di lantai karena setengah lumpuh akibat disiksa, juga menatap pada si kolonel dengan diam.
“Well, kita sudah lama disekap dan disiksa di sini. Sudah lama tidak bertempur. Jumlah kita sangat kecil dibanding seratus tentara di bawah sana. Namun putusan kita barangkali adalah perang…!” ujar si kolonel.
Ucapannya segera disambut acungan kepalan tangan semua tawanan tersebut, tak kecuali mereka yang lumpuh akibat siksaan. Si Bungsu menatap pada Roxy. Gadis itu, yang duduk di dekat Helena, teman satu selnya yang tak bisa berdiri, juga tengah menatap padanya.
Hanya beberapa saat menatap gadis itu, tiba-tiba dia menoleh ke arah lorong darimana dia tadi masuk ke tempat penyekapan ini. Di sana masih bersandar dua orang tentara Amerika, menghadap pada Kolonel MacMahon. Kolonel ini nampaknya arif ada sesuatu yang tak beres dari cara si Bungsu yang tiba-tiba menoleh ke terowongan itu.
“Ada sesuatu yang tak beres?”
“Nampaknya ada yang datang…” jawab si Bungsu sambil matanya tetap memandang ke arah lorong tempat keluar masuk itu.
Kolonel tersebut juga menatap ke arah mulut lorong yang di depannya tegak dua anggota pasukan Amerika itu. Mereka semua pada terdiam.
“Ada empat orang yang sedang naik kemari. Mereka sekitar lima puluh meter dari kita…” ujar si Bungsu perlahan sambil memperhatikan lorong kecil tempat mereka kini berada.
Tentara Amerika yang belasan orang itu, kendati kondisi mereka amat buruk, namun mereka adalah pasukan-pasukan elit Amerika. Beberapa di antaranya adalah pasukan Baret Hijau yang amat tersohor itu. Namun yang lebih terkenal lagi adalah Kolonel MacMahon, yang bersama empat orang anak buahnya kini ikut tertawan. Mereka berasal dari pasukan SEAL. Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika yang amat terkenal itu.
Tapi, kendati sudah berkonsentrasi penuh mereka sungguh tak mendengar apapun. Orang Indonesia ini mengatakan ada empat tentara yang kini sedang naik. Kalau saja bukan orang ini yang bicara, MacMahon pasti menga takan ucapan itu bual semata. Namun hatinya mengatakan lelaki ini bukan pembual, dan dia juga yakin, lelaki ini jauh lebih tangguh dari dirinya.
Dia menatap pada si Bungsu. Seolah-olah menyerahkan bagaimana langkah berikutnya pada orang Indonesia itu. Si Bungsu segera menyuruh bawa orang-orang yang sakit ke lekuk di mana tadi dia menemukan air. Kemudian di menyuruh tentara-tentara Amerika itu, termasuk si kolonel, berjaga di terowongan besar. Dia sendiri menggantikan tempat kedua tentara yang berjaga di mulut terowongan.
“Saya takkan bisa berbuat banyak terhadap keempat tentara Vietnam itu. Yang lolos ke terowongan besar ini menjadi tugas Anda menyelesaikannya, Kolonel…” ujar si Bungsu, sambil menyerahkan bedil yang dia bawa kepada si kolonel.
Kolonel itu menatap si Bungsu sesaat setelah menerima senjata tersebut. Si Bungsu tahu, tatapan si kolonel maupun anggotanya seperti mempertanyakan, apa yang akan dia perbuat menghadapi ke empat Vietnam yang sedang naik itu tanpa senjata.
“Saya hanya akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. Anda bertindak saat mereka memperhatikan saya…” ujar si Bungsu perlahan.
Pasukan kecil yang compang camping dan hanya memiliki sebuah senjata pinjaman dari si Bungsu itu segera bergerak cepat mencari perlindungan. Dalam waktu singkat te-rowongan itu kosong. Antara terowongan tempat keluar masuk itu ke terowongan besar tempat penyekapan tentara Amerika ada jarak sekitar sepuluh meter. Siapapun yang datang menuju ke terowongan tempat penyekapan tentara Amerika ini, begitu keluar dari terowongan kecil akan berbelok ke kanan.
Sementara dinding di mana si Bungsu kini bersembunyi berada di sebelah kiri. Dia beruntung, karena di bahagian kiri itu ada sebuah lekuk yang bisa dia pergunakan sebagai tempat menyurukkan badannya. Hanya beberapa detik dari saat dia berdiri di lekuk itu, dia mendengar langkah kaki bersepatu hampir sampai ke mulut terowongan. Jumlah tentara Vietnam yang datang itu ternyata memang empat orang.
Kedatangan mereka bisa segera diketahui, karena sambil berjalan mereka juga berbicara, yang juga terdengar oleh Kolonel MacMahon dan lima anggotanya yang siaga di mulut terowongan besar. Mereka menanti dengan berdebar. Setelah bertahun-tahun disekap, inilah pertama kali mereka berada dalam situasi siap tempur. Suara tentara Vietnam yang sedang bicara itu terdengar semakin jelas ketika mereka semakin dekat ke mulut terowongan kecil.
Kini keempat mereka sudah keluar dari terowongan kecil tersebut. Karena tak pernah menduga bahwa terowongan itu sudah dimasuki orang lain, ke empat tentara itu segera berbelok ke kanan. Saat akan sampai ke mulut terowongan besar, tiba-tiba mereka mendengar suara, seperti siulan, dari arah belakang. Tanpa curiga apapun, karena menyangka suara itu hanya suara sesuatu yang tak perlu dicurigai, sambil tetap melangkah mereka menolehkan kepala ke belakang.
Untuk sesaat mereka..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s