Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 605)

Kelima anak buahnya yang sedang menempel ketat ke dinding, menatap heran pada si kolonel. Mereka ikut kaget ketika si kolonel melangkah ke arah suara serdadu Vietnam yang mereka dengar tadi. Karena tak ada suara tembakan apapun, mereka ikut – ikutan keluar dari persembunyian masing – masing. Melangkah ke arah mulut terowongan, dan seperti si kolonel, tiba-tiba mereka pun dibuat hampir tak mempercayai apa yang mereka lihat.
Di depan mereka empat serdadu Vietnam terlihat pada bergelimpangan. Saat itu si Bungsu tengah mencabuti samurai kecilnya yang terakhir, yang tertancap di teng gorokan salah seorang tentara Vietnam itu. Kini ke-17 orang Amerika tersebut sudah berkumpul di dekat si Bungsu. Lelaki Indonesia itu tengah menyisipkan samurai – samurai kecil ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya, setelah dia menghapus darah yang lekat di samurai itu ke pakaian tentara Vietnam yang dia bunuh.
“Ninja…” desis seorang letnan pasukan SEAL sambil nanap menatap si Bungsu.
Semua menatap padanya, kemudian pada si Bungsu. Sembari menutupkan lengan bajunya, sehingga semua samurai kecil di balik lengan baju itu lenyap dari penglihatan, si Bungsu menatap ke arah letnan tersebut.
“Saya memang belajar dari seorang Jepang. Namun di Jepang sana yang mahir mempergunakan samurai kecil-kecil seperti ini tidak hanya Ninja. Siapapun bisa melakukannya, asal mau berlatih keras…” ujar si Bungsu perlahan.
—o0o—
KENDATI semua tentara Amerika itu berasal dari pasukan elit, namun mereka tak dapat menyembunyikan perasaan heran bercampur takjub mereka pada kehebatan lelaki dari Indonesia tersebut dalam menghabisi keempat tentara Vietnam itu. Dengan takjub mereka memperhatikan luka kecil di tubuh ke empat tentara Vietnam itu. Semua luka terdapat di tempat yang mematikan. Di antara alis mata, tenggorokan dan di jantung.
Yang membuat mereka takjub bukan bekas luka itu, tetapi orang yang menyebabkan luka tersebut. Membidik tempat-tempat yang demikian mematikan bukanlah hal yang mudah. Dan menghujamkan pisau kecil dari jarak beberapa belas meter, dalam waktu yang amat cepat secara beruntun, sehingga tak satu bedilpun sempat meletus dari empat tentara itu, benar-benar suatu kemahiran yang sulit dicerna akal.
Sebahagian besar di antara mereka adalah ahli bela diri yang amat terlatih. Ahli pertempuran yang mahir mem pergunakan senjata api maupun pisau komando. Namun, untuk membunuh empat tentara Vietnam sekaligus dengan pisau dalam waktu hanya hitungan detik, belum pernah mereka khayalkan. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau mereka kini pada menatap pada orang Indonesia itu dengan kagum.
“Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Komandan mereka akan curiga jika keempat tentara yang mati ini tak muncul-muncul di barak di bawah sana. Lagipula, pagi nampaknya sebentar lagi akan turun…” ujar si Bungsu setelah melihat jam tangannya.
“Baik, Tuan yang mengenal jalan ini, karena baru saja masuk kemari. Tuan yang memimpin kami keluar dari tempat penyekapan ini…” ujar Kolonel MacMahon pada si Bungsu.
Si Bungsu tak merasa perlu lagi berbasa-basi. Usai para tentara itu melucuti senjata, peluru dan bayonet milik ke empat tentara Vietnam yang mati tersebut, dia segera berjalan di depan, menuruni terowongan yang menurun tajam ke bawah sana. Mereka juga tak perlu menyem bunyikan keempat mayat tentara Vietnam tersebut. Takkan ada yang harus disembunyikan lagi.
Begitu tentara Vietnam naik kemari, mereka akan segera tahu bahwa semua tawanan sudah kabur. Helena yang tak bisa berjalan dipangku oleh seorang sersan. Begitu juga tentara yang sakit, segera dipapah bersama. Mereka bergerak cepat menuruni terowongan terjal dan berliku itu. Tentara yang berasal dari anggota SEAL, pasukan khusus Angkatan Laut itu, segera menempatkan diri di belakang si Bungsu.
Mereka bertugas memperhatikan jalan, mengawasi tanda-tanda adanya ranjau. Mereka memang sangat ahli dan paham dalam hal itu. Kini, kendati si Bungsu berada di depan, mata mereka yang tajam meneliti setiap inci lantai terowongan yang akan dilewati. Beberapa saat menjelang sampai ke mulut terowongan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, si Bungsu menyuruh rombongan itu berhenti.
Dia minta mereka ..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s