Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 607)

Dia masih belum rubuh, sebuah tendangan menyusul ke selangkangannya.
Dia jatuh berlutut, dan bayonet di ujung bedilnya yang sudah berpindah tangan segera menghujam ke jantung nya. Tapi, tentara Vietnam yang seorang lagi, yang tadi kena hajar hidungnya, juga segera menyadari maut mengancam nyawanya. Dengan menahan rasa sakit, dia segara berlutut dan meraih senjatanya yang jatuh. Saat itu tentara Amerika yang seorang lagi masih berada tiga depa dari dirinya, dan sedang melambung. Dia me ngangkat bedilnya dan menarik pelatuk.
Saat itu tubuh tentara Amerika yang melambung itu jatuh tepat ke tentara Vietnam tersebut. Dia memutar kepala Vietnam itu, terdengar suara berderak. Tentara Vietnam itu mati seketika. Kedua kejadian itu, terjadi pada saat yang hampir bersamaan. Dan ketika tugas itu selesai, kedua anggota SEAL tersebut melecuti senjata dan peluru kedua tentara Vietnam itu. Saat itu pula Kolonel MacMahon muncul, disusul si Bungsu. Kedua orang itu muncul dari balik belukar, sekitar sepuluh depa dari tempat MacMahon,
Kolonel itu memberi isyarat dengan suitan ke arah pintu goa, tak lama kemudian dari sana muncul para bekas tawanan yang lain, lalu berkumpul di sekitar mayat kedua tentara Vietnam itu. Si Bungsu berjalan ke arah salah satu terntara Vietnam tersebut. Saat dia membalikkan salah satu tubuh mayat itu, semua bekas tawanan Amerika pada memandang ke arahnya. Dia menunduk, mencabut samurai kecil yang tertancap di tengkuk mayat itu sampai ke hulunya.
Kolonel MacMahon dan tentara yang tadi melompat dan memetahkan leher orang Vietnam itu, saling bertatapan. MacMahon maupun tentara yang melompat itu teringat, saat tubuhnya masih di udara dalam sebuah lompatan dan masih berjarak tiga meter dari si Vietnam, tentara Vietnam itu sudah mengangkat bedil. Telunjuknya sudah berada di pelatuk bedil. Namun tak kunjung terdengar letusan. Dan orang Vietnam itu akhirnya mati.
Ternyata, penyebab tak kunjung terdengarnya letusan itu adalah samurai kecil tersebut. Si Bungsu menghapus darah di samurai kecil itu ke baju tentara yang mati itu. Kemudian dia menyelipkan samurai kecilnya ke balik lengan baju. Dia berbuat seolah-olah tak terjadi apapun. Si tentara yang tahu nyawanya diselamatkan segera mendekati si Bungsu, persis saat si Bungsu sudah berdiri.
“Tuan, siapapun Tuan dan darimanapun Tuan berasal, saya berhutang nyawa pada Tuan. Terimakasih. Tuan telah menyelamatkan hidup saya. Nama saya William, Sersan Robert William. Saya takkan melupakan pertolongan Tuan…” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Si Bungsu menatap anggota pasukan istimewa Angkatan Laut Amerika itu dengan tenang. Kemudian menerima uluran tangan tentara tersebut. Selain si Bungsu, yang memahami apa yang sudah terjadi hanya tiga orang. Yaitu kedua anggota SEAL itu dan si kolonel. Yang lain hanya menatap dengan diam. Tapi, dari apa yang mereka lihat di goa tadi, betapa mahirnya lelaki dari Indonesia ini mempergunakan senjata Ninja-nya, mereka sudah dapat menduga, apa yang dimaksud ‘hutang nyawa’ oleh Sersan William.
Situasi tak memungkinkan mereka bergerak lambat. Si Bungsu segera membawa pasukan kecil itu melintas sungai kecil yang dia lewati malam tadi. Kemudian menyelusup di antara batu-batu besar dan hutan lebat ke tempat di mana dia meninggalkan Han Doi. Mereka kini sudah memiliki tujuh bedil. Sebuah yang dibawa si Bungsu, empat meraka rampas dari tentara Vietnam di dalam terowongan tadi, dan dua dari penjaga pintu terowongan.
Namun, baik si Bungsu maupun Kolonel MacMahon tetap berpendapat bahwa mereka tak mungkin terlibat per tempuran terbuka dengan seratus lebih tentara Vietnam di barak-baraknya sana. Selain perbedaan jumlah personil dan jumlah senjata yang amat mencolok, kondisi kesehatan juga tak memungkinkan mereka untuk bergerak cepat dalam sebuah pertempuran terbuka.
Pagi sudah turun. Si Bungsu faham benar, bahwa bahaya semakin mendekati mereka. Kini komandan pasukan Vietnam itu tentu sudah mengirim pasukan menyusul empat tentara yang terbunuh di goa penyekapan tentara Amerika itu. Sebelum mereka memasuki goa, mereka tentu terlebih dahulu menemukan dua mayat temannya di bawah bukit itu. Pasukan yang dikirim itu akan dibagi dua. Satu atau dua orang dikirim memberikan laporan ke barak, dan selebihnya akan memasuki goa penyekap. Berharap kalau-kalau para tawanan masih belum sempat melarikan diri.
Namun, sebelum pasukan yang memeriksa goa tahanan itu kembali, berdasar laporan bahwa dua tentara yang menjaga di bawah bukit itu sudah mati terbunuh, maka seluruh pasukan Vietnam akan disiagakan. Tindakan tentara Vietnam setelah itu sudah bisa direka dengan pasti. Mereka akan menyisir seluruh belantara ini untuk mencari tawanan yang melarikan diri tersebut, berikut orang yang mem-bebaskan mereka.
Tentara Vietnam…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s