Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 609)

Dia lalu memaparkan rencananya pada Kolonel MacMahon. Dia akan meyerang barak tentara Vietnam bersama Thi Binh. Dejelaskannya bahwa gadis itu tak bisa menghapus dendamnya pada tentara Vietnam di bawah sana, akibat perkosaan dan dijadikan pemuas nafsu selama berbulan-bulan. Tanpa berniat dan menimbulkan kesan mengajari si kolonel, si Bungsu menjelaskan teori klasik perkelahian, bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Konkretnya, menyerang sepuluh kali lebih baik dari pada bertahan.
“Jika Anda setuju, kolonel, saya akan menyelusup menghancurkan gudang senjata mereka. Siapa tahu, kami bisa mencuri beberapa senjata dari gudang tersebut. Tapi, paling tidak, meledaknya gudang itu akan menyebabkan ditariknya sebagian pasukan yang memburu kita…” ujar si Bungsu perlahan.
Kolonel MacMahon menyetujui rencana tersebut, namun dia mengusulkan agar si Bungsu disertai salah seorang dari anak buahnya yang berasal dari pasukan SEAL. Saran itu segera disetujui si Bungsu. Namun ketika dia akan berangkat bersama Thi Binh dan Sersan Mc Dowell, Roxy yang tidak bersenjata segera pula berdiri di sam¬ping Thi Binh.
“Saya ikut bersamamu…” ujarnya sambil melemparkan senyum pada Thi Binh.
Saking jengkelnya, hampir saja Thi Binh menampar bibir mungil yang tersenyum itu. Sungguh mati, dia tak ingin perempuan yang dianggapnya gatal ini ikut-ikut pula bersama dia dan si Bungsu. Namun sebelum dia sempat bereaksi, si Bungsu sudah menyuruh pasukan kecil itu bergerak. Si Bungsu di depan, Mc Dowell menyilahkan Thi Binh dan Roxy bergerak duluan, dia menempati posisi paling belakang.
Namun, ketika si Bungsu sudah bergerak cu¬kup jauh, kedua gadis itu masih tegak dan saling pandang, seperti dua harimau yang akan saling terkam. Sudah dua kali Mc Dowell menyilakan mereka untuk maju, keduanya masih tegak dan sa¬ling pelotot. Penat saling tatap dan saling pelotot, akhirnya Roxy yang memang dalam usia jauh le¬bih tua dari Thi Binh segera mengambil inisiatif menyilahkan gadis itu melangkah duluan.
Namun Thi Binh masih tegak. Maka Roxy tak lagi peduli, dia segera berjalan mengejar si Bungsu. Thi Binh seperti disengat lebah melihat Roxy yang dicapnya sebagai perempuan gatal itu tiba-tiba saja nyelonong duluan. Dia memegang bedilnya erat-erat, kemudian bergegas menyusul langkah Roxy. Menyelinap di antara belukar dan batu-batu besar.
“Perempuan gatal, perempuan lont….” gerutu Thi Binh sambil berusaha mempercepat langkah.
Hatinya bertambah sakit, tatkala melihat jauh di depan sana, di antara palunan belukar, sekilas-sekilas dia melihat perempuan itu sudah berjalan beriringan dekat sekali dengan si Bungsu. Oo, jengkel dan gondoknya dia. Kalau saja tak khawa¬tir suaranya akan terdengar oleh tentara Vietnam, yang mungkin sudah ada di sekitar mereka, Thi Binh pasti akan berteriak menyuruh si Bungsu berhenti menantinya.
Tapi maksudnya itu terpaksa dia urungkan, sebab dia tak tahu apakah tentara Vietnam yang memburu mereka sudah berada di sekitar tempat ini atau tidak. Kalau dia bersuara keras, pasti akan terdengar oleh orang yang memburunya itu. Kendati demikian, Thi Binh tak bisa menghapus jengkel dan gondok di hatinya begitu saja terhadap perempuan yang dicapnya gatal itu.
Sebenarnya, sumber rasa gondok dan jengkel itu, adalah rasa cemburu. Sungguh, dia demikian mencintai si Bungsu. Dia tak ingin ada perempuan lain yang menyela di antara kehidupan mereka berdua. Usianya yang baru lima belas, meski tubuhnya seperti gadis 17 tahun, menyebabkan dia sulit mengontrol hatinya. Dia merasa Roxy adalah sumber gangguan yang amat potensial bagi hubungan¬nya dengan si Bungsu. Dia tak menginginkan itu.
Konyolnya, Roxy yang tahu benar bahwa gadis itu mencintai si Bungsu, dan dia juga tahu bahwa gadis tersebut cemburu padanya, justru bersikap membakar-bakar. Seperti sikapnya memilih tinggal bersama si Bungsu, bukannya ikut menyelamatkan diri bersama teman-temannya yang lain. Padahal, apalah urusannya berada bersama si Bungsu. Dia tentu akan lebih aman bila menyingkir dari tempat ini bersama rombongan yang dipim¬pin Duc Thio.
Pertempuran pertama terjadi ternyata bukan melibatkan rombongan si Bungsu atau MacMahon yang bertahan. Pertempuran itu justru terjadi pada rombongan orang-orang yang menyelamatkan diri bersama Duc Thio. Untung saja mereka tak masuk jebakan. Pertempuran pecah setelah letnan dari pasukan Baret Hijau yang menyertai Duc Thio, yang tadi menerima jam tangan sinyal dari si Bungsu, melihat sekilas gerakan mencurigakan sekitar dua puluh depa di depan mereka.
Dia memberi isyarat ke rombongan di belakangnya. Rombongan itu berhenti tiba-tiba dan mencari perlindungan di balik batu atau kayu-kayu besar. Si Letnan membisikkan kepada Duc Thio bahwa dia melihat gerakan di depan sana.
“Anda tunggu di sini. Senjata kita hanya dua pucuk…” bisik si letnan sambil memberi isyarat memanggil seorang sersan pasukan Baret Hijau yang berada di bahagian belakang.
Sersan itu, yang tak…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s