Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 610)

Sersan itu, yang tak memiliki bedil, segera mendekat pada si letnan. Mereka mengatur taktik untuk mengetahui berapa jumlah tentara Vietnam di depan sana, kemudian jika mungkin menjebak dan melumpuhkannya. Si letnan membuat gerakan melambung ke kiri, sementara si sersan yang hanya berbekal bayonet melambung ke arah kanan. Keduanya lenyap dalam palunan belantara lebat.
Duc Thio berjaga-jaga di tempat tersebut. Dia segera ingat senjata di tangannya. Dia melihat ada seorang kopral Baret Hijau yang duduk bersandar ke batang kayu besar sembari memeluk tubuh Helena, tentara wanita yang sakit dan tak mampu berjalan itu. Duc Thio bergerak ke belakang, ke arah kopral tersebut.
“Senjata ini akan jauh lebih bermanfaat jika Anda yang memegangnya. Biar saya yang menggantikan memapah dia…” bisik Duc Thio sambil menunjuk pada Helena.
Kopral itu tentu saja menerima tawaran tersebut. Bagi tentara seperti dia, berada dalam pelarian tanpa senjata sama dengan lari bertelanjang. Perlahan dipindahkannya tubuh Helena ke pelukan Duc Thio, kemudian diambilnya senjata laras panjang hasil rampasan tersebut, dan segera bergerak ke bahagian depan. Letnan yang tadi menyelinap ke depan, tiba-tiba mendengar ada suara langkah di bahagian kanannya. Dengan cepat, nyaris tanpa menim bulkan suara dia bersembunyi ke balik rimbunan belukar.
Hanya beberapa detik setelah dia bersembunyi, di balik beberapa pohon besar di bahagian kanannya muncul dua orang tentara Vietnam. Kedua mereka menatap tanah, nampaknya mencoba melihat jejak yang ditinggalkan pelarian yang mereka kejar. Kedua tentara itu lewat hanya sekitar dua depa dari tempat per sembunyian si letnan. Si letnan masih menanti beberapa saat, dia tak bisa gegabah. Dia tak tahu berapa orang sebenarnya tentara Vietnam yang memburu mereka ke arah ini.
Jika sekarang dia menembak, dia khawatir bahagian lain dari tentara yang memburu mereka akan berdatangan kemari. Namun usahanya untuk berdiam diri digagalkan oleh seekor ular daun yang sejak dia menyelusup ke belukar rimbun itu sudah mengintai. Ular hijau itu besarnya tak lebih dari sebesar jempol lelaki dewasa, dengan panjang sekitar satu depa. Namun tak seorang pun di antara tentara Amerika yang bertugas di belantara Asia yang tak tahu betapa mematikannya gigitan ular kecil tersebut.
Si letnan masih beruntung, saat dia menatap tajam ke arah dua tentara Vietnam di depannya, sudut matanya sekilas menangkap ada benda yang bergerak di bahagian atas kepalanya. Nalurinya yang tajam masih cepat bereaksi ketika kepala ular itu menyambar ke arah lehernya. Dia berguling menjatuhkan diri, dan menembak. Kepala ular tersebut hancur dihantam pelurunya. Dan si letnan dalam suatu gerakan berputar segera memuntahkan peluru ke arah dua tentara Vietnam yang terkejut mendengar letusan hanya empat depa di belakang mereka.
Semburan peluru dari bedil si letnan membuat kedua tentara Vietnam itu terjungkal mati. Namun setelah itu terdengar suara teriakan-teriakan. Dan tempat si letnan kemudian dihajar ratusan peluru dari balik-balik pepohonan. Dengan menyumpah si letnan bergulingan dari balik pohon ke pohon lain untuk menyelamatkan diri dari terkaman peluru. Sekitar lima puluh meter dari tempat si letnan, Duc Thio dan para pelarian wanita serta tentara yang sakit, mendengar suara letusan itu de¬ngan berdebar.
Suara tembakan tiba-tiba berhenti. Si letnan tiarap di balik sebuah pohon besar. Dia tidak tahu ada berapa tentara Vietnam yang kini berada di hadapannya. Baik dirinya maupun pasukan yang mengejarnya sama-sama tak mengetahui berapa lawan yang mereka hadapi. Sersan yang tadi melambung ke bahagian kanan, yang hanya berbekal sebuah bayonet, begitu mendengar suara tembakan di bahagian kirinya, segera menyelusup mendekati tempat pertempuran tersebut. Dia tahu yang disirami tembakan itu adalah si letnan.
Dengan cara menyelusup yang kemahirannya masih dia miliki, kendati sudah tiga tahun dalam sekapan, dia sampai ke tempat pertempuran itu saat suara tembakan terhenti. Dia tak tahu si letnan berada di mana. Untuk itu si kopral bersiul. Siulnya amat susah dibedakan dengan suara burung. Kemahiran meniru suara burung atau suara hewan lainnya menjadi andalan bagi pasukan Baret Hijau dan pasukan SEAL Amerika, dalam perang di hutan belantara.
Si letnan, yang masih dalam posisi tiarap dan menanti, mendengar suara sejenis burung yang hidup dalam belantara Vietnam tersebut. Dia segera tahu, suara itu adalah suara si sersan. Ada kode khusus di dalam tiruan suara burung itu, yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memang mempelajari suara tersebut. Dia lalu menyahuti suara itu dengan meniru suara burung pula. Dari asal suara itu, si sersan menjadi faham di mana letnan itu kini berada. Sekitar lima puluh depa di depannya. Kalau begitu, tentara Vietnam kini berada antara dia dengan si letnan.
Sersan itu mengambil sebuah dahan kering sebesar lengan yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tegak. Setelah mengira-ngira, dia melemparkan dahan itu ke rimbunan semak di bahagian kanannya. Begitu suara desau dahan kering itu menerpa semak, serentetan tembakan menghajar semak tersebut. Dan si sersan menandai sebuah pohon besar tempat asal tembakan yang terdekat dengannya.
Pohon besar itu berada di depannya, agak ke kiri, hanya sekitar sepuluh depa. Dia melihat, tentara di balik pohon besar itu berada di posisi paling belakang dari empat temannya yang lain, yang tadi menghujani semak yang dilemparnya dengan dahan itu dengan siraman peluru. Sersan itu menarik nafas, mengingat kembali masa-masa terakhir pertempuran sebelum dia tertangkap.
Disiksa dengan amat sangat selama berbulan-bulan, dan dijebloskan ke tahanan di goa batu di bukit cadas itu. Hanya mereka yang memiliki ketahanan fisik dan kekuatan mental yang luar biasa saja yang mampu melewati masa penyiksaan tak terperikan itu dengan selamat. Yang tak kuat, seperti puluhan teman-temannya, mati atau paling tidak lumpuh. Sebagaimana terjadi pada beberapa orang di antara mereka, yang baru saja dibebaskan si Bungsu dan kini sedang berupaya menyelamatkan diri.
Sersan berkulit hitam itu merasa urat-uratnya menegang saat dia mulai menyelinap dari pohon ke pohon, melata seperti seekor ular, mendekati kayu besar di mana salah seorang tentara Vietnam menyemburkan tembakannya barusan. Hampir tanpa suara dia sampai ke sebuah pohon sekitar lima depa dari pohon besar itu. Dari tempatnya kini dengan jelas dia dapat melihat tentara Vietnam yang sedang tiarap dan mengarahkan senjata ke belukar di mana letnan dari pasukan Baret Hijau Amerika itu bertahan.
Si sersan kembali menarik nafas, menggenggam bayonet rampasannya dengan erat. Tak dia lihat tentara Vietnam yang lain. Mereka pastilah tersembunyi di balik-balik pohon yang lain. Hal itu paling tidak memberi kesempatan padanya untuk lebih leluasa bergerak. Dengan sekali lagi menarik nafas panjang, dengan gerakan yang masih cukup cepat dia tegak, kemudian memutari pohon tempat dia berada. Menyerbu ke arah tentara Vietnam yang sedang tiarap dengan posisi membelakanginya.
Tentara Vietnam yang sedang menatap ke arah belukar di mana tentara Amerika yang menembaki mereka tadi berada, tak tahu sama sekali bahwa bahaya mengintainya dari belakang. Dia memang sempat mendengar suara perlahan di belakangnya. Namun sudah sangat terlambat baginya untuk mengetahui suara apa itu gerangan. Karena tiba-tiba saja dagunya diraih dan ditarik ke atas dengan kuat. Dia hanya sempat terkejut dan terbelalak, namun hanya sampai di situ.
Dia bahkan tak sempat menjerit, karena bayonet di tangan tentara Negro Amerika itu sudah memotong lehernya. Terdorong oleh kebencian yang sangat akibat dendam bertahun-tahun disiksa, tentara Amerika itu tak sadar bahwa irisan bayonetnya sudah hampir memutuskan leher si Vietnam. Orang Vietnam itu bahkan tak sempat lagi berke-lojotan. Hanya darah yang menyembur-nyembur dari lehernya yang hampir putus.
Kalau saja si Negro …

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s