Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 611)

Kalau saja si Negro berada di bahagian depan, tubuhnya pasti sudah basah kuyup oleh darah yang menyembur ,seperti air bertekanan kuat yang muncrat dari pipa pecah. Tapi kini, karena dia berada di atas tubuh si Vietnam yang tiarap, yang terkena semburan darah adalah tangannya yang memegang bayonet. Kemudian tubuh Vietnam tersebut terkapar. Sersan Negro itu menghapuskan darah di mata bayonet itu ke baju korbannya. Menyisipkan bayonet itu ke pinggang, kemudian mengambil bedil si Vietnam.
Kemudian dia kembali bersiul menirukan suara burung. Dari isyarat yang dia beri, si letnan menjadi faham bahwa situasi dikuasai si sersan. Letnan tersebut membuat gerakan di tempat persembunyiannya. Begitu dia membuat gerakan, begitu empat senjata dari empat tempat yang berbeda menyalak menyiramkan timah panas ke arah tempat si letnan. Dan kesempatan itu memang ditunggu sersan Negro tersebut.
Kini dia menjadi tahu dimana posisi ke empat tentara Vietnam yang masih tersisa, setelah dua mati di tangan si letnan dan yang seorang mati di tangannya. Dia menuju ke rumpun pinang yang amat rimbun, enam depa di bahagian kanannya. Di sana dia mendapati seorang tentara yang masih berusia belasan tahun sedang menembak ke arah tempat persembunyian si letnan. Vietnam itu sama sekali tak tahu bahwa maut berada dekat sekali di belakangnya.
Dari balik kayu besar di mana kini dia berdiri, sersan tersebut mengirimkan sebuah timah panas, ke kepala tentara Vietnam itu. Peluru menembus topi waja tentara tersebut, tembus ke kepalanya, dan keluar di kening dengan meninggalkan lobang besar yang memuncratkan benaknya. Tentara Vietnam yang sedang menembak dalam posisi berlutut di balik pohon tumbang itu langsung tertelungkup ke pohon tersebut. Nyawanya melayang sebelum kepalanya menyentuh pohon melintang di depannya.
Si sersan mengambil senjata otomatis milik tentara Vietnam itu. Kemudian dia kembali bersiul, yang segera difahami oleh si letnan yang masih bersembunyi di balik belukar. Hanya beberapa detik setelah siulan itu, si letnan menghamburkan tembakan ke arah pohon-pohon di mana tadi dia melihat sumber tembakan itu, lalu dia melambungkan diri, bergulingan ke arah pohon besar yang terletak sekitar lima depa di kanannya.
Kemunculan dirinya segera disambut oleh tembakan gencar tentara Vietnam yang berada di tiga tempat. Dan itulah taktik yang sengaja dibuat si sersan dan letnan tersebut. Ketiga sisa regu pemburu itu tak mengetahui bahwa salah seorang pelarian yang mereka kejar justru sudah menusuk ke garis belakang mereka. Begitu mereka menembak ke arah si letnan, sersan itu segera bergerak cepat. Satu demi satu dia datangi tempat si penembak dari arah belakang, dan dengan mudah menghabisi nyawa mereka.
Sepi!
Letnan dari pasukan Baret Hijau itu muncul dari balik persembunyiannya setelah kembali terdengar suara siulan si sersan. Dia menatap ke arah tujuh mayat tentara Vietnam yang bergelimpangan. Dan ketika sersan Negro itu muncul dari balik sebuah pohon besar, dia menyalaminya. Mereka kemudian bergegas ke arah rombongan yang tadi mereka tinggalkan di belakang.
Dengan senjata rampasan dari tujuh tentara Vietnam itu, jumlah senjata mereka sudah sembilan pucuk. Itu berarti hanya seorang yang tak memiliki senjata. Dan tentu saja yang tak diberi bersenjata adalah Helena, teman seruangan dalam tahanan dengan Roxy. Usahkan untuk memegang senjata, untuk berjalan saja dia tak mampu.
“Mereka nampaknya dibagi dalam regu-regu kecil untuk memburu kita. Kita harus bergerak cepat. Suara tembakan tadi bisa mengundang kedatangan regu-regu pemburu yang lain kemari…” ujar si letnan.
Duc Thio yang bertindak selaku penunjuk jalan segera membawa rombongan itu bergerak menuju ke arah danau yang masih cukup jauh. Dan apa yang dikatakan si letnan nampaknya memang benar. Kendati tempat mereka sudah cukup jauh dari barak tentara Vietnam itu, namun suara tembakan tadi tetap saja terdengar sayup-sayup. Baik oleh tentara Vietnam yang ada di barak, maupun oleh rombongan kolonel MacMahon dan rombongan si Bungsu.
Begitu mendengar tembakan, komandan pasukan Vietnam di barak itu segera memerintahkan suatu pasukan kecil yang terdiri dari dua puluh personil untuk memburu ke arah suara pertempuran tersebut. Kini di barak-barak itu hanya tinggal sekitar sepuluh tentara, termasuk koman dannya, seorang kolonel. Tak seorang pun di antara kesepuluh tentara Vietnam yang kini berada di lapangan di tengah lingkaran barak-barak tersebut yang menyadari bahwa hanya belasan meter dari tempat mereka kini berada, mengintip empat pasang mata.
Keempat orang itu adalah si Bungsu, Sersan MacDowell, Thi Binh dan Roxy. Dari tempat mengintip mereka berempat melihat ke dua puluh tentara yang berangkat buru-buru ke arah asal tembakan tersebut. Pasukan itu nampaknya akan melewati tempat dimana Kolonel MacMahon memasang jebakan. Si Bungsu membisikkan pada ketiga anggota rombongannya agar menanti ke dua puluh tentara itu berlalu cukup jauh. Pada saat ke dua puluh pemburu itu terlibat pertempuran dengan pasukan MacMahon, mereka baru bergerak menyerang tentara di barak tersebut.
“Ke arah mana pasukan yang lain perginya?” bisik sersan MacDowell pada si Bungsu, yang merasa khawatir pada nasib teman-temannya yang melarikan diri di bawah pimpinan Duc Thio. Jangan-jangan mereka sudah tewas semua.
“Untuk memburu kita, nampaknya mereka dibagi dalam beberapa regu. Tiap regu menyisir arah yang berbeda….” jawab si Bungsu.
—o0o—
SEMENTARA itu, mata Thi Binh nanap menatap ke lapangan di tengah kumpulan barak di depan sana. Di sana, di lapangan tersebut, di dekat tiang bendera, sekitar sepuluh tentara sedang berdiri dengan senjata siap di tangan masing-masing. Di bahagian depan seorang kolonel terlihat mondar-mandir. Sebentar dia berhenti, tegak dan menatap ke arah bukit-bukit batu, di mana malam tadi dia masih menawan tujuh belas tentara Amerika.
Kemudian dia membalikkan diri, berjalan lagi. Sepuluh langkah berjalan dia berhenti. Menatap ke arah darimana tadi terdengar sayup-sayup suara tembakan. Mata Thi Binh berkilat memancarkan dendam melihat kolonel separoh baya tersebut. Dia teringat, ketika pertama dibawa ke barak-barak ini, dia ditaruh di barak bahagian tengah. Yaitu barak yang dihuni oleh si kolonel.
Tak lama setelah dia dimasukkan ke kamar, di pintu kamar yang dibiarkan terbuka tiba-tiba berdiri si kolonel. Kolonel itu bertubuh besar, kepalanya yang tak bertopi kelihatan botak seperoh bahagian depan. Si kolonel menatapnya dari ujung rambut ke ujung kaki, seolah-olah akan menelannya. Lalu kolonel itu melangkah dua langkah memasuki kamar.
Dengan kakinya dia…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s