Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 612)

Dengan kakinya dia tutupkan pintu di belakangnya. Kemudian, dengan mata nyalang menatap tubuh Thi Binh yang ranum, sambil membuka baju dinasnya. Thi Binh yang semula sudah menggigil di tempat tidur, mengin sutkan dirinya ke sudut, dan makin ke sudut, sampai tubuhnya menempel ke dinding. Si kolonel yang masih berdiri sekitar dua meter dari pembaringan, membuka sepatu dinasnya, kemudian celananya.
Kini dia tegak dengan celana kolor kecil. Setelah sekali lagi menatap dengan muka yang sudah memerah karena menahan nafsu, kolonel itu mulai mendekati pamba ringan. Thi Binh bertekad akan mempertahankan kehormatannya sampai mati. Begitu si kolonel meraba tangannya, dia segera menggigit tangan kolonel tersebut sekuat tenaga. Tidak hanya itu, saat giginya menggigit lengan kolonel itu sekuat daya, kedua tangannya mencakar wajah kolonel tersebut.
Laknatnya, si kolonel tidak hanya membiarkan tangannya digigit terus dan mukanya dicakari, dia malah semakin terangsang oleh gigitan dan cakaran itu. Thi Binh baru melepaskan gigitannya setelah dia merasakan asinnya darah di mulutnya. Darah segar kelihatan meleleh di lengan si kolonel akibat gigitan Thi Binh. Kolonel itu duduk berlutut di pembaringan.
Dia menatap ke lengannya. Darah menetes dari bekas gigitan ke alas tempat tidur. Perlahan diangkatnya lengannya yang berdarah itu ke dekat mulutnya. Gerakannya terhenti sesaat tatkala tertatap pada paha putih Thi Binh yang tersingkap lewat roknya yang tak karuan. Matanya menatap paha putih dan mulus itu dengan jalang. Thi Binh cepat-cepat manarik ujung roknya yang tersingkap, kembali menutup pahanya yang tersimbah separoh.
Kolonel itu tersenyum. Tangannya yang berdarah kembali dia dekatkan ke mulutnya. Lalu perlahan dia menjulurkan lidah. Dengan mata jalang menatap nanap ke dada Thi Binh yang ranum dan berombak akibat nafasnya yang sesak, si kolonel menjilati darah yang menetes tersebut. Kemudian menelannya. Usai menjilati, dia mengulurkan tangan kirinya yang belum kena gigit. Seolah-olah meminta agar tangan kirinya itu juga digigit.
Bulu tengkuk Thi Binh benar-benar merinding. Ketika gadis itu tak bergerak, kolonel itu mengingsutkan dirinya perlahan. Thi Binh memekik histeris dan tangannya kembali mencakar-cakar. Namun karena jaraknya masih agak jauh, cakaran ta¬ngannya hanya menerpa angin. Si kolonel menghentikan gerakannya. Dari jarak tak sampai sedepa itu, dia menatap diam Thi Binh yang sedang memekik dan mencakar-cakar angin.
Dia seolah-olah menikmati tidak hanya darah di tangannya yang masih saja menetes, tapi dengan nafsu yang amat aneh dia juga menikmati gadis itu memekik dan gerakan mencakar-cakarnya. Kejadian itu berlangsung beberapa lama, sampai akhirnya Thi Binh kehabisan suara untuk memekik, dan kehabisan tenaga untuk mencakar. Gadis itu tersandar lemas ke dinding.
Kolonel itu kembali menatap ke dada ranum Thi Binh, yang berombak turun naik akibat nafasnya yang sesak. Menjilati paha gadis itu yang putih mulus dan tersimbah, dengan tatapan mata jalangnya. Sadar pahanya ditatap dengan rakus, dengan sisa-sisa tenaganya Thi Binh memperbaiki ujung roknya yang tersingkap, sehingga pahanya kembali tertutup.
Kemudian, ketika mata kolonel itu nanap menatap dadanya yang ranum, gadis itu menutup dadanya dengan kedua belah tangannya. Si kolonel mengingsut tubuhnya ke dekat Thi Binh. Gadis itu tak punya tempat lagi untuk surut. Tubuhnya sudah tersandar rapat ke dinding. Melihat tak ada reaksi, si kolonel perlahan mengulurkan tangannya membelai rambut Thi Binh. Tak ada reaksi perlawanan. Tangan kolonel itu turun ke pipi.
Nafas Thi Binh semakin sesak, namun tetap tak ada perlawanan. Tangan kolonel itu beralih ke tengkuk Thi Binh. Membelainya dengan lembut. Namun ketika tangan itu baru bergeser dari pipi ke tengkuk, rasa takut yang amat sangat tiba-tiba membuat Thi Binh memekik lagi. Mencakar lagi. Menendang-nendang lagi. Lagi, lagi, lagi dan lagi! Namun akhirnya dia sampai ke batas kodratnya sebagai seorang wanita.
Seorang gadis kecil yang jolong besar. Seluruh tenaga dan dayanya terkuras sampai ke titik paling bawah. Itulah mula bencana, dan sekaligus laknat, yang menimpa diri Thi Binh. Lima belas hari berturut-turut dia direndam di kamar jahanam itu. Benar-benar dijadikan budak pemuas nafsu kolonel celaka itu. Di hari kelima belas, ada gadis lain yang berhasil diculik pasukan si kolonel. Kecantikan gadis itu sedang-sedang saja. Tapi bodinya bukan main. Pinggulnya luar biasa bahenol.
Sudah menjadi ketentuan, yang tak boleh dilanggar sedikit pun, bahwa setiap wanita yang didapat yang mencicipinya pertama kali haruslah sang komandan. Siapa lagi kalau bukan kolonel gaek kurapan itu. Begitu pula dengan gadis berpinggul dan berpaha besar itu. Dia segera diserahkan kepada si kolonel.
Thi Binh semula berharap dirinya akan segera tertolong dengan adanya korban baru tersebut. Dia berharap bisa segera dibebaskan dari neraka jahanam itu. Namun nasibnya ternyata sangat malang. Wakil komandan pasukan itu, seorang tentara buncit berpangkat mayor, sudah sejak awal menaruh minat yang amat sangat pada Thi Binh. Semasa gadis itu masih dipakai si kolonel, seringkali si mayor diam-diam mengintip Thi Binh saat mandi di belakang barak.
Di belakang barak……

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s