Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 613)

Di belakang barak si kolonel ada sebuah kamar mandi darurat yang airnya dialirkan dari bukit –bukit batu tak jauh dari belakang barak dengan slang bambu. Kamar mandi itu merupakan tempat para perwira mandi. Kalau prajurit yang lain mandinya ke sungai semua. Kamar mandi tersebut didinding dengan papan kasar. Jadilah dia dinding apa adanya.
Papan seperti itulah yang dibuat untuk dinding seluruh barak dan kamar mandi perwira. Tentu saja ada bahagian – bahagian yang tak begitu rapat. Dari celah dinding itulah si mayor sering ngintip bila Thi Binh atau wanita – wanita lainnya mandi. Wanita – wanita itu, semuanya, termasuk Thi Binh, memang tak terbiasa memakai kain basahan ketika mandi. Hal itu amat membuat si mayor bersuka cita.
Kini, setelah si kolonel mendapat mainan baru, si besar pinggul yang baru datang itu, Thi Binh se¬gera diantarkan seorang sersan ke barak si mayor. Di sini gadis itu harus menderita selama sepuluh hari. Saat si kolonel selesai dengan gadis berpinggul besar itu, dia lalu menyerahkan pada si mayor agak empat atau lima hari, kemudian ditempatkan di barak seorang kapten.
Setelah para perwira menikmati tubuhnya, pada bulan kedua Thi Binh baru diantar ke barak dimana belasan wanita lain sudah sejak lama disekap. Thi Binh tak tahu, mana neraka yang lebih jahanam antara barak perwira atau di barak umum ini. Para prajurit datang silih berganti. Kadang – kadang sehari dia dipaksa melayani empat sampai tujuh prajurit. Dan tiga bulan di barak umum itu, akhirnya dia diserang spilis.
Di tubuhnya, termasuk di bibirnya, muncul kudis yang mengeluarkan nanah yang baunya amat menusuk. Dia segera dikembalikan kepada ayahnya di kampung, dan hanya beberapa hari di kampung, lelaki dari Indonesia yang bernama Bungsu itu muncul bersama Han Doi.
—o0o—
SI BUNGSU terkejut melihat tubuh Thi Binh menggigil. Roxy yang tegak tak jauh dari si Bungsu juga kaget melihat betapa tubuh gadis yang sering dibuatnya cemburu itu menggigil hebat, sementara matanya menatap lurus ke depan. Si Bungsu menoleh ke arah yang ditatap Thin Binh. Dia yakin, gadis itu menatap kolonel yang mondar-mandir di depan belasan pasukannya di tengah lapangan, di depan barak-barak sana.
Si Bungsu melihat Thi Binh tiba-tiba mengangkat bedilnya. Namun sebelum bedil itu meledak, si Bungsu perlahan memegang lengan gadis itu. Kemudian memegang bedilnya. Dia menggeleng, memberi isyarat agar jangan terburu-buru.
“Belum sekarang Thi-thi. Kita semua akan terbunuh jika engkau meletuskan sebuah peluru saat ini. Lagi pula, peluru bedilmu takkan mencapai perwira di tengah lapangan sana. Kalaupun sampai pasti hanya sekedar melukai, takkan mematikan. Sabarlah, sebentar lagi. Jika belasan tentara yang tadi berangkat sudah dihadang pasukan Kolonel MacMahon, kita akan menyerbu mereka yang di depan sana. Engkau boleh membunuh mereka. Membalas dendammu…” bisik si Bungsu perlahan.
Thi Binh menurunkan bedilnya. Matanya basah, dadanya berombak menahan bara dendam. Roxy yang tegak di samping kiri si Bungsu kini bisa menerka apa yang sudah terjadi pada diri Thi Binh. Diam-diam dia tak hanya merasa menyesal membuat gadis itu keki, tapi juga merasa kasihan pada nasibnya. Perlahan dia menggeser tegak melewati si Bungsu, mendekati Thi Binh.
Gadis yang didekati itu kembali mendelikkan mata melihat orang yang dianggapnya perempuan gatal ini mendekati dirinya. Hatinya sudah sejak tadi bengkak melihat si gatal ini lengket terus di dekat si Bungsu. Kayak perangko dengan amplop saja. Akan halnya Roxy, yang memang jauh lebih dewasa dibanding Thi Binh yang berusia lima belas tahun itu, tak lagi berminat memperuncing suasana.
Biasanya dipelototi seperti itu, dia akan membalas dengan cengar-cengir dan malah semakin mendekati si Bungsu. Namun kali ini, dia mendekati ‘saingannya’ itu dengan wajah jernih.
“Maafkan jika tadi saya menyakiti hatimu. Nasib buruk yang menimpa dirimu terlebih dahulu menimpa diriku dan teman-temanku yang lain, yang mereka sekap dalam goa di bukit cadas itu. Bedanya, karena kalian anak negeri ini, kalian dipaksa menjadi pemuas nafsu mereka terus menerus. Sementara kami hanya dipakai saat-saat mereka perlukan. Kolonel laknat yang di depan sana, adalah orang yang menodai diriku untuk kali pertama. Kemudian bergantian perwira-perwira yang lain. Saya rasa hal itu juga engkau alami. Namun, nasib kita tak jauh berbeda adikku…” bisik Roxy perlahan sambil memegang bahu Thi Binh.
Mendengar cerita perawat Amerika yang semula amat dicemburuinya ini, yang mengalami nasib yang sama dengannya, hati Thi Binh tiba-tiba runtuh. Dia tak mampu menahan air mata dan menangis sesunggukan. Roxy memeluknya dengan lembut. Thi Binh menyandarkan kepalanya ke dada perawat itu, dan menumpahkan tangisnya di sana. Si Bungsu manarik nafas terharu dan gembira.
Terharu mendengar nasib yang juga menimpa Roxy. Gembira karena kedua wanita yang semula saling bermu suhan seperti kucing dengan tikus itu kini sudah akur, malah saling peluk. Dia bukannya tak tahu, Thi Binh marah pada Roxy karena merasa cemburu. Cemburu karena Roxy sengaja berpura-pura mendekatinya.
“Saya rasa sebentar…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s