Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 614)

“Saya rasa sebentar lagi pasukan tadi sudah akan sampai di tempat jebakan Kolonel MacMahon. Sebaiknya kita mendekati barak itu, serta mengatur strategi…” bisik si Bungsu pada Letnan Rodney Duval, anggota SEAL Amerika yang menyertainya.
“Anda yang memegang komando, Pak. Saya siap menerima perintah…” ujar Letnan Duval, yang disela matkan nyawanya oleh si Bungsu dalam pertarungan sekeluar dari goa sekapan pagi tadi.
Kata-kata yang dia ucapkan terjauh dari basa-basi. Sampai saat ini dia tak yakin lelaki ini bukan anggota tentara. Kemahiran yang dia miliki, melebihi pasukan SEAL, yang di Amerika sana sangat disegani oleh pasukan elit manapun. Diam-diam Duval yang saat di goa itu memang menganggap enteng lelaki Indonesia ini, kini berbalik menga-guminya.
Betapa dia takkan kagum, di goa itu saja lelaki ini sendirian menghabisi empat tentara Vietnam tanpa sebuah peluru pun. Padahal keempat tentara Vietnam itu memegang bedil yang siap memuntahkan peluru.
“Barak yang di tengah itu adalah gudang senjata. Kita akan mendekati barak itu. Saya akan menyelusup ke dalam. Barangkali saya bisa mengambil dua buah senapan mesin ringan. Kalian bertiga berjaga-jaga di luar. Jika ada yang mencurigakan, jangan membuang waktu. Tembak saja. Sekarang kita berangkat…” bisik Bungsu.
Namun dia terhenti saat teringat Thi Binh dan Roxy.
“Thi-thi, Roxy, ikut kami dari belakang. Hati-hati…” ujarnya.
Kedua gadis itu sama-sama mengangguk. Lalu mereka segera menyelusup di balik lindungan belantara, mendekati barak-barak tersebut. Si Bugsu berada di depan, menyusul Thi Binh dan Roxy. Di belakang sekali berada Letnan Duval.
“Kolonel itu bahagian saya. Dia harus merasakan pembalasan saya…” desis Thi Binh sambil menyelinap di balik sebatang pohon besar.
“Ya, jika pun saya yang berhasil menangkapnya, dia akan saya serahkan padamu, Thi-thi…” bisik Roxy yang berada di sisinya.
“Terimakasih, Roxy…” ujar Thi Binh dengan perasaan terharu, sambil menatap pada ‘bekas musuh’nya itu.
Kendati kedua wanita itu bicara berbisik, namun si Bungsu mendengarnya dengan jelas. Dia menarik nafas panjang, lega. Tiba-tiba hampir serentak langkah mereka terhenti dan masing-masing pada merunduk di tempat yang tersembunyi. Dari kejauhan mereka mendengar rentetan tembakan, sahut bersahut. Ke empat mereka tahu, suara tembakan itu berasal dari tempat di mana Kolonel MacMahon berada. Itu berarti pasukan Vietnam yang menyusul teman-teman mereka yang dihabisi rombongan Duc Thio, masuk pe-rangkap MacMahon.
“Sekarang giliran kita…” bisik si Bungsu sambil kembali bergerak maju, diikuti ke tiga anggota ‘pasukan’nya.
Dia berhenti di balik sebuah batu besar yang ditumbuhi pohon jenis beringin yang rindang. Kemudian menatap ke lapangan di tengah deretan tentara Vietnam, yang kini jaraknya dari tempat mereka hanya sekitar dua puluh depa. Dia memberi isyarat pada Duval, bahwa dia akan memasuki salah satu barak itu dari belakang, dan minta Duval mengawasinya. Kemudian dia mendekati tempat Thi Binh dan Roxy.
Dengan berbisik dia minta agar mereka tetap di tempatnya masing-masing. Setelah sekali lagi memperhatikan si kolonel di tengah lapangan sana, yang bersama belasan orang anggota pasukannya sedang menatap ke arah datangnya suara tembakan, si Bungsu mulai mendekati barak senjata yang malam tadi dia masuki. Dia harus merayap ketika melintasi sungai kecil dan dangkal lima depa dari barak.
Di bawah tatapan mata ketiga orang yang dia tinggalkan di belukar di belakangnya, si Bungsu segera mencapai barak tempat menyimpan senjata itu. Dia menyesal juga kenapa malam tadi tidak teringat mengambil senapan mesin ringan jenis bren yang di dalam barak itu ada tiga atau empat buah. Kini dia masuk dengan perasaan khawatir, kalau-kalau senapan mesin itu sudah diambil semua oleh tentara Vietnam dalam upaya memburu mereka.
Di bawah terik matahari dia segera membuka dua keping papan yang malam tadi memang sudah dia copot pakunya. Dia beruntung tak ada patroli. Sebahagian besar tentara Vietnam sudah disebar memburu mereka. Yang tinggal di barak tak menyangka samasekali kalau orang yang mereka buru justru hanya berada beberapa depa di belakang barak mereka.
Tambahan lagi kini perhatian mereka tertuju pada suara tembakan yang terdengar cukup jelas di perbukitan batu di bahagian barat sana. Ketika sudah berada di dalam barak, si Bungsu merasa lega.
Di sana masih ada..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s