Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 616)

Makin banyak tentara yang menyukai layanan mereka, makin banyak mereka mendapat kupon, itu berarti makin banyak pula mereka mendapat uang. Thi Binh tentu saja pernah mendapatkan kupon itu. Baik dari kolonel gaek itu, dan jumlahnya banyak sekali, dari mayor yang wakil komandan, maupun dari para prajurit. Namun tiap diserahkan tiap dirobeknya kupon tersebut.
Sampai akhirnya ada di antara wanita-wanita di barak itu yang meminta agar kupon itu jangan dirobek, tapi diberikan pada mereka. Mereka membutuhkan kupon itu, karena orang tua mereka adalah petani miskin. Jadi uang dari tukaran kupon amat berarti bagi mereka, untuk dibawa pulang ke kampung jika tiba saatnya dibebaskan. Saat gempuran melanda barak-barak, tak seorang pun tentara Vietnam yang berada di barak para wanita penghibur tersebut.
Sejak pagi tadi dibunyikan terompet bahaya. Semua personil segera berhamburan ke barak masing-masing. Memakai pakaian tempur dan mengambil senjata. Kemudian mereka segera dibagi dalam empat peleton besar, dan langsung menerima perintah memburu tawanan yang lolos itu ke empat penjuru. Sudah sejak pagi para wanita itu berada di bukit batu yang memisahkan barak mereka dengan barak yang dihuni para tentara.
Bukit itu biasanya tempat mereka menghibur diri bila sore hari. Karena dari sana bisa memandang ke arah barat dan bisa pula memandang ke bahagian belakang, ke sungai besar yang mengalirkan air amat jernih. Kini mereka menanti apa yang akan terjadi, kenapa para tentara tiba-tiba diperintahkan berkumpul seluruhnya? Mereka melihat para tentara itu bergegas menyusun barisan. Ada pula regu-regu kecil berkekuatan tujuh orang, yang menyisir wilayah hutan berbukit terjal di sekitar barak.
Saat terdengar suara tembakan dari kejauhan, wanita-wanita tersebut segera berlarian ke bukit batu di belakang barak mereka. Mereka melihat hanya belasan tentara yang berada di depan barak. Lalu juga melihat si kolonel mondar mandir di depan pasukan yang belasan itu, persis kereta api lansir. Hampir semua wanita itu mengenal kolonel gaek tersebut. Sebab hampir semua mereka dibawa ke kamp ini harus dipersembahkan terlebih dahulu kepada gaek kalera bernafsu badak itu.
Saat itulah tiba-tiba mereka mendengar sebuah ledakan, lalu tubuh kolonel badak itu lenyap dari pandangan bersama gumpalan asap dan kilatan api. Lalu tentara-tentara yang lain pada bertumbangan, lalu salah sebuah barak meledak dan dilemparkan ke udara menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Para wanita itu ternganga, ada yang menggigil. Namun, hati mereka sungguh-sungguh amat bersuka cita.
Mereka tak peduli pihak mana yang membunuh kolonel dan anak buahnya itu. Tak peduli apakah malaikat atau iblis. Yang penting semua tentara jahanam di barak ini mampus. Mereka sudah berbulan-bulan dijadikan budak pemuas nafsu tentara-tentara laknat tersebut. Bermacam perangai tentara itu yang harus mereka hadapi. Tak sedikit yang berpenyakit jiwa dalam memenuhi kebutuhannya terhadap perempuan.
Ada yang baru terpuaskan nafsunya setelah dia ber-hubungan sambil menyakiti si wanita. Meninju, menyepak, sampai tubuh si wanita babak belur. Ada yang lebih dari itu, yaitu yang suka menyayat-nyayat bahagian tertentu tubuh pasangannya dengan bayonet. Sayatannya memang tak dalam, sekedar luka bekas sayatan itu mengalirkan darah. Sambil berhubungan, si tentara akan menghisap dan menelan darah yang mengalir dari bahagian tubuh perem-puan itu.
Ada pula yang..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s