Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 617)

Ada pula yang sebaliknya, dia baru mencapai puncak kenikmatan bila dia yang disakiti. Dia akan meminta pada wanita pasangannya untuk mencambuknya dengan kopel, bahkan ada yang sengaja membawa potongan rotan sebesar empu kaki. Dia meminta si wanita memukuli punggung, pantat dan pahanya dengan rotan sampai lebam dan bilur-bilur. Dan semua pengalaman itu meninggalkan teror yang menyeramkan pada wanita-wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu setan tentara-tentara Vietkong itu.
Kini, melihat kolonel itu dan belasan anggo¬tanya mampus, sebahagian dari wanita-wanita yang melihat dari bukit batu itu pada bergegas turun. Mereka pada mengemasi pakaian dan barang-barang mereka. Mereka merasa waktu pembebasan bagi mereka sudah tiba. Derita yang tak tertanggungkan itu sudah akan berakhir. Namun sebahagian lagi tetap saja terduduk diam di tempatnya.
Menatap dengan mata tak berkedip ke lapangan di tengah barak di bawah sana. Menatap ke arah mayat yang bergelimpangan, ke arah barak yang hancur lebur. Menatap ke arah api yang marak di bekas barak yang hancur lebur itu. Kendati ada jarak sekitar seratus sampai dua ratus meter tempat mereka berada dengan barak-barak di bawah sana, namun karena tak ada satu pun yang menghalangi pan dangan, mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.
—o0o—
SI BUNGSU yang masih tegak di sebalik batu besar, tiba-tiba hatinya merasa tak enak. Dia amat yakin pada firasatnya. Dia menatap ke segala penjuru. Saat itu Duval juga sudah selesai menembaki tentara yang berada di lapangan di depan barak tersebut. Si Bungsu memberi isyarat agar mereka berdiam diri sesaat. Roxy, Duval dan Thi Binh lalu berjongkok di balik batu besar di dekat mereka.
Dengan bahasa isyarat si Bungsu menyuruh Duval kembali mengisi kedua howitzer yang baru ditembakkan Roxy dan Thi Binh. Saat Letnan Duval mengisi roket ke howitzer itu, si Bungsu berlutut dan mendekapkan telinganya ke tanah. Ketiga orang lainnya menatap dengan diam. Letnan Duval anggota SEAL yang juga ahli dalam peperangan belantara tahu bahwa lelaki dari Indonesia ini barangkali merasa ada pasukan lain mendekat mereka.
Dia yang juga punya keahlian untuk mende¬ngar dan membedakan gerakan manusia dan hewan melalui tanah, segera ikut mendekapkan telinganya ke tanah. Namun dia tak mendengar ada gerakan kaki manusia. Dia memang mendengar gerakan halus, tapi dia yakin gerakan itu ada¬lah langkah hewan, bukan manusia. Dengan keyakinan pada pendengarannya itu dia lalu duduk. Pada saat yang sama si Bungsu juga telah duduk.
“Kau mendengar sesuatu, Duval?” bisik si Bungsu.
Duval menggeleng. Si Bungsu memberi isyarat pada Roxy dan Thi Binh, agar keduanya bergerak perlahan ke balik sebuah batu besar yang agak melengkung. Sehingga mereka aman dari tiga sisi. Kedua gadis itu, dengan membawa senapan masing-masing, bergerak dengan membungkuk-bungkuk ke tempat yang ditunjukkan si Bungsu. Tempat itu hanya beberapa depa dari tempat si Bungsu dan Duval. Jarak yang masih memungkinkan si Bungsu berkomunikasi dengan berbisik kepada dua gadis tersebut. Si Bungsu kembali menatap pada Duval. Kemudian pada Roxy dan Thi Binh.
“Kita kini terkepung. Ada sekitar tiga puluh tentara Vietnam yang berpencar di sekitar kita dalam jarak antara lima puluh sampai tiga puluh meter…” bisik si Bungsu.
Duval ternganga. Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu bukan lelaki tangguh yang diam-diam dia kagumi ini, pasti dia takkan percaya. Bagaimana dia akan percaya, kalau dia yang juga dikenal sangat mahir melacak jejak dan mendengar gerakan di tanah dan tak mendengar apapun. Lalu tiba-tiba lelaki ini mengatakan ada tiga puluh tentara yang mengepung mereka?
“Engkau tak mendengar langkah mereka karena mereka memang tak sedang melangkah, Duval. Beberapa detik sebelum kita mendekapkan telinga ke tanah untuk men dengar langkah mereka, mereka sudah berhenti bergerak. Mereka sudah berada di posisi masing-masing. Dan menunggu saat kita bergerak dan lengah…” bisik si Bungsu, sembari matanya seperti mata elang, menyambar ke kiri dan ke kanan, mengawasi tiap pohon dan bebatuan besar di depan dan di samping mereka.
Duval kembali merasa terkejut dengan kemampuan daya fikir lelaki di hadapannya ini. Yang mampu membaca fikirannya, bahwa dia tak mendengar apapun saat men-dekapkan telinganya ke tanah. Namun fikiran dan keheningan belantara itu tiba-tiba dirobek oleh serentetan tembakan. Batu di dekat telinga Duval beserpihan diterkam peluru. Begitu pula pohon besar di dekat kepala si Bungsu dihantam belasan peluru.
Si Bungsu menggeser diri ke arah kanan, sehingga dirinya benar-benar terlindung dari arah datangnya tembakan. Demikian juga Duval. Mujur bagi Roxy dan Thi Binh, mereka sudah berada di tempat yang benar-benar tak mampu ditembus peluru. Kalau saja mereka masih berada di tempatnya sebelum disuruh pindah oleh si Bungsu, mereka pasti sudah menjadi mayat. Keempat mereka duduk di tanah, bersandar ke batu atau pohon di belakang mereka.
Namun dari tempat ..

2 Comments

  1. ayo bang diterusin ceritanya….kelanjutan cerita no 15 kenapa berhentin bang…?
    kalo dpt diterusin jg yg 15 nya biar tdk terputus2.terima kasih lebih dulu,,,

    • sebelumnya saya minta maaf karena belum bisa mengunggah kelanjutan cerita tikam samurai no 15, dikarenakan keterbatasan sumber.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s