Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 619)

Namun naluri si Bungsu berkata lain. Ada sesuatu yang sedang bergerak mendekati tempat mereka. Dan datangnya justru dari arah barak-barak! Dia menatap keliling. Dia yakin, sosok yang datang itu tidak menuju ke tempatnya.
Bulu tengkuknya merinding, ketika mengetahui bahwa sosok yang datang itu justru sudah berada tak begitu jauh dari tempat Roxy dan Thi Binh! Dia segera memberi isyarat ke arah kedua gadis itu. Celaka, kedua orang itu justru sedang sibuk mengisi magazin senjata mereka. Si Bungsu tak melihat kemungkinan Duval yang berada agak dekat dengan kedua gadis itu untuk menolong.
Sebab tempat kedua gadis itu berlindung justru cukup tinggi, sementara tempat berlindung Duval lebih rendah. Artinya, jika orang menyerang dari belakang kedua gadis itu, Duval tak hanya tak dapat melihat, juga tak dapat memberikan bantuan. Dia ambil sebuah batu, dia lemparkan ke arah Thi Binh. Untung kedua mereka menoleh ke arahnya. Karena tempatnya sudah agak jauh dari kedua gadis itu, dia tak mungkin lagi berbisik.
Si Bungsu lalu memberi isyarat, bahwa ada bahaya mengancam dari belakang mereka. Namun terlambat sudah, saat itu dua orang tentara sudah muncul dari balik sebatang pohon, yang tak kelihatan dari tempat si Bungsu. Kedua tentara itu adalah yang tadi selamat dari tembakan senapan mesin mereka saat berada di depan barak-barak sana. Tubuh mereka terlindung oleh barak lain yang tak hancur.
Saat peluu howitzer meluluhlantakkan barak, mereka tiarap diam di tanah. Lalu, tak lama kemudian ketika mereka mendengar suara pertempuran, mereka segera merayap ke belakang barak. Mereka memang datang dari arah yang tepat, yaitu dari belakang perlindungan Roxy dan Thi Binh. Kini keduanya muncul dengan senjata siap ditembakkan! Pada saat yang teramat kritis itu, untunglah Roxy cepat bereaksi.
Belum lagi isyarat si Bungsu berakhir, dia sudah faham bahaya yang akan muncul. Dia menolehkan kepala ke belakang, persis saat kedua tentara Vietnam itu membidikkan bedilnya ke arah mereka. Roxy yang masih memegang senapan mesin ringan bergerak cepat. Karena tak mungkin mendorong tubuh Thi Binh untuk menyelamatkan gadis itu dari sasaran tembak, dia menghamburi saja tubuh gadis Vietnam itu sambil menembakkan pula senapan mesinnya!
Rentetan tembakan dari tiga bedil, dua bedil tentara Vietnam dan bedil di tangan Roxy, menyalak hanya dalam batasan sepersekian detik. Gerakan Roxy menghamburi tubuh Thi Binh yang sedang menghadap ke si Bungsu dan membelakangi si penembak, memang tepat pada waktunya. Begitu juga tembakan senapan mesinnya. Thi Binh selamat dari terkaman peluru.
Kedua tentara Vietkong itu terjungkal dengan dada dan perut hancur diterkam peluru senapan mesin Roxy. Namun pada saat yang sama, tubuh Roxy juga terpental dihantam peluru! Thi Binh yang tadi tubuhnya ditubruk Roxy, jatuh, terpelanting sedepa ke kanan. Namun karena itulah nyawanya selamat. Sebagai gantinya, yang kena tembakan justru Roxy! Thi Binh yang sadar bahwa nyawanya diselamatkan ‘bekas musuh’nya itu memekik.
Dia menghambur memeluk tubuh Roxy yang tertelungkup tak bergerak. Si Bungsu tak sempat lagi memberi isyarat kepada Duval untuk melindungi dirinya. Dia segera berlari meliuk-liuk ke tempat Roxy dan Thi Binh. Dirinya segera menjadi sasaran tembakan puluhan tentara Vietnam yang mengepung mereka. Namun, kendati tak diberi tahu, sebagai seorang prajurit Duval faham apa yang menjadi tugasnya.
Begitu melihat si Bungsu lari ke arah berlindungnya Roxy, dia segera bangkit dan senapan mesinnya menyalak. Dia siram berbagai tempat yang tadi merupakan sumber tambakan tentara Vietnam. Tembakan senapan mesinnya membuat tentara – tentara Vietnam yang membidik si Bungsu harus kembali menarik kepala mereka dari tempat pe ngintaian.
Mereka membatalkan niat untuk menembak, dan si Bungsu pun selamat sampai ke tempat Roxy dan Thi Binh. Thi Binh didapatinya sedang menangis dan memeluk kepala Roxy. Sementara perawat Amerika itu tubuhnya berlumur darah, dan matanya terpejam.
“O… Tuhan… tidak! Tidak, jangan ambil nyawanya…!” isak Thi Binh.
Tubuh Roxy tidak lagi begerak.
“Roxy… Roxy, bangunlah, please…!” isaknya sambil mengusap wajah Roxy berkali – kali.
Si Bungsu tertegak tiga langkah dari tubuh kedua gadis itu. Matanya menatap dua tubuh tentara Vietnam yang terburai isi dadanya diterjang peluru Roxy. Dia menunduk. Thi Binh menatapnya sambil tetap memeluk kepala Roxy.
“Oh Tuhan, dia jadikan dirinya tameng untuk menye lamatkan nyawaku. Hidupkan dia kembali Bungsu… hidupkan dia kembali!. Tolonglah…” ratap Thi Binh.
Sebelah tangannya meraih tangan si Bungsu, sementara tangan yang sebelah lagi tetap memeluk kepala Roxy. Si Bungsu memegang pergelangan tangan Roxy beberapa saat. Kemudian meraba nadi lehernya. Membalikkan tubuh perawat itu. Melihat di punggungnya ada lobang berlumur darah sejajar dengan lobang di dadanya. Dia tahu, peluru menembus dada kanan gadis ini, tidak bersarang di dalam, sehingga tidak memerlukan ope¬rasi. Mungkin masih ada harapan, bisiknya sambil mengeluarkan dompetnya. Mengeluarkan plastik berisi serbuk yang pernah dia pergunakan untuk mengobati Thi Binh.
Celaka, isinya ternyata hanya tinggal sedikit. Tapi dia berharap cukup untuk sekadar mengobati luka Roxy.
“Baringkan tubuhnya datar di tanah. Jika engkau ingin dia selamat Thi-thi, engkau harus menjaga kami dengan senapan mesinmu. Bantu Duval menghadang serangan yang bisa datang secara mendadak, sementara aku mencoba menyelamatkan nyawa Roxy…” ujar si Bungsu.
Thi Binh segera faham apa yang diinginkan si Bungsu. Dia segera membaringkan tubuh Roxy tertelentang datar di tanah. Kemudian dia ambil senapan mesin yang tadi dipakai Roxy.
“Saya akan menjaga kalian, tapi berjanjilah bahwa engkau akan menyelamatkan nyawanya…” ujar Thi Binh dengan nada berharap sebelum berdiri.
Si Bungsu tersenyum, lalu mengangguk. Thi Binh berdiri, meletakkan ke atas batu senapan mesin ringan yang tadi dipergunakan Roxy, kemudian menembaki beberapa sasaran di depan sana. Belukar yang terdapat di bawah sebuah pohon besar. Di balik-balik batu besar. Cecaran tembakannya ternyata menelan dua nyawa, seorang tentara Vietnam yang berada di bawah pohon besar itu bergerak akan pindah ke bahagian depan, ke tempat yang lebih dekat dengan orang yang mereka kepung.
Thi Binh sebenarnya tak menampak sosok tentara itu. Dia hanya menghajar beberapa tempat dengan tembakan membabi buta. Dua peluru bren yang ditembakkan Thi Binh menghajar dada dan lehernya. Tentara itu terjungkal dan mati tanpa sempat memekik. Yang seorang lagi adalah yang berada di balik sebuah batu besar. Sejak tadi dia sudah mengintai Letnan Duval. Dan kesempatan baginya terbuka saat Duval memandang ke arah batu di mana Roxy dan Thi Binh berada.
Dia menoleh..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s