Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 620)

Dia menoleh ke sana setelah si Bungsu sampai ke tempat kedua gadis tersebut. Kesempatan saat dia menoleh itulah yang dimanfaatkan oleh tentara Vietnam di balik batu. Sekitar lima puluh meter dari tempat Duval. Dia mencogokkan kepalanya di atas batu, kemudian membidik. Namun saat itu pula peluru Thi Binh yang menerjang membabi buta menyiram batu tempat tentara itu berlindung.
Mula-mula yang dihajar peluru hanya bahagian bawah batu. Si tentara yang sudah menarik kepalanya karena khawatir kena tembak segera mencogokkan lagi wajahnya di atas batu tersebut. Namun saat itu pulalah ujung bedil senapan Thi Binh mengarah sedikit ke atas. Dan dua peluru menghajar jidat tentara tersebut, persis di bawah garis topi waja yang dia pakai. Kepala tentara itu seperti ditendang palu besar. Terdongak dan tubuhnya tercampak ke belakang.
Dua kawannya yang berlindung di balik batu yang sama, terkejut dan menyumpah melihat kawannya yang mati dengan kening berlobang itu. Thi Binh berhenti menembak setelah Duval berteriak agar menghemat peluru. Thi Binh menarik nafas. Kemudian menurunkan bedilnya dari bahu. Dia duduk di samping si Bungsu yang tengah mengobati luka di dada Roxy. Baju perawat Amerika itu dirobek si Bungsu di tentang luka.
Bubuk obatnya yang tinggal sedikit dia campur dengan mesiu. Untuk memperoleh mesiu, dia mengambil sebuah peluru dari bedilnya. Kemudian menggigit timah bercampur tembaga runcing di bahagian ujung peluru. Dia tanggalkan ujung peluru itu dari selosongnya yang berisi mesiu. Mesiu itu dia tuangkan ke sehelai daun. Kemudian dicampur dengan bubuk obat dari dompetnya yang tinggal sedikit.
Karena tak ada air, dia mengaduk bubuk obat dan bubuk mesiu itu dengan air ludahnya. Lalu dia masukkan ke luka di dada Roxy. Kemudian dia robek kedua lengan bajunya. Robekan dua lengan baju itu dia lilitkan ke bahagian atas pangkal dada Roxy yang luka. Dengan demikian luka itu selain sudah diobati sekaligus juga sudah diperban. Thi Binh menatap apa yang dilakukan si Bungsu dengan diam. Setelah pekerjaan selesai, si Bungsu menghapus peluh di wajahnya. Kemudian menatap Thi Binh.
“Engkau ingin dia selamat, nah kini nyawanya sudah saya selamatkan….” ujar si Bungsu perlahan.
Thi Binh menatap wajah Roxy yang mulai merona kemerah-merahan. Lalu dihapuskannya keringat dingin yang memenuhi wajah perawat Amerika tersebut dengan telapak tangannya.
“Berapa orang tentara yang kau bunuh dengan tem bakanmu sebentar ini?” tanya si Bungsu.
“Tak seorangpun…” jawab Thi Binh perlahan.
“Tembakanmu membunuh dua orang tentara Thi-thi…” ujar si Bungsu sambil tersenyum.
Thi Binh menatap tak percaya. Si Bungsu mengangguk.
“Engkau tak mendengar teriakan mereka, karena pendengaranmu terhalang oleh bunyi tembakan…”
“Engkau yakin..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s