Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 621)

“Engkau yakin aku membunuh dua orang tentara?” tanya Thi Binh dalam nada tak percaya.
Si Bungsu mengangguk.
“Bagaimana engkau mengetahuinya?”
Si Bungsu hanya tersenyum. Dan Thi Binh se¬gera menyadari bahwa lelaki ini memiliki indera keenam yang amat tajam. Indera keenam yang amat tajam itu pula yang kini menyebabkan si Bungsu tiba-tiba mendongakkan kepala. Dia memandang keliling. Kemudian membungkuk, lalu men-dekapkan kepala ke tanah. Wajahnya menjadi tegang. Namun ketika bangkit, wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun. Datar dan dingin.
Saat itu Roxy membuka mata. Matanya na¬nap menatap Thi Binh. Dan Thi Binh segera memeluknya.
“Kudengar semua ucapanmu beberapa saat sebelum aku pingsan Thi-thi. Terimakasih engkau sangat mengkhawatirkan nyawaku…” ujarnya perlahan.
“Thi-thi jaga dia. Saya akan ke tempat Duval…” ujar si Bungsu.
Ketika si Bungsu beranjak. Thi Binh meraih senapan mesin ringan ke dekat dirinya. Kemudian dia menatap pada Roxy.
“Maukah engkau menjadi kakakku?” bisiknya.
Roxy menatap gadis Vietnam itu. Kemudian di antara air matanya yang mengalir, dipeluknya Thi Binh erat-erat. Thi Binh juga tak mampu menahan air matanya.
“Aku tak punya saudara Thi-thi. Tidak ada abang dan tidak ada adik. Aku anak tunggal. Aku bahagia jika engkau mau jadi adikku, Thi-thi…” bisik Roxy.
“Terimakasih, Kakak. Terimakasih…” ujar Thi-thi di antara isaknya, yang tak mampu dia tahan karena terharu dan bahagia.
Si Bungsu dengan cepat menyelinap ke tempat Duval. Dia bersandar ke sebuah batu, di antara bebatuan besar yang dijadikan Duval sebagai tempat bertahan.
“Bagaimana Roxy?” tanya Duval saat lelaki dari Indonesia itu duduk di sampingnya, sambil matanya terus mengawasi tempat-tempat yang dipergunakan tentara Vietnam me ngepung mereka.
“Tertembak dadanya. Sudah saya obati. Sekarang sudah sadar. Kita harus segera menyingkir dari sini. Peleton lain sedang menuju kemari…” ujar si Bungsu.
Letnan Duval menatap ke arahnya sejenak. Kemudian matanya kembali mengawasi semak pohon dan bebatuan antara lima puluh sampai seratus meter di depan sana.
“Berapa orang mereka?” tanya Duval.
“Antara sepuluh sampai dua puluh orang….”
“Masih berapa jauh?”
“Hanya sekitar sepuluh menit lagi…”
Letnan Duval kembali menatap ke arah si Bungsu.
“Berapa besar kemungkinan kita bisa lolos?” ujarnya.
“Seratus persen…” jawab si Bungsu.
Letnan dari SEAL itu menatap tepat-tepat kepada si Bungsu.
“Engkau bawa Roxy dan Thi Binh melewati jalur kanan, tetap menempuh arah matahari terbit. Sekitar setengah jam kalian akan bertemu de¬ngan kolonel MacMahon. Saya akan menghadang mereka habis-habisan di sini…”
“Saya membawa kedua gadis itu, dan engkau bertahan di sini sendirian?” desis Duval.
“Engkau mempunyai gagasan yang lebih baik?”
“Jauh lebih baik dari gagasanmu, Pak…” ujar Duval.
“Ceritakanlah…”
“Kita bertukar tempat…”
“Maksudmu?”
“Aku yang bertahan di sini. Engkau yang membawa kedua gadis itu…” ujar Duval sambil menatap pada si Bungsu.
Si Bungsu menarik nafas. Dia yakin, tawaran Duval bukan karena letnan itu tak yakin pada kemampuannya untuk bertahan. Tawaran itu semata-mata karena rasa tang-gungjawab.
“Terimakasih, Anda..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s