Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 623)

Saya akan menahan mereka di sini. Dan jangan khawatirkan saya. Begitu kalian selamat, saya dengan mudah bisa meloloskan diri menyusul kalian…” ujar si Bungsu. “Saya akan tinggal bersamamu…!” ujar Thi Binh berkukuh dengan mata mulai berkaca-kaca.
Si Bungsu memeluk Thi Binh.
“Dengarkan, Thi-thi. Kemarin engkau juga saya tinggal ketika saya dan pamanmu pergi mencari tempat Roxy disekap. Saya janjikan bahwa saya akan bergabung kembali dengan kalian. Janji itu saya tepati bukan?”
Thi Binh hanya berdiam diri sambil memeluk si Bungsu erat-erat. Roxy menatap kedua orang itu dengan diam dari tempat dia bersandar.
“Aku juga menjanjikan padamu, bahwa eng¬kau akan mendapat kesempatan membalaskan dendammu pada tentara Vietnam di barak-barak sana. Janji itu juga kutepati, bukan?”
“Aku tinggal bersamamu…” bisik Thi Binh dari dalam pelukan si Bungsu.
“Ini masalah hidup dan mati kita semua. Kalian harus berangkat. Jika tidak kita semua akan terbunuh. Termasuk ayah dan pamanmu. Oke, kalian hanya membawa sebuah senjata. Tinggalkan yang tiga buah di sini. Termasuk howitzer. Tapi sebelum berangkat, kita hujani mereka dengan tembakan sesaat. Oke, ambil posisi masing-ma¬sing…” ujar si Bungsu.
“Tidakkah aku boleh tinggal bersamamu?” bisik Thi Binh sesaat sebelum melepas pelukannya dari tubuh si Bungsu.
“Untuk mencintaiku engkau harus tetap hidup Thi-thi. Dan untuk mencintaimu, aku juga harus tetap hidup. Untuk bisa hidup, kau ikuti petunjukku. Aku akan segera menyusulmu, oke…?” ucapannya diputus oleh ciuman Thi Binh di bibirnya.
“Aku akan bunuh diri jika engkau tak kembali padaku…” ujar Thi Binh sambil menyambar senapan mesin yang tadi dipakai Roxy.
Roxy yang sejak tadi hanya menatap dengan diam semua apa yang dilakukan Thi Binh, bangkit perlahan. Dia mengambil senapan mesin yang sebuah lagi. Lalu tegak mencari posisi. Begitu juga Duval. Mereka menanti beberapa saat. Ketika semua sudah siap dengan senjata masing-masing, si Bungsu kembali memberikan petunjuk singkat.
“Duval, bawa senapan yang dipegang Roxy. Senapanmu dan juga senapan mesinmu Thi-thi, tinggalkan di batu di mana kini kalian berada. Jika saya beri isyarat, hentikan menembak, tinggalkan senapan kalian dan berangkat segera. Menyelusup secepat yang kalian bisa memudiki sungai di belakang pertahanan kita ini. Kini, tembak…!!” seru si Bungsu.
Mereka lalu mencecar sasaran masing-ma¬sing dengan tembakan-tembakan beruntun pendek. Lalu si Bungsu memberi isyarat, sambil bedilnya tetap memuntahkan peluru. Yang pertama ber¬gerak adalah Duval. Setelah meletakkan senjata¬nya, dia menyambar senjata Roxy. Kemudian ber¬gerak ke belakang batu. Orang kedua yang ber¬gerak adalah Roxy. Kemudian Thi Binh.
Namun gadis itu masih menyempatkan diri untuk memeluk si Bungsu dengan erat dan menciumnya beberapa saat sebelum dia juga berlari mengikuti langkah Duval dan Roxy. Duval menanti di balik batu di tebing sungai
“Mana Roxy?” bisik Thi Binh sambil menuruni tebing sungai. “Dia sudah duluan…” jawab Duval.
Padahal Roxy bersembunyi di balik batu tak jauh dari belakang si Bungsu. Begitu Thi binh lewat dan hilang di balik tikungan di dekat sungai. Roxy bergegas kembali ke tempat si Bungsu yang saat itu sedang menembak dengan senapan mesin yang di tinggalkan Thi Binh. Dari belakang dirangkulnya tubuh si Bungsu. Si Bungsu kaget separoh mati. Namun Roxy tak membari kesempatan.
Didekapnya…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s