Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 624)

Didekapnya lelaki dari Indonesia itu dengan erat. Kemudian bibirnya melumat bibir si Bungsu. Sebelum si Bungsu sadar apa yang terjadi. Roxy sudah melepaskan pelukannya. Kemudian gadis itu berkata cepat.
“Aku menyayangi Thi-thi. Aku tahu dia mencintaimu. Aku tak peduli engkau mencintainya atau tidak. Aku tahu apa yang kulakukan ini tak pantas, apalagi mengingat aku dan Thi-thi sudah saling mengakui sebagai saudara. Namun tak seorang pun yang bisa meramalkan apa nasib yang akan menimpa kita sebentar lagi. Sesal akan kubawa mati, jika aku tak menyampaikan padamu bahwa aku mencinatimu. Mungkin terdengar konyol dan bodoh. Kenal pun kita baru sehari. Tapi aku mencintaimu Bungsu…!”
Demikian cepat kata-kata itu dia ucapkan. Sehabis berkata dia segera berbalik. Kemudian bergegas menyelinap menyusul Duval dan Thi Binh. Sebuah tembakan yang mendesing dekat te¬linganya menyentakkan si Bungsu dari rasa ka¬get dan keterpanaan atas apa yang baru saja terjadi. Dia cepat berbalik. Kemudian dia pindah di tempat dimana tadi Duval berada. Diambilnya senapan yang ditinggalkan letnan SEAL tersebut. Kemudian dia menembak ke arah tembakan yang nyaris saja menghantam telinganya.
Sebuah pekik terdengar dari balik sebuah pohon besar, sekitar lima puluh meter di depannya. Kemudian sepi. Si Bungsu beralih tegak ke tempat senapan mesin ringan yang ditinggalkan Thi Binh. Dia menembak ke tempat tempat yang firasatnya mengatakan ada Vietnam di baliknya. Dengan tem bakan senapan yang berbeda dari tempat yang berbeda pula, si Bungsu berhasil memperdaya tentara Vietnam yang me ngepung itu. Mereka menyangka di balik batu itu tetap berada empat orang dengan senjata yang memiliki persedia an peluru yang lebih dari cukup. Tak seorang pundari mereka yang be rani bergerak mendekat. Padahal setelah menghitung peluru yang tersisa, si Bungsu yakin hanya keajaiban yang bisa me nyelamatkan dirinya jika Vietnam-Vietnam itu menyerang serentak. Si Bungsu dan ketiga orang yang sudah menyingkir itu kebetulan mendapatkan tempat perlindungan yang amat tangguh. Tempat itu berupa batu-batu besar yang tersusun sedemikian rupa, membentuk setengah lingkaran. Ada celah-celah kecil dan bahagian-bahagian yang agak rendah di antara ujung yang mencuat tinggi. Kini celah kecil dan tempat kerendahan itulah yang dipakai si Bungsu sebagai tempat berlindung.
Peluru yang ditembakkan tentara Vietkong amat sulit untuk memasuki celah kecil itu. Satu-satunya tempat menyerang yang ampuh adalah dari belakang. Hal itu tadi sudah dicoba oleh dua tentara Vietkong yang datang dari barak, tapi keduanya mati ditembak Roxy. Si Bungsu kembali menghitung peluru yang ada di tiga senjata yang ditinggalkan untuknya. Dia menarik nafas. Jika dia bertempur terus, paling-paling dia hanya bisa bertahan sepuluh menit.
Semua pelurunya akan habis. Satu-satunya yang akan tinggal adalah dua peluru howitzer. Dia berharap bisa menipu tentara Vietkong itu dalam waktu cukup lama, agar Duval dan rombongannya bisa mencapai tempat Kolonel Mac Mahon. Dalam situasi seperti itu, detik demi detik terasa merangkak amat cepat. Seolah-olah tak ada waktu bagi Duval dan rombongannya untuk bisa ber¬gerak cukup jauh.
Dia menatap unggukan batu besar yang se¬perti berlapis-lapis ke atas. Seolah-olah peti yang diletakkan bersusun setinggi lebih kurang sepuluh meter. Dia tatap batu besar yang memanjang sekitar lima puluh depa itu. Dia membidik ke salah satu celah pada batu tersebut. Menembakkan serentetan peluru senapan mesin. Dia yakini tembakannya tak mengenai siapapun di balik batu itu.
Diletakkannya senapan, lalu mendekapkan telinganya ke tanah. Memejamkan mata dan memasang indera secermat mungkin. Pendengarannya yang amat terlatih meng isyaratkan bahwa di balik batu besar itu paling tidak berlindung sepuluh ten¬tara Vietnam. Tempat itu memang amat startegis. Dengan keyakinan demikian dia ambil howitzer, dia masukkan roket ke dalam tabungnya. Kemudian membidikkan senjata anti-tank yang kini ada di tangannya.
Matanya menatap ke arah susunan batu-batu besar yang tingkat bertingkat itu. Diletakkannya howitzer yang tadi sudah dibidikkan. Kemudian dia ambil howitzer yang sebuah lagi dan mengisikan roket terakhir ke howitzer tersebut.
Kini kedua…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s