Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 625)

Kini kedua…senjata penghancur tank itu sudah terisi. Dia kembali membidik bahagian tengah batu bersusun itu.
Lalu di tariknya pelatuk roket kecil itu. Dengan mendesis peluru howitzer itu meluncur. Hanya setengah detik setelah peluru meluncur, dia meletakkan howitzer kosong itu dan segera menyambar howitzer yang satu lagi. Dengan gerakan amat cepat, dia membidik tempat berdekatan dengan sasaran pertama. Dan kembali menembak! Dua peluru howitzer menghantam batu besar berlapis itu.
Akibatnya sungguh luar biasa. Batu besar itu seperti diterjang sepuluh gajah. Bahagian yang terkena hantaman roket howitzer berserpihan. Namun akibat dorongan roket itu menyebabkan batu-batu besar itu terdorong ke belakang dan… runtuh dengan dengan suara menggelegar ke bawah. Hal itu memang sesuatu yang amat di luar dugaan komandan pasukan Vietkong yang berlindung di bawah batu – batu besar tersebut.
Semula, dari balik celah batu perlindungan mereka hanya menatap dengan diam jejak asap memanjang ke arah batu-batu besar di atas perlindungan mereka. Mereka hanya sedikit terkejut mengetahui bahwa orang yang mereka kepung ternyata memiliki howitzer. Namun rasa terkejut yang sedikit itu segera berubah menjadi pekik histeris, tatkala mereka mendengar ada suara guruh di atas kepala mereka. Ketika mereka melihat ke atas, tak ada lagi kejut yang bisa digambarkan.@
Ke Jilid VII
BATU besar, yang jaraknya sekitar enam atau tujuh meter di atas kepala mereka, sudah berguling dan melayang ke bawah. Akibatnya sungguh mengerikan. Di bawah batu-batu besar itu berlindung empat belas ten­tara yang baru saja datang. Semua mereka ditimpa batu-batu besar yang diterjang peluru howitzer itu. Sebuah getaran dahsyat, seperti gempa, terdengar ketika batu itu menimpa tanah, me remukkan tubuh-tubuh manusia yang berlin­dung di bawahnya. Tak ada yang sempat memekik, apalagi menye lamatkan diri.
Keempat belas tentara itu lumat dan terkubur di sana. Sementara tentara Vietnam lainnya, yang berada tak jauh dari tempat celaka itu menatap dengan mata mendelik dan tubuh menggigil. Mereka sudah terbiasa menyaksikan teman mereka yang mampus secara amat mengerikan, selama perang belasan tahun menghadapi tentara Amerika. Namun yang lumat seluruh tulang belulangnya, dan terkubur remuk seperti bubur di bawah himpitan batu seberat ratusan ribu ton, baru sekali ini mereka saksikan. Baru kali ini! Saking ngerinya, beberapa di antara mereka sampai terkencing-kencing di celana.
Setelah beberapa saat terdiam dicekam rasa kejut yang dahsyat, seorang kapten memerintahkan agar mereka menyerbu tentara Amerika yang sudah sejak tadi mereka kepung itu. Demikianlah, rasa takut dan kejut yang dahsyat menimbulkan amarah yang dahsyat pula. Mereka segera membuat formasi melingkari batu besar dari mana tembakan howitzer itu datang. Dengan formasi tapak kuda mereka mendekati pertahanan si Bungsu Makin lama kepungan dengan formasi tapak kuda itu semakin merapat. Dengan berlari dari satu perlindungan ke perlindungan yang ada di depan.
Sekitar dua puluh tentara Vietnam yang masih tersisa dalam pertempuran itu maju dengan bedil siap ditembakkan. Si kapten memberi isyarat pada enam anak buahnya untuk melingkar semakin jauh ke belakang tempat pertahanan tentara Amerika itu. Ketika ke enam tentara itu mulai bergerak, si kapten memberi isyarat untuk menembak secara serentak.
Tembakan gencar..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s