Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 626)

Tembakan gencar dari belasan orang itu dimak sudkannya sebagai pengalihan perhatian tentara Amerika yang sudah terkepung itu. Perhatian mereka pasti sudah tertuju kepada tembakan.
Ke enam tentara yang melambung ke bahagian belakang pertahanan si Bungsu sudah mencapai tepi sungai. Di bawah tembakan kamuflase teman-temannya, mereka segera merangsek maju. Mereka segera tiba persis di bahagian belakang pertahanan tentara Amerika tersebut. Yaitu tempat di mana tadi si Bungsu menembakkan dua peluru howitzer. Tempat di mana dua tentara Vietnam yang datang dari barak membokong Roxy dan Thi Binh, tapi keduanya ditembak mati oleh Roxy. Sambil maju tentara Vietnam itu menghujani perlindungan tersebut dengan tembakan gencar.
Mereka pun sampai ke tempat howitzer itu ditembakkan dan menyebabkan dua batu besar seberat puluhan ton di atas perlindungan teman-teman mereka tadi runtuh. Namun mereka hanya menemukan dua buah tabung howitzer, sebuah senapan mesin dan dua buah senapan semi oto­matis yang mirip dengan yang mereka pergunakan. Tak ada seorang pun di sana. Salah seorang di an­tara mereka segera memperhatikan jejak yang menuju ke su­ngai di belakang batu besar itu. Dia segera tahu, ada empat orang di sini tadinya. Kini ke empat mereka sudah meloloskan diri lewat sungai.
Dia lalu memberi isyarat kepada si kapten. Tembakan segera dihentikan. Dalam waktu singkat semua sisa tentara Vietnam itu sudah berkumpul di sana.
“Mereka belum sampai sepuluh menit meninggalkan tempat ini. Buru mereka…!” perintah si kapten.
Perintah itu tak perlu diulang sampai dua kali. Mereka segera berlarian menyusuri tebing sungai. Beberapa orang di antaranya masuk ke sungai itu, untuk melacak jejak. Dari jejak yang tertinggal menunjukkan bahwa ke empat orang Amerika itu, atau siapa pun mereka, memang menuju langsung ke arah hulu sungai dangkal berbatu ini. Jejak mereka jelas terlihat pada batu-batu besar yang mencuat di permukaan air. Si Bungsu memang mempergunakan kesempatan terkejutnya tentara Vietnam atas runtuhnya batu besar tersebut untuk meloloskan diri.
Semua senjata yang tinggal, kecuali senapan mesin ringan itu, sudah habis pelurunya. Senapan mesin ringan itu pun pelurunya hanya sekitar enam puluh buah, yang tersusun dalam bentuk rantai. Tadinya rantai peluru itu cukup panjang. Namun karena sudah dipakai terus, rantai peluru itu sudah demikian pendeknya. Tak sampai semeter. Jika ing­in selamat dia harus menghindar cepat dari sana. Tentu saja dia ingin selamat. Paling tidak dia ingin memastikan Thi Binh, Roxy dan tentara Amerika lainnya itu lolos. Namun si Bungsu hanya menuruti alur sungai tersebut sekitar dua ratus meter.
Setelah itu dia masuk ke hutan. Kemudian bergerak cepat serah matahari terbit. Dia harus cepat menyusul MacMahon. Ketika pertama menyelidiki barak tentara tadi, dia mem perkirakan jumlah tentara di sana sekitar 100 orang. Pasukan itu disebar pagi tadi untuk mengejar mereka ke berbagai arah. Namun hari sudah hampir sore. Kini pasukan yang mengejar itu tentu sudah dalam perjalanan pulang ke barak. Semua tentara yang kembali ke barak dipastikan akan ditugaskan memburu mereka. Ada perasaan tak sedap menjalar dalam hati si Bungsu saat menyelinap di hutan ke tempat di mana MacMahon bertahan.
—o0o—

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s