Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 628)

Namun tentara Amerika tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Kalau saja mereka tahu, bahwa daftar nama mereka disimpan oleh seorang komandan berpangkat kolonel, MacMahon pasti menugaskan pasukannya untuk mencari daftar itu di barak di bawah sana. Sebab mereka tahu, komandan barak yang menawan mereka ber pangkat kolonel. Hanya mereka tak tahu, si kolonel sudah jadi serpihan daging tak berbentuk, dihantam roket howitzer yang ditembakkan Thi Binh, yang lidah api dan asapnya baru saja mereka lihat membubung ke udara di kejauhan.
Ketika lobang kuburan usai ditimbun, dua potong kayu sebesar lengan kemudian diikat membentuk salib, ditancapkan di bahagian kepala. Tak ada pembacaan doa. Si Kolonel dan anggotanya membuat tanda salib dengan gerakan tangan pada tubuh mereka sebagaimana jamaknya dilakukan orang-orang Katolik. Sekali lagi si Kolonel memandang ke arah asap yang membubung di bawah sana. Mereka mendengar suara tembakan sayup – sayup. Mereka tahu, di sana sedang terjadi per tempuran.
“Kita berangkat menyusul rombongan pertama tadi…” ujar si kolonel sambil menatap pada Han Doi.
“Apakah kita tidak menunggu mereka yang di bawah sana?” tanya Han Doi.
“Kita tinggalkan pesan melalui tanda-tanda di pohon…” jawab si kolonel.
Han Doi masih tegak dengan ragu.
“Sudah berapa lama Anda mengenal lelaki dari Indonesia itu?” tanya MacMahon pada Han Doi.
“Baru sekitar satu bulan….”
“Apakah engkau yakin dia akan mampu memenangkan pertempuran di bawah sana?”
Han Doi tak segera bisa menjawab. Karenanya MacMahon melanjutkan.
“Saya baru mengenal tadi malam, saat dia muncul di goa tempat kami disekap. Kendati baru mengenalnya satu hari satu malam, namun saya yakin, lelaki tangguh itu akan memenangkan pertempuran di bawah sana. Dan dia akan membawa Letnan Duval dan kedua gadis itu menyusul kita…”
Han Doi menarik nafas. Dia juga yakin bahwa si Bungsu akan mampu memenangkan pertempuran itu. Mereka kemudian mengganti persenjataan dengan senjata otomatis milik dua puluh tentara Vietnam yang mati malang melintang di sekitar mereka. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Pada tempat-tempat tertentu, anggota SEAL yang ada di rombongan MacMahon membuat tanda-tanda khusus. Mereka menelusuri jalan yang tadi ditempuh rombongan Duc Thio. Yaitu rombongan pertama yang berjumlah 11 orang, empat di antaranya wanita, termasuk Helena. Anggota pasukan logistik yang sudah lama sakit di dalam tempat penyekapannya di goa sana.
Thi Binh, Roxy dan Duval yang sedang mene­robos belantara, setelah keluar dari sungai dangkal yang mereka mudiki sekitar seperempat jam, tiba-tiba pada terhenti. Mereka tegak mematung dengan perasaan tegang, terutama Thi Binh dan Roxy. Langkah mereka mendadak sontak terhenti karena mendengar dua ledakan dahsyat beruntun, disusul suara menggelar di bumi.
“Ledakan apa itu, granat?” desis Thi Binh de­ngan air mata mulai mengalir di pipinya.
Dia membayangkan tubuh si Bungsu hancur berkeping karena ledakan granat yang dilemparkan tentara Vietnam ke tempat pertahanan si Bungsu.
“Tidak. Itu ledakan peluru howitzer…” ujar Duval.
“Siapa yang menembak, siapa yang tertembak?” suara Thi Binh kembali mendesis dan menggigil.
“Si Bungsu yang menembak….”
“Tidak, tidak mungkin….”
“Dalam operasi di hutan, tentara tidak membawa peluncur roket, Nona….”
Duval yang faham benar seluk-beluk peperangan mencoba menjelaskan kepada Thi Binh. Penjelasannya bukan sekedar bujukan. Dia tahu benar, tentara Vietnam yang memburu mereka takkan membawa-bawa howitzer. Tank mana pula yang harus dihancurkan dengan howitzer di dalam belantara lebat ini? Thi Binh menatap letnan dan pasukan SEAL Amerika itu.
“Anda boleh yakin kepada penjelasan saya, Nona. Saya sudah terjun ke kancah peperangan selama lima belas tahun. Anda juga boleh yakin kepada saya, bahwa orang Indonesia itu terlalu tangguh untuk dikalahkan tentara Vietnam yang mengepung kita tadi…” tutur Duval.
Hati Thi Binh sedikit terhibur. Dia menatap pada Roxy. Roxy mendekat dan memeluk bahunya. Thi Binh balas memeluk perawat Amerika tersebut.
“Engkau sengaja bersembunyi, kemudian menemuinya sendirian, ketika kita mulai berangkat tadi, bukankah begitu, Kak?” bisik Thi Binh saat berada dalan pelukan Roxy.
Dug!
Jantung Roxy rasa mau copot mendengar pertanyaan yang amat tiba-tiba dan sangat tepat itu. Dia tak segera bisa memberikan jawaban. Dia sungguh tak tega melukai hati Thi Binh. Namun dia juga tak ingin berbohong.
“Engkau juga mencintainya, bukan?” kembali Thi Binh berbisik perlahan.
Dug lagi!
Jantung Roxy kembali hampir copot oleh pertanyaan yang amat langsung, amat terus terang dan amat tepat itu. Ibarat bermain catur, dia benar-benar mati langkah akibat pertanyaan-pertayaan yang dilontarkan Thi Binh. Thi Binh melepaskan pelukannya, kemudian menatap pada Roxy. Perawat Amerika itu tak bisa menjawab, bahkan hampir saja dia tak berani membalas tatapan mata Thi Binh.
“Dia memang lelaki yang pantas dicintai siapa saja…” ujar Thi Binh perlahan.
Suaranya demikian jernih, demikian datar dan demikian bersahabat. Tak ada nada menyindir sedikit pun. Tiba-tiba saja Roxy merasa demikian kecil di hadapan gadis kecil ini. Dia raih kembali gadis itu ke dalam pelukannya.
“Ya, aku bersembunyi ketika engkau lewat. Kemudian menemuinya sendirian. Aku khawatir tak lagi akan bertemu dengannya. Aku… aku memang mencintainya. Maafkan aku, Adikku…” bisik Roxy terbata.
Sesaat Thi Binh mempererat pelukannya pada tubuh Roxy. Kemudian melepaskannya perlahan. Kemudian menatapnya tepat-tepat. Kemudian bibirnya mengukir senyum.
“Engkau menciumnya?”
Lagi-lagi, dug!

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s