Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 630)

Kedua gadis itu tak membantah. Mereka memahami dan menerima kebenaran yang diucapkan Duval. Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat dipakai sebagai jebakan oleh Kolonel MacMahon. Duval di depan, matanya tajam menatap tanda-tanda yang ditinggalkan MacMahon. Sebentar dia menunduk, melihat bekas jejak kaki di tanah. Pada saat lain dia menatap dedaunan yang secara sepintas kelihatan biasa-biasa saja. Namun mata Duval yang terlatih dapat mengetahui daun yang sudah bergeser dengan tubuh manusia dengan daun yang belum tersentuh apapun.
Akan halnya si Bungsu, yang berusaha meloloskan diri setelah menembakkan dua roket dari howitzer, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia mendekapkan telinga ke tanah. Dia tak tahu secara persis berapa tentara yang memburunya. Namun dari inderanya yang sangat terlatih dia memperkirakan jumlah tentara yang mengejarnya pa­ling tidak ada belasan orang. Dia menghitung sisa peluru bren yang dia bawa,] masih ada sekitar 20 buah. Dia sadar, tak mungkin dia menuju ke tempat MacMahon dan rombongan yang lain.
Kalau dia langsung menuju ke arah orang-orang tersebut sama artinya dengan membawa ten­tara Vietnam ini ke tempat mereka. Dia harus berusaha menjauhkan para pemburu ini dari rom­bongan MacMahon. Dengan fikiran demikian, dia berbalik arah. Tadinya, dengan kemahiran yang jarang dimiliki tentara manapun, dia nyaris tak meninggalkan jejak di tanah. Hal itu menyebabkan tentara Vietnam kebingungan menentukan arah, kemana harus dikejar.
Namun, jika jejak si Bungsu tak berhasil mereka temukan, mereka justru dengan mudah menemukan jejak Duval, Roxy dan Thi Binh. Pemimpin pasukan Vietnam itu segera diberitahu anak buahnya yang ahli melacak jejak. Bahwa dari empat orang yang tadi menembaki mereka, kini hanya ada tiga jejak. Si komandan berhenti sejenak, demikian juga semua anak buahnya. Dia menatap bekas jejak kaki di tanah. Melemparkan pandangan ke depan. Kemudian menatap pencari jejak tersebut tepat-tepat.
“Sejak di mana engkau ketahui bahwa jejak yang kita buru ini hanya jejak tiga orang?” tanya­nya menyelidik.
“Sejak naik dari sungai tadi….”
Si Komandan kembali menatap ke arah tempat mereka mengepung tentara Amerika itu tadi, yang sudah jauh mereka tinggalkan. Dia mencoba mengingat tembakan-tembakan yang menghujani mereka sebelum dan setelah dua peluru howitzer menghantam dan meruntuhkan batu besar itu. Dia lalu duduk, menatap jejak di tanah. Tiba-tiba dia menyumpah. Dia baru sadar sekarang, bahwa tadi sesungguhnya mereka ditipu.
“Mereka hanya empat orang. Tiga orang terlebih dahulu menyelamatkan diri. Yang seo­rang….”
Si komandan menghentikan ucapannya. Dia melangkah dua depa ke kanan, menatap jejak yang tertinggal di sana. Kemudian menatap ke depan, lalu melangkah lagi. Menatap lagi jejak di sana. Ada beberapa saat dia membandingkan jejak-jejak yang membekas di tanah dalam jarak beberapa depa itu.
“Yang tiga ini, satu lelaki dan dua wanita. Merekalah yang disuruh duluan lari menyelamatkan diri. Yang seorang lagi, tetap bertahan dan menembaki kita dengan tiga bedil yang ditinggalkan. Setelah itu, baru yang seorang itu menem bakkan howitzer yang dicuri dari gudang senjata kita. Sesaat setelah menembakkan howitzer, dia melarikan diri….” si komandan berhenti sejenak.
Matanya menyambar…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s