Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 633)

Tentara yang berada di posisi paling ujung di bahagian kanan menyelusup dari balik pohon besar ke sebuah palunan semak dengan senjata siap ditembakkan. Begitu dia memasuki palunan semak itu tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutnya dari samping.
Dia terkejut separoh mati, namun itulah kesempatan terakhir baginya untuk merasakan bagaimana terkejut semasa hidup. Sebab setelah itu, tangan orang yang membekap mulutnya, yang tak lain dari si Bungsu, menyentakkan tangannya yang membekap mulut si tentara itu dengan teknik yang amat khusus, yang hanya mampu dilakukan oleh ahli beladiri yang sangat terlatih. Begitu kepalanya diputar dengan teknik khusus itu, terde­ngar suara yang berderak dari dalam leher tentara Vietnam tersebut.
Matanya mendelik, dan kini benar-benar mati penuh. Tak ada kesempatan si tentara untuk ber­teriak memberi tahu teman-temannya. Padahal ja­rak temannya hanya sekitar lima depa didepannya. Apalagi untuk mem pergunakan bedil. Padahal, tangan yang membekapnya tidaklah kukuh besar. Hanya gerakannya demikian terlatih dan demikian cepat. Tubuhnya sudah tak bernyawa tatkala dibaringkan si Bungsu perla­han di tanah. Pada saat itu, tentara yang lain bergerak maju.
Si Bungsu menunggu beberapa saat, kemudian dengan gerakan cepat dia bergerak pula dari palunan belukar itu ke balik pohon besar sekitar enam depa di depannya. Orang ke dua di ujung sayap kanan itu menoleh ke kiri, ke kawannya yang berada di bahagian paling ujung sayap tersebut. Dia tak melihat ada gerakan di bahagian ujung itu. Sambil melangkah maju ke arah sebuah pohon besar di depannya, dia bersiul kecil ke arah temannya itu. Tak ada jawaban dan tak ada yang berge­rak maju.
Dia masih belum curiga saat tubuhnya mencapai pohon besar tersebut. Dia masih menolehkan kepala ke bahagian kiri, berharap melihat teman yang dia siuli tadi. Ketika tak ada gerakan dari arah kanannya, dia berniat memberi tahu temannya yang lain, yang berada di posisi kirinya. Namun matanya melotot, tatkala menolehkan kepala ke kanan. Seorang lelaki tegak di bawah pohon yang sama dengannya.
Jantungnya hampir copot saking kagetnya. Dia sama sekali tak mendengar suara apa pun saat lelaki itu mendekati tempatnya. Ataukah lelaki ini sudah ada di bawah pohon itu saat dia datang? Kalau ya, kenapa dia tak melihatnya? Tapi apa pedulinya dengan bagaimana cara lelaki itu berada di bawah pohon tersebut. Jarak antara dia de­ngan lelaki itu hanya sejengkal. Mereka berada rapat di bawah pohon besar yang sama. Dia segera teringat pada ucapan komandannya tadi.
“Siapapun orangnya yang menembakkan howitzer itu, yang kini tak kita temukan jejaknya, dia ada­lah tentara yang luar biasa. Dia pasti salah seorang yang sangat ahli dalam peperangan, ahli mencari dan menghilangkan jejak. Kita tidak tahu di mana dia kini, apakah dia di depan atau di belakang kita. Dia bisa saja menyerang dengan sangat tiba-tiba. Siapa pun dia, dia adalah lawan yang sangat tangguh. Kita akan berge­rak cepat memburu ketiga orang yang jejaknya bisa dilacak ini. Tapi waspadalah….”
Tentara itu yakin inilah orang yang dimaksud si komandan. Ternyata orang itu bukan orang Amerika. Paling tidak bukan bule dan bukan pula Negro, sebagaimana lazimnya tentara Amerika yang selama ini mereka hadapi. Mungkin orang Vietnam dari salah satu suku di selatan. Orang ini juga tidak berseragam tentara. Atau barangkali orang ini orang Kamboja, pikir tentara Vietnam itu. Tapi peduli setan dan darimana asal usulnya, yang jelas inilah orang yang tadi dikatakan ‘amat berbahaya’ tersebut.
Si tentara yang belum habis rasa kagetnya itu segera membuka mulut, dia ingin berteriak memberitahu kawan-kawannya. Namun, sebelum mulutnya terbuka, tangan si Bungsu bergerak. Sebuah pukulan dari kepalan yang digenggam erat, yang ruas jari tengahnya menonjol dari ruas jari-jari yang lain, menghantam leher tentara itu persis di bahagian jakunnya. Terdengar suara berderak lemah, seperti suara kerupuk terinjak.
Tulang rawan jakun-jakun lelaki itu remuk kena hantam ruas jari tengah si Bungsu. Matanya mendelik. Dari mulutnya perlahan meleleh darah, kemudian dari hidungnya. Kemudian dia mati. Namun kendati si tentara tak sempat berteriak, temannya yang berada di balik pohon sekitar enam depa dari tempat itu, melihat senjata si tentara yang kena pukul tersebut jatuh. Tentara itu semula merasa heran. Dia tak jadi bergerak ke depan, melainkan menatap dengan seksama, dengan bedil siap tembak.
Hanya beberapa detik kemudian, tubuh temannya itu melorot dan terkapar di bawah pohon besar tersebut. Si tentara sadar, ada sesuatu yang amat tak beres. Dia mengangkat bedil, kemudian melangkah perlahan mendekati pohon tersebut. Saat itu si Bungsu tiba-tiba muncul dari balik pohon besar itu. Tentara itu ternganga. Si Bungsu tak memberi kesempatan, tangannya bergerak.
Sebuah samurai kecil meluncur dengan kecepatan tak terikutkan oleh mata. Melesak masuk ke mulut tentara yang sedang ternganga itu. Menancap di lehernya bagian dalam, tembus ke tengkuk! Tentara itu harusnya bisa memekik, namun karena di dalam mulutnya ada samurai kecil yang menembus lehernya, suara yang keluar hanya seperti suara kerbau disembelih. Saperti suara air mendi­dih. Lalu tumbang. Namun saat tumbang tangannya masih di pelatuk bedil, tak sengaja pelatuk bedil itu tertarik. Bedil meletus, pelurunya menembus tanah. Dia rubuh. Lalu mati!
Suara tembakan tunggal dari bedil lelaki itu merobek kesunyian belantara. Si komandan yang berada sekitar lima puluh depa di depan, begitu juga belasan tentara lain, pada terkejut dan secara reflek mencari pohon terdekat untuk berlindung kemudian menjatuhkan diri di tanah.
“Darimana asal tembakan itu?” ujar si komandan pada kedua pancari jejak di sampingnya.
“Dari ujung sayap kanan…” jawab salah seo­rang pencari jejak yang ditanya.
Si komandan memberi isyarat agar lima anggota pasukannya yang terdekat segera memeriksa ke tempat letusan itu. Kelima mereka segera ber­gerak cepat dengan merayap ke arah yang ditunjukkan si pencari jejak. Mereka merayap dengan posisi menyebar. Hanya dalam beberapa saat, mereka segera melihat tubuh temannya yang bedilnya meledak itu tertelungkup di tanah. Kedua tangannya terhimpit di bawah tubuhnya, namun masih dalam posisi memegang dan menghimpit bedil yang tadi meletus.
Kelima mereka memeriksa dengan tatapan penuh selidik situasi hutan di sekitar mayat itu terkapar. Setelah yakin tak ada bahaya, komandan regu memerintahkan dua anggotanya untuk memeriksa mayat tersebut. Yang tiga orang tiarap dengan bedil siap tembak dan sikap penuh waspada, berjaga-jaga dari tempat mereka tiarap. Kedua tentara yang merayap itu sampai ke tubuh temannya. Yang seo­rang segera bangkit berjongkok, kemudian membalikkan tubuh temannya yang mati itu.
Namun saat itu..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s