Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 634)

Namun saat itu pula ada sosok muncul dari balik kayu besar sekitar empat depa dari mereka. Sosok itu tak lain dari si Bungsu. Dia muncul mendadak sambil menembak dua tentara di dekat mayat tersebut. Kedua orang itu terkejut namun tak sempat berbuat apapun. Yang jongkok dan akan membalikkan tubuh temannya itu kena hajar kepalanya oleh peluru dari bedil rampasan si Bungsu. Sementara yang tiarap sekitar dua depa dari mayat itu, kena hajar persis di jidatnya.
Sebab, begitu dia melihat ada sosok yang muncul dari balik pohon, dia mengangkat kepala dan siap menarik pelatuk bedilnya. Bedilnya memang meletus, namun pelurunya melenceng. Sebab jidatnya ditembus peluru! Sesudah itu sepi. Hutan itu dicekam kesepian yang menakutkan. Namun ha­nya sesaat. Setelah itu beberapa tentara menghambur serentak ke arah pohon besar dimana si Bungsu berlindung. Mereka maju sambil berteriak se­perti orang histeris, sembari bedilnya memuntahkan peluru.
Dalam jarak sekitar lima sampai sepuluh depa, semua mereka berhenti mendadak. Ada yang berlindung di balik pohon, ada yang tiarap di tanah, ada yang jongkok dengan bedil diangkat setinggi dagu, siap ditembakkan. Pohon di mana tadi si Bungsu muncul terkelupas diterkam peluru di be­r­­ba­gai tempat setinggi lelaki dewasa. Si komandan juga sudah berada di antara anak buahnya. Dia memberi isyarat. Lima orang segera menyiram sisi kiri dan kanan pohon besar itu dengan tembakan gencar.
Semut pun tak bisa selamat jika dia berada di sisi kiri atau kanan pohon itu sampai jarak satu atau dua meter. Demikian rapat tembakan tersebut. Bersamaan dengan payung tembakan itu, empat orang diperintahkan si komandan untuk membuat lingkaran, dari kiri dan kanan, mendekati pohon besar tersebut. Namun tak seorang pun di sana. Tembakan dihentikan secara mendadak. Mereka saling menatap. Si komandan masih jongkok di balik pohon perdu rindang setinggi setengah meter.
Dia menatap anak buahnya yang berada dalam jarak tiga atau empat meter di sekitarnya. Dari anak buahnya dia menatap ke pohon-pohon besar disekitarnya. Ke dahan-dahan dan dedaunan yang rimbun di atas mereka. Tak ada sesuatu yang ber­gerak. Bahkan angin pun seperti berhenti bertiup. Si Komandan memberi isyarat dengan gerak ta­ngan, agar anak buahnya bergerak ke berbagai arah dalam jarak sekitar dua puluh lima meter untuk mencari orang yang mereka buru.
“Orang itu masih berada di sekitar ini…” ujar­nya melalui isyarat tangan.
Anak buahnya segera maju dengan menunduk-nunduk, menatap dengan seksama setiap pohon dan setiap semak-semak. Si komandan bersama dua pencari jejak yang juga penembak mahir, tetap berada di tempatnya. Siaga dengan bedil, siap memuntahkan peluru. Antara dia dengan kedua pe­nembak mahir di sebelah kanannya, hanya dibatas jarak tiga meter.
Kedua orang itu berada di balik dua pohon besar yang tumbuh sangat rapat. Seorang tentara yang berada di bahagian kiri, sekitar sepuluh meter di depan si komandan, tiba-tiba terkejut karena ada yang bergerak di balik semak dua depa di depannya. Dia, dan dua temannya di kiri kanannya, segera menghamburkan peluru ke arah semak tersebut.
Sepi!
Mereka kembali menghujani semak itu dengan peluru sambil berlari mendekat. Saat sampai di semak itu mereka tertegak diam. Di balik semak itu, tergeletak sosok bersimbah darah, tanpa nyawa. Anak rusa! Tubuh anak rusa itu seolah-olah tak ada yang tidak ditembus peluru. Salah seorang di antara mereka surut, dan menoleh ke arah si komandan. Lalu memberi isyarat dengan tangan, bahwa yang berada di balik semak itu hanya seekor anak rusa. Namun tangan si tentara belum turun setelah memberi isyarat, tubuhnya tiba-tiba mengejang, matanya mendelik. Teman-temannya menatap dengan kaget, juga si komandan.
Lalu, tubuh tentara itu rubuh tertelungkup. Padahal tak ada suara tembakan satu pun! Dua tentara lagi, yang berada di dekat tentara yang rubuh itu, segera menjatuhkan diri, tiarap. Yang seorang, yang berada di kanan mayat yang terhantar itu, menatap dengan heran bercampur takut ke arah temannya yang tiba-tiba saja rubuh tanpa sebab tersebut. Matanya membesar, tatkala melihat ada benda kecil menancap di leher temannya yang rubuh itu.
Dia merayap dengan cepat mendekati mayat tersebut. Menatap dengan nanap benda kecil yang menancap itu. Lalu mencabutnya. Benda itu ter­nyata sebuah samurai dalam ukuran tak lebih dari sepanjang jari, namun runcing dan kedua sisinya tajam bukan main. Panjang samurai kecil itu sekitar sejengkal. Gagangnya terbuat dari sejenis ga­ding. Samurai itu menancap sampai sebatas gagangnya. Dengan masih dalam posisi tiarap, dia mengangkat bahagian dadanya dari tanah untuk menoleh ke arah si komandan.
Komandan tentara Vietnam yang berada dalam jarak sekitar lima belas depa dari tentara yang memegang samurai kecil itu, dapat melihat si tentara di antara sela-sela pohon besar antara dia dengan si prajurit. Si prajurit mengangkat sa­murai kecil itu, memperlihatkannya pada si komandan. Si komandan mengerenyitkan kening­nya. Dari kejauhan dia menatap senjata kecil itu na­nap-nanap. Si komandan segera mengetahui benda yang membunuh anak buahnya itu ternyata sebuah miniatur samurai.
Sebagai seorang yang juga lahir dari puak Cina, si komandan tahu bahwa senjata itu merupakan senjata rahasia kelompok penjahat atau pesilat Cina atau Jepang. Dia mengenal hal itu tidak ha­nya dari cerita-cerita. Tapi pernah melihat demonstrasi kemahiran mempergunakan senjata sejenis itu, yang oleh orang Cina disebut sebagai ‘piaw’ atau senjata rahasia. Piaw biasanya berbentuk pisau kecil, bukan miniatur samurai sebagaimana tadi diperlihatkan padanya.
Dia mulai merasa curiga terhadap orang yang sejak tadi mereka buru, dan kini balik ‘memburu’ mereka. Hampir bisa diyakini, orang yang mempergunakan senjata dalam bentuk samurai kecil itu bukanlah orang Amerika. Juga bukan orang Eropah manapun. Dia mulai menduga-duga. Orang itu pasti dibayar oleh Amerika untuk mencari dan membebaskan sandera. Jika Amerika menyerahkan tugas seperti itu kepadanya, maka orang itu tentulah bukan sembarangan orang. Tapi, siapa dia?
Dia mencoba mencari kemungkinan di antara orang-orang Jepang, Cina dan Vietnam, atau orang Kamboja. Sebab, sepanjang yang dia ketahui, hanya orang-orang dari puak itulah yang memiliki kepandaian menerobos belantara dan sekaligus mahir mempergunakan senjata rahasia. Di Jepang mereka me­ngenal kelompok Jakuza. Kelompok penjahat yang amat ditakuti. Juga mereka mengenal kelompok Ninja. Kedua kelompok inilah yang biasanya amat mahir mem pergunakan senjata rahasia.
Ninja! Apakah benar orang yang mereka buru ini adalah anggota Ninja? Benar atau tidak, yang jelas kini mereka sudah saling memburu, tanpa ada kepastian siapa memburu siapa. Si komandan menatap keliling. Kemudian bersiul kecil memberi isyarat kepada anak buahnya agar siap-siap untuk melakukan gerakan mendadak. Tugas mereka semula, yaitu memburu tawanan yang melarikan diri, ternyata tersendat di sini. Mereka harus melayani satu atau mungkin paling ba­nyak tiga orang.
Kini orang itu tengah mengendap entah di pohon yang mana, entah di semak mana. Tapi yang pasti, orang itu masih berada di sekitar mereka. Orang itu pasti belum pergi dari sekitar sini. Nalu­rinya sebagai prajurit yang sudah kenyang berpe­rang dalam rimba membisikkan hal itu. Kini harus dia akui, orang yang mereka buru itu posisinya jauh lebih beruntung dari mereka. Orang itu tahu di mana posisi mereka, sedangkan dia dan pasukannya tak tahu di mana orang itu menyurukkan tubuhnya.
Si komandan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s