Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 635)

Si komandan berfikir, sudah sampai di mana tawanan, yang di antaranya ada para wa­nita itu, kini berada. Dia yakin, para pelarian itu pasti belum jauh benar. Untuk keluar dari belanta­ra ini diperlukan pesawat udara. Dan pesawat udara yang bisa menjemput pelarian hanyalah helikop­ter. Sebab, di hutan perawan yang luas ini tak ada lapangan dimana pesawat terbang bisa mendarat. Helikopter yang menjemput tawanan tak perlu mendarat.
Pilotnya cukup menahan pesawatnya di atas pucuk belantara. Kemudian menurunkan tangga dari tali. Orang bisa naik melalui tangga itu. Itulah satu-satunya cara untuk melarikan diri. Tetapi, dia tak khawatir para pelarian itu akan dijemput helikopter. Helikopter mana pula yang berani melintasi wilayah Vietnam ini, yang setiap saat udaranya dijaga oleh pesawat tempur? Dengan fikiran demikian, dia lalu memutuskan untuk segera menyergap orang yang telah membunuh beberapa anggota pasukannya itu.
Cuma, putusan untuk menyergap orang yang sudah menyebar maut di tengah pasukannya itu dihadang oleh sebuah pertanyaan. Berapa sebenar­nya jumlah orang yang kini mereka buru, atau yang tengah “memburu” mereka? Namun perta­nyaan itupun tak memerlukan jawaban. Yang pasti orang itu merupakan ancaman yang serius. Kini, dia harus membuat jebakan, agar orang itu bisa dihabisi. Untuk menghabisi orang tersebut, dia mengandalkan pencari jejak yang berada di dekatnya.
“Sersan, engkau bersamaku dan sebahagian pasukan akan pura-pura melanjutkan pemburuan terhadap tawanan yang lari. Sementara Lok Ma dan dua tentara yang lain tetap di sini,menjaga bahagian belakang kami, sekaligus memasang jebakan terhadap orang yang kini sedang mengintai kita…” bisik si komandan kepada dua pencari jejak di sampingnya.
Sersan bernama Lok Ma itu segera merayap ke bahagian kanan, ke arah seorang kopral yang berlindung di balik sebuah pohon besar. Dia membisikkan rencana yang dipaparkan si komandan. Kemudian dia memberi isyarat pada seorang prajurit yang berada sekitar sepuluh depa dari tempatnya. Si Prajurit mengangguk, memahami isyarat yang disampaikan padanya. Si sersan lalu memberi isyarat kepada koman dannya. Setelah itu dia merayap ke suatu tempat yang dijadikan sebagai tempat pengintaian.
Si kapten lalu memberi isyarat kepada seluruh anak buahnya. Mereka kemudian bergerak meninggalkan lokasi tersebut, kecuali Sersan Lok Ma dan dua tentara lainnya, yang ditugaskan tinggal untuk menjebak orang yang sudah membunuh beberapa dari mereka, yang sampai saat ini tak mereka ketahui bentuk dan kesatuannya itu. Belasan tentara Vietnam itu bergerak cepat dari balik pohon yang satu ke balik pohon yang lain. Mereka menuju danau besar yang memang menjadi tujuan tentara Amerika tersebut. Baik yang dahuluan bersama Duc Thio, termasuk para wanita, maupun yang kemudian bersama MacMahon dan terakhir diikuti Duval, Thi Binh dan Roxy.
Sersan Lok Ma menatap dengan perasaan heran kepada prajurit yang tadi memperlihatkan kepada si komandan samurai kecil yang dia cabut dari leher teman mereka yang mati itu. Tentara itu masih tetap tiarap, tak bergerak sedikit pun. Yang membuat dia heran, wajah si tentara membenam ke dedaunan kering di bawah tubuhnya.
Lok Ma segera menyimpulkan bahwa tentara itu sudah mati. Dia segera teringat, sesaat setelah memperlihatkan samurai kecil itu kepada si komandan, prajurit itu segera tiarap. Namun gerakannya tidak seperti biasa. Tubuhnya jatuh ke tanah seperti tanpa tenaga sedikit pun. Lok Ma merasa tak perlu datang memeriksa. Dia yakin tentara itu juga mati dihantam senjata rahasia. Senjata rahasia itu bisa saja berbentuk samurai kecil se­perti yang dia perlihatkan kepada si komandan, bisa saja dalam bentuk yang lain.
Lok Ma juga tahu, orang yang ahli mempergunakan senjata tajam bisa saja memiliki lebih dari satu bentuk senjata rahasia. Dugaan Lok Ma bahwa tentara yang ‘tiarap’ itu sudah mati memang benar. Si Bungsu yang berada sekitar sepuluh depa dari tempat si tentara yang sedang memperlihatkan samurai kecilnya itu, segera memanfaatkan peluang tersebut. Dia menunggu si tentara selesai memperlihatkan samurai itu. Saat tentara itu menggerakkan badan akan menurunkan bahagian atas tubuhnya untuk tiarap, tangan kanannya bergerak.
Sebuah besi ..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s