Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 636)

Sebuah besi baja pipih dengan beberapa ba hagiannya yang amat runcing, meluncur dengan kecepatan penuh dan menancap di urat besar pada bahagian kanan leher tentara tersebut. Urat besar itu, berikut beberapa urat saraf ke kepala, langsung putus ketika lempengan besi pipih sebesar jari itu menancap hampir separohnya, tiga jari di bawah telinga tentara tersebut. Wajahnya langsung membenam ke tumpukan daun kering di tanah.
Dia memang tak sempat menggelepar, karena saraf – saraf yang menghubungkan pusat gerak di otak ke berbagai bahagian tubuh sudah terputus. Itu pula sebabnya si komandan dan teman – temannya tak tahu, bahwa nyawanya sudah melayang, beberapa detik sebelum tubuhnya yang akan tiarap itu sempurna mencapai tanah. Si Bungsu ternyata masih berada di tempat darimana dia tadi melemparkan besi pipih kecil dan tajam, yang merenggut nyawa tentara Vietnam itu.
Dari tempatnya berada dia bisa mengawasi sebahagian lokasi di sekitarnya. Dia memang tak dapat melihat di mana komandan tentara Vietnam itu berada. Namun dia dapat melihat ketika hampir semua pasukan itu bergerak mening galkan tempat masing-masing. Semua menuju ke arah yang sama. Dan si Bungsu tahu, mereka sedang menuju ke arah danau besar di balik bukit-bukit sana. Memburu para pelarian tentara Amerika itu. Si Bungsu juga tahu, tidak semua tentara Vietnam itu meninggalkan lokasi ini. Beberapa di antara mereka tetap tinggal.
Mereka yang tinggal bertugas memasang jebakan untuknya. Hanya dia tak tahu dengan pasti, berapa orang tentara yang ditinggal untuk menjebaknya itu. Lebih celaka lagi, dia juga tidak tahu di mana saja orang-orang yang ditinggalkan itu menunggunya. Si Bungsu tahu, di antara tentara Vietnam itu ada pencari jejak yang mahir. Dia sudah mendapat cerita dari beberapa pensiunan tentara Amerika, ketika dia masih di Dallas maupun saat bepergian bersama Alfonso Rogers dan Yoshua ke Los Angeles dan New York, tentang beberapa warga suku pegunungan di bahagian uta­ra Vietnam, yang menjadi pencari jejak yang tangguh di dalam hutan belantara.
Dia tak boleh gegabah. Untuk sementara, menjelang dia mengetahui berapa orang yang tinggal dan di mana posisi bertahan, dia harus memaksa mereka yang duluan membuat gerakan. Dengan fikiran demikian, perlahan dia merobah posisi. Jika tadi dia berjongkok, kini perlahan dia duduk di tanah. Lalu menengadah dan menarik nafas panjang. Menatap ke daun pohon-pohon raksasa yang membatasi pandangannya ke langit di atas sana. Beberapa ekor burung serindit berwarna indah, kuning tentang dada dan hijau di bahagian tubuh yang lain, kelihatan terbang dan hinggap dari dahan ke dahan.
Menatap burung-burung itu hinggap dari dahan ke dahan, si Bungsu tiba-tiba terperangah. Dia tertunduk tatkala perasaan galau menjalar perlahan ke hulu jantungnya. Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, bagaimana dengan dirinya? Diibaratkan dirinya adalah seekor burung, ke dahan mana dia akan hinggap? Bertahun-tahun sudah meninggalkan kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh, di kaki Gunung Sago di Luhak 50 sana. Di sana darahnya tertumpah ketika dilahirkan ke dunia. Di sana ayah bunda dan kakaknya berkubur, mati dibunuh dan dianiaya ba­latentara Jepang di bawah komando Saburo Matsuyama.
Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, kampung dan negeri mana yang bisa dia jadikan sebagai ‘dahan’ untuk hinggap? Situjuh Ladang Laweh, adakah anak negeri itu masih ingat padanya, dagang yang larat di rantau ini? Di kampung nya, pengakuan terhadap seseorang diukur dari harta dan pusaka yang dimiliki. Di Minangkabau ada bidal: Hilang rono dek cahayo, hilang bangso dek harato. Dia faham benar makna bidal itu, yang berlaku secara umum di tanah Minangkabau. Sejak dahulu, sampai kini.
Seseorang tak lagi..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s