Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 638)

Sersan Lok Ma menanti dengan diam di tempat perlindungannya, di balik sebuah pohon besar. Beberapa saat sebelumnya kopral yang berada sekitar lima belas depa dari tempatnya bergerak, kemudian memberi isyarat, bahwa dia telah melihat tempat persembunyian orang yang mereka buru. Lok Ma memberi isyarat agar si kopral jangan terlalu mendekati tempat orang tersebut. Namun ada dua hal yang mendorong si kopral untuk meringsek ke dekat tempat persembunyian si Bungsu. Pertama, rasa ingin menjadi hero. Kedua keinginan agar tembakannya tidak meleset. Dari tempat dia berada saat memberi isyarat kepada Sersan Lok Ma, dia hanya melihat bahagian kaki orang yang mereka buru.
Dengan kedua alasan yang saling atas-me­ngatasi itu, si kopral menggeser tegak inci demi inci. Kemudian berlarian dengan cepat ke pohon kembar sekitar tiga depa di depannya, dengan ja­rak sepuluh depa dari tempat si Bungsu. Saat itulah seekor burung serindit yang berada di salah satu dahan di pohon kembar itu terkejut. Lalu terbang menjauh. Dan terbangnya burung itulah yang menjadi isyarat bagi si Bungsu, bahwa di bawah pohon dari mana burung itu terbang ada sesuatu yang tak biasa. Di bawah pohon itu pasti ada sesuatu yang menyebabkan burung itu terkejut dan terbang menjauh. Dugaan si Bungsu ternyata benar.
Kemudian, dari tempatnya tegak si kopral menembak. Hanya sebuah tembakan tunggal. Dan setelah itu Sersan Lok Ma maupun kopral yang seorang lagi, tak mendengar apapun dari mana arah tempat si kopral melepaskan tem­bakan. Tak mendengar apapun dan tak melihat apapun! Mereka sama-sama menanti dalam diam. Ada beberapa saat dipergunakan si Bungsu untuk menunggu reaksi dari kelompok yang menyerangnya. Karena tak ada reaksi apapun, dia lalu bergerak.
Dia merayap hampir tanpa suara kearah ten­tara yang pingsan dihantam hulu samurai kecil yang dia lemparkan tadi. Pertama yang dia lakukan setelah sampai ke dekat tubuh prajurit yang terkapar pingsan itu adalah mengambil samurai kecilnya, yang tergeletak dekat topi wajah si prajurit. Dia sisipkan kembali ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya. Setelah itu, masih dalam posisi tiarap dia mengelupas kulit kayu besar yang tadi dijadikan si prajurit sebagai tempat berlin­dung. Serat kulit kayu itu kenyal dan dan alot sekali. Kedua tangan tentara yang masih tak sadar diri itu dia ikat ke belakang dengan kulit kayu yang tak mungkin diungkai.
Usai mengikat si tentara, dengan membawa bedil prajurit pingsan yang magazinnya masih penuh dengan peluru, dia bergerak menjauhi tempat tersebut. Dia sengaja mengambil jalan melambung, menuju ke arah danau menyusul Kolonel MacMahon dan teman – temannya yang lain. Se­perti sudah dia duga, langkahnya pasti ada yang menyusul. Dan yang menyusul adalah Sersan Lok Ma dan seorang kopral lainnya. Ke dua orang itu tak lagi melihat temannya yang tadi melepaskan temabakan ke arah orang yang dia buru. Mereka sudah merasa yakin, bahwa orang yang mereka buru ini telah menghabisi teman mereka. Sebab teman mereka itu tak bersua atau tak memberi isyarat apapun usai me­nembak tadi.
Lok Ma baru menyadari orang yang mereka buru sudah pergi, setelah melihat beberapa burung di pohon-pohon yang agak jauh pada berter­bangan dari dahan yang ada di bawah, pindah ke dahan yang di atas. Dia lalu memberi isyarat pada kopral yang berada sekitar sepuluh depa di kiri­nya. Mereka berdua kemudian bergerak menyusul si Bungsu. Benar saja, sekitar beberapa menit melacak dalam belantara itu, Lok Ma menemukan jejak orang yang mereka uber. Jejak itu hanya terlihat amat samar di tumpukan dedaunan ke­ring yang menutupi tanah.
Ada beberapa helai..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s