Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 639)

Ada beberapa helai daun pada beberapa tempat dalam jarak yang hampir sama, yang bergeser letaknya. Sebagai pencari jejak yang sa­ngat andal, Lok Ma tahu beberapa helai dedaunan kering itu bergeser karena tekanan kaki manusia.
Namun, betapapun Lok Ma merasa kagum sekaligus terkejut, melihat cara orang yang mereka buru ini menyelusup di dalam belantara. Jika bukan pencari jejak sekaliber dia, orang pasti takkan mampu menemukan jejak lelaki yang mereka buru ini. Sekarang saja jejak orang buruan mereka itu hanya terlihat di beberapa tempat. Setelah itu lenyap sama sekali, kendati tempat yang dilalui adalah tanah lembab. Tak ada bekas sama sekali. Lok Ma bisa terus memburu arah matahari terbit, hanya dengan keyakinan bahwa orang yang mereka buru ini menuju arah yang sama dengan para pelarian tentara Amerika itu. Yaitu sama-sama menuju ke danau luas dan angker di balik bukit-bukit batu sana.
Jarak antara Lok Ma dengan kopral yang seo­rang lagi ada sekitar sepuluh depa. Mereka ber­gerak dalam posisi sejajar. Setiap saat setelah melewati batu-batu atau pohon besar, mereka bisa sa­ling mengawasi. Saat itu Lok Ma harus melewati sebuah pohon tumbang, sementara kopral di sebelah kirinya harus melewati sebuah batu yang tingginya tak lebih dari setinggi tegak lelaki de­wasa. Lok Ma dengan cepat membungkuk di bawah kayu besar yang tumbang itu, kemudian melanjutkan pengejaran dengan langkah lebar. Dia menoleh ke arah kopral di bahagian kirinya, yang tadi akan melewati sebuah batu besar setinggi tegak. Si kopral belum kelihatan. Batu besar itu se­perti penjaga hutan yang tegak patuh zaman demi zaman.
Lok Ma masih meneruskan langkahnya empat lima langkah lagi. Kemudian menoleh ke arah batu besar yang di lewati si kopral itu. Tetap tak kelihatan. Kopral itu tentu tidak di balik batu itu lagi, pasti sudah bergerak ke depan sekitar sebelas atau lima belas langkah. Sambil bergerak terus maju, Lok Ma memperhatikan belantara di bahagian ka­nan, yang sejajar dengan posisinya sekarang. Tak ada satupun benda yang bergerak. Dia memberi isyarat dengan siulan. Tak ada sahutan. Dia bersiul sekali lagi, agak panjang dari yang pertama. Tetap tak ada sahutan Lok Ma, tiba-tiba berhenti. Tiba-tiba dia sadar kopral itu pasti sudah celaka. Dia berlindung di balik sebuah batu besar, menatap ke arah batu besar di mana kopral itu dia lihat kali terakhir.
Lok Ma tak melihat gerakan apapun dari sekitar batu besar itu. Lalu kenapa kopral itu lenyap seperti ditelan bumi saat melintas di balik batu besar itu? Apakah di balik batu itu ada lobang yang amat dalam, sehingga si kopral terperosok ke dalamnya? Atau di balik batu itu orang yang mereka buru menunggu? Lok Ma benar-benar merasa curiga. Dia ditugaskan untuk memasang jebakan pada orang yang mengacau balaukan pasukan mereka. Tapi kini merekalah justru yang terjebak ke dalam jebakan. Lok Ma memutuskan untuk langsung saja ke arah batu besar tersebut. Apapun yang terjadi harus dia hadapi dan diselesaikan de­ngan segera.
Dia lalu memutar badan untuk melangkah ke arah lenyapnya si kopral. Namun saat dia memutar badan itu tiba-tiba jantungnya seperti akan copot. Ada orang berdiri hanya dalam ja­rak sehasta dari tempatnya. Orang itu tak memakai seragam militer manapun. Juga tak ada tanda-tanda pangkat atau tanda lain yang mengisyaratkan dia adalah seorang tentara. Juga bukan orang Amerika seperti yang dia duga. Kalau pun ada benda yang biasanya menjadi milik tentara pada orang itu, maka benda tersebut adalah sebuah bedil otomatis. Lok Ma segera mengenali senapan itu sebagai senapan kopral yang tadi menembak di balik pohon besar, kemudian le­nyap begitu saja.
Bedil itu adalah bedil standar milik tentara Vietnam, yang sama bentuk dan kalibernya de­ngan senapan yang kini dia pegang. Orang yang berada sehasta dari tempatnya itu memegang bedil tersebut dengan tangan kirinya. Tak ada ancaman sama sekali. Ujung bedil di tangan orang tersebut me­ngarah ke tanah. Kalau orang ini akan menembak, harus mengangkat bedilnya setinggi pinggang, kemudian ber samaan dengan itu tangan kanannya bergerak pula ke arah popor. Lalu jari telunjuknya menyentuh pelatuk. Semua ge­rakan tersebut, sampai peluru pertama bisa ditembakkan, jika orang yang melakukannya demikian mahir, dibutuhkan waktu paling tidak dua atau tiga detik.
Lok Ma yang memegang bedil dengan kedua tangannya, dan telunjuk tetap siaga di pelatuk, yakin dia bisa meng hujamkan peluru empat atau lima buah ke tubuh lelaki di depannya ini, saat orang itu baru akan menembak. Lok Ma sudah berniat melakukan hal tersebut, ketika tiba-tiba dia teringat bahwa teman-temannya yang terbunuh tidak hanya oleh peluru. Tetapi juga oleh samurai kecil atau baja tipis yang amat tajam. Ingat akan hal itu, Lok Ma mengurungkan niatnya menembak orang yang di depannya ini. Dia tahu, orang ini memiliki ketangguhan yang luar biasa. Jika orang ini mau, Lok Ma yakin dia sudah mati sejak tadi.
Orang ini sudah berada di belakangnya ketika tadi dia memutar gerak. Dan yang membuat bulu tengkuk Lok Ma merinding adalah kehebatan orang ini dalam mendekati dirinya. Dia adalah seorang andalan dalam mencari jejak dan memburu orang. Andalannya adalah firasat, penglihatan dan pendengaran. Ternyata, jangankan suara langkah, dia malah tak mendengar suara apapun saat orang ini mendekatinya. Lok Ma sadar, orang ini bukan lawannya. Tiba-tiba orang itu mengulurkan tangan kanannya. Seperti akan bersalaman. Lok Ma kaget. Dia sampai tersurut selangkah saking kagetnya melihat orang itu ingin menyalaminya. Namun tak ada niat apapun terlihat pada wajah orang tersebut, selain keikhlasan semata.
Dan orang itu tiba-tiba tersenyum. Lok Ma menjadi salah tingkah. Tapi tatapan mata orang itu, yang demikian bersih dan bersahabat, wajahnya yang demikian jernih, seperti magnet yang membuat Lok Ma tak kuasa untuk tidak menyambut uluran tangannya. Kedua orang yang sebelum nya saling mengintai dan saling memburu untuk saling berbunuhan, kini saling bersalaman dengan erat di tengah belantara Vietnam selatan tersebut. Lok Ma merasakan betapa genggam tangan orang asing di depannya itu demikian kukuh. Pertanda kekukuhan hati dan keramahan sikapnya.
“Anda bisa berbahasa Inggeris?” tiba-tiba orang itu yang masih menggenggam tangannya itu bertanya dalam bahasa Ingeris.
Lok Ma mengangguk.
“Inggeris dan Perancis…” jawab Lok Ma.
“O, saya hanya bisa berbahasa Inggeris. Nama saya Bungsu…”
“Nama saya Lok Ma…”
Si Bungsu, orang yang menggenggam tangan Lok Ma itu, melepaskan genggaman tangannya. Dalam posisi tegak tak sampai sedepa itu, mereka saling bertatapan. Sebagai anak suku yang hidup secara tradisional dan penuh acara-acara magis di pegunungan, Lok Ma merasa orang yang di depannya ini benar-benar bukan orang sembarangan.
“Tuan dari Indonesia?” ujar Lok Ma.
Si Bungsu kaget. Buat pertama kali dalam hidupnya yang mengembara dari benua ke benua, dari negeri satu negeri lain, barulah sekali ini orang secara pasti menebak dan menyebut nama negerinya. Dia tatap tentara yang ber penampilan sederhana itu.
“Kenapa Anda menyangka saya dari Indonesia?”
“Ada dua bangsa yang saya kenal yang mampu mem pelajari dan menguasai hal-hal suprana­tural dan metafisik. Bangsa India dan Indonesia. Anda memiliki kedua kekuatan ini. Saya sering bertemu orang India. Namun belum pernah bertemu orang Indonesia. Anda tidak memiliki spesifikasi khas orang India. Maka hanya ada satu pilihan, Anda adalah orang Indonesia…”
Lok Ma dan si Bungsu kembali saling menatap.
“Apa suku Anda Aceh, Banten, Minang, Riau atau Dayak?”
Si Bungsu kaget…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s