Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 640)

Si Bungsu kaget atas pengetahuan Lok Ma terhadap suku-suku di Indonesia. Tapi di sisi lain dia tak mengerti kemana arah pertanyaan itu.
“Kenapa Anda bertanya tentang suku?”
“Sepanjang cerita yang saya dengar, hanya lima suku itu yang memiliki kemampuan mempe­lajari dan menguasai hal-hal metafisik dan supranatural….”
Si Bungsu tersenyum.
“Saya orang Minang. Namun untuk Anda ketahui, saya tak memiliki kekuatan supranatural atau metafisik sebagaimana yang Anda sebutkan itu….”
Kini giliran Lok Ma yang tersenyum mende­ngar ucapan si Bungsu.
“Kemampuan Anda mempergunakan senjata rahasia, kemampuan Anda menguasai belantara, naluri Anda yang demikian tajam, merupakan bukti yang tak bisa Anda mungkiri bahwa Anda me­nguasai hal-hal yang tak dikuasai manusia biasa itu…”
“Saya menguasainya dengan berlatih secara fisik, bertahun-tahun. Bukan dengan doa dan jampi. Saya tak yakin ada orang yang bisa menguasai hal-hal dahsyat hanya dengan doa dan jampi. Selama ratusan tahun Belanda bermaha sirajalela, menjajah dan menganiaya bangsa kami, di mana kehebatan doa dan jampi itu?”
Mereka kembali bertatapan.
“Di negeri Anda ini pun, Lok Ma, barangkali ada keper cayaan tentang hal-hal magis diiringi doa dan jampi itu. Tetapi, kenapa kalian tak bisa me­ngusir Perancis yang ratusan tahun menjajah negeri ini, kemudian tak bisa mengusir Amerika? Kenapa akhirnya perang belasan tahun dengan korban jutaan nyawa baru bisa menyelesaikannya?”
Lok Ma terdiam mendengarkan cecaran bukti yang diuraikan si Bungsu. Kembali mereka saling tatap.
“Kenapa Anda tidak membunuh saya?” ta­nya Lok Ma.
“Perang ini bukan perang saya….”
“Tapi Anda telah membunuhi banyak sekali tentara Vietnam….”
“Ada saat di mana orang berubah pikiran Atau paling tidak dia merasa bosan membunuh….”
“Yang mana yang merobah pikiran Anda. Karena bosan atau karena berubah fikiran?”
Si Bungsu tak menjawab. Lok Ma memang tak memerlukan jawaban. Dia tahu, lelaki di depan ini tak mau membunuhnya bukan karena bosan membunuh. Ada sesuatu di dalam hatinya, yang membuat fikiran berubah, tentang perang yang dimasukinya tanpa alasan yang jelas.
“Jika merasa tak ada kaitannya dengan perang ini, kenapa Anda membebaskan tentara Amerika yang kami tawan….”
“Karena salah seorang yang kalian tawan ada­lah perawat. Petugas yang oleh hukum perang harus dilindungi oleh pihak manapun. Karena mereka akan merawat tidak hanya anggota pasukannya yang terluka, tetapi juga merawat pasukan musuh yang tertangkap dan memerlukan perawatan…”
“Ada tiga perawat yang kami tawan. Yang mana yang Anda maksudkan?”
“Yang bernama Roxy…”
“Anak multimilyuner itu?”
Si Bungsu mengangguk.
“Kenapa tidak hanya dia yang Anda bebaskan?”
“Tak ada hukum yang melarang saya membebaskan semuanya, bukan?”
“Anda membebaskannya karena dia pacar Anda atau karena sebab-sebab lain?”
“Karena saya dibayar oleh ayahnya….”
“Anda pernah bertemu dengan ayahnya?”
“Ya….”
“Di mana?”
“Di Amerika….”
“Jadi, Anda datang ke belantara Vietnam ini langsung dari Amerika sana?”
“Ya….”
Mereka sama-sama terdiam. Si Bungsu kemudian teringat dia harus segera menyusul teman-temannya.
“Dua temanmu yang ingin membunuh saya, tidak kubunuh. Yang menembakku di tempat kalian menjebakku tadi dan senjatanya kubawa ini, hanya kubuat pingsan. Sekarang mungkin dia sudah sadar. Kopral di balik batu besar itu juga demikian.
Dia hanya kutotok. Engkau..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s