Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 644)

Ketika kapten yang kini menjadi komandan kapal selam itu masih dalam sikap memberi tabik untuk melaksanakan perintahnya, Mayor Black sudah mener bangkan helikopternya ke arah wilayah selatan Vietnam. Kepada empat anggota SEAL yang menyertainya, dia memberi perintah agar bersiap menghadapi kemungkinan yang pa­ling buruk sebentar lagi. Pesawat berwarna hitam legam itu diterbangkan dengan rendah di atas wilayah Vietnam oleh Mayor Black. Hanya beberapa belas meter di atas pucuk-pucuk belantara Vietnam.
Sementara itu di kapal selam yang ukurannya sangat kecil, tapi bertenaga nuklir. Kapal yang hanya mampu memuat sekitar 30 personil dan penumpang itu segera menyelusup menuju mulut Teluk Kom Pong Sam. Ketika kapal itu sudah berada di perairan Teluk Siam, kaptennya mengarahkan haluan ke Laut Cina Selatan. Kemudian membuka hubungan radio dengan USS Alamo, di salah satu tempat di perairan Phi­lipina.
“Laksamana, kontak dari Sea Devil…” ujar perwira radio di USS Alamo.
Laksamana Billy Yones Lee segera menyambar gagang telepon.
“Laksamana Yones Lee di sini. Silahkan masuk…”
Kapten kapal selam SEAL itu segera memberitahukan identitasnya. Kemudian melaporkan dia membawa 13 orang di kapalnya untuk diselamatkan. Tiga orang di antaranya adalah orang Vietnam, sepuluh lainnya tentara Amerika yang berhasil dibebaskan. Kemudian si kapten meminta petunjuk, kemana dia harus membawa ke 13 pe­numpang di kapalnya tersebut.
“Ada orang Indonesia yang bernama si Bungsu di antara yang tiga belas itu?” potong Laksamana Lee.
Kapten tersebut gelagapan sesaat. Tanpa memberitahu lewat radio bahwa dia akan bertanya, dia membiarkan saja hubungan terbuka kemudian menanyakan kepada Kolonel MacMahon, apakah ada yang bernama si Bungsu di antara orang yang berada di kapal itu. MacMahon menggeleng.
“Orang yang Anda maksud tidak berada di kapal ini, Laksamana…” lapor Lee.
“Apa!? Mana Mayor Murphy Black?!” sergah Lakmasana Lee.
Sergahan itu segera dijawab langsung oleh Mayor Murphy Black yang memonitor hubungan radio itu dari heli yang kembali menuju Vietnam.
“Siap, Sir! Saya kembali menuju ke tempat si­nyal yang dikirimkan dari Vietnam itu. Berusaha menjemput orang yang Anda pesankan harus ada dalam daftar yang saya sela matkan. Jika operasi penjemputan ini selesai, saya akan laporkan secara lengkap kepada Anda hasilnya, Sir!”
Laksamana Lee tertegun. Dia tak mengerti karena secara penuh apa yang sudah terjadi. Kenapa ada tiga belas orang yang sudah dievakuasi dari Vietnam, tetapi kini Mayor Black harus kembali menjemput si Bungsu. Namun dia faham, hu­bungan radio ini tak bisa dilakukan berkepanjangan. Radio pelacak Vietnam bisa mengetahui percakapan mereka. Dengan isyarat-isyarat khusus dia memberikan perintah kepada kapten yang sedang berada di kapal selamnya di Laut Cina Selatan itu. Dia meminta agar kapal selam itu membawa mereka ke suatu koordinat di perairan internasional, yang membentang luas antara Vietnam dengan kepulauan Philiphina.
“Kami akan menjemput mereka di sana dengan pesawat khusus…” ujar Laksamana sambil menutup percakapan.
—o0o—
Di padang lalang dekat belantara dan rawa yang membentuk danau besar di mana pertempuran saat helikopter menjemput para pelarian itu tadinya berlangsung, Si Bungsu ternyata tiba terlambat. Dari jauh, tak berapa lama setelah dia meninggalkan Sersan Lok Ma yang dia totok hingga tak bisa bergerak, dia sudah mendengar rentetan tembakan. Dia segera berlari dan melihat tentara Vietnam sedang menembaki beberapa orang terakhir yang akan naik ke helikopter tersebut. Dia langsung terjun ke kancah pe­perangan. Dia tidak bersembunyi, melainkan menembak sambil menampakkan dirinya.
Dia sengaja berbuat hal itu, agar perhatian tentara Vietnam tersebut beralih kepadanya. Dengan demikian dia berharap helikopter dengan para bekas tawanan itu bisa lolos dengan selamat. Taktiknya berhasil. Beberapa orang Vietnam terjengkang karena tangan atau kaki mereka kena tembakan si Bungsu. Kini belasan tentara Vietnam tersebut me ngarahkan tembakan mereka padanya, karena dia berada di tempat terbuka, tubuhnya menjadi sasaran empuk tembakan. Sebuah peluru menghantam perutnya. Dia terbungkuk. Namun dia masih sempat menembak kaki seorang tentara, yang membuat tentara itu terjungkal. Pada saat yang sama dua tembakannya menghajar pula dua tentara Vietnam.
Yang seorang tercampak bedilnya karena tembakan si Bungsu menghajar lengan kanannya yang memegang bedil. Yang seorang lagi langsung ambruk karena peluru menghajar pahanya. Namun sebuah tembakan lagi menghajar bahu kiri si Bungsu. Dia tersentak ke belakang. Pada saat itu helikopter berhasil meloloskan diri, keluar dari jangkauan tembakan. Dan dari atas, Duval, Roxy serta Kolonel MacMahon melihat semua peristiwa yang terjadi di bawah sana. Melihat tubuh si Bungsu tersentak-sentak dihajar peluru, kemudian lelaki itu mengangkat tangan setelah melemparkan bedilnya!
Saat dia mengangkat tangan, dua peluru lagi menghajar tubuhnya. Namun dia masih berdiri saat belasan tentara Vietnam tegak mengepung hanya dalam jarak dua tiga depa dari dirinya. Tubuh si Bungsu yang masih berdiri seolah-olah nyala akibat cahaya merah matahari senja menerpa tubuhnya yang berlumur darah. Seorang tentara mengokang bedil dan menembak. Salah seorang di antara mereka, yang berpangkat kapten, berteriak, untuk tidak menembak.
Namun teriakan itu terlambat. Paling tidak ada tiga butir peluru sudah menyembur dari moncong bedil otomatis itu. Tetapi hanya beberapa detik sebelum pelatuk ditarik, si Bungsu sudah tak mampu lagi bertahan.
Dia masih sempat….

Advertisements

1 Comment

  1. Tambah seru carito no,ko ma…!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s