Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 645)

Dia masih sempat melihat helikopter yang selamat itu, yang hanya merupakan sebuah titik kecil di langit sana, sesaat sebelum tubuhnya yang bermandi darah ambruk mencium bumi. Bibirnya masih sempat membayangkan sebuah senyum, mengetahui para pelarian itu selamat. Dia yakin, sudah tak ada harapan lagi baginya untuk hidup. Di sinilah, di belantara lebat dalam neraka perang Vietnam, takdir menjemputnya. Jauh dari kampung halaman, tak ada sanak famili. Tak ada yang menangisi. Takkan ada yang datang menjenguk.
Bahkan tubuhnya pun mungkin takkan dikuburkan. Dibiarkan tergeletak di padang lalang itu, dimakan ulat belatung. Ketiga peluru yang muntah dari mulut bedil tentara Vietnam tersebut menerpa tempat kosong. Sebab tubuh orang yang akan dijadikan sasaran yang tadi masih berdiri, kini sudah tergeletak di tanah. Bagi si Bungsu sendiri semua menjadi gelap gulita ketika tubuhnya masih dalam proses tumbang dan terjerembab di padang lalang. Dalam udara senja dengan langit menyemburatkan warna merah itu, tubuh si Bungsu yang tergeletak diam dan bermandi darah dari ujung rambut ke ujung kaki, ditatap dari jarak satu sampai dua meter oleh belasan tentara Vietnam sembari meno dongkan bedil yang siap memuntahkan peluru. Tubuh yang terjerembab dalam posisi tertelentang tersebut, diam tanpa tanda-tanda kehidupan sedikit pun.
Kapten yang tadi berseru agar jangan menembak, membungkukkan tubuh. Anak buahnya siaga dengan bedil, siap mencecar tubuh yang tertelungkup itu jika sedikit saja ada tanda mencurigakan. Si kapten merasa agak aneh. Orang ini tidak memakai seragam militer. Tak ada tanda-tanda kepangkatan atau identitas secuil pun bahwa dia tentara. Wajah lelaki ini bersimbah darah, yang mengalir dari luka akibat serempetan peluru di kepalanya. Saat itu beberapa tentara yang lain membawa dua tubuh tentara Amerika yang terbunuh sebelum kemunculan si Bungsu dalam pertempuran tersebut. Kedua mayat tentara Amerika itu dilemparkan di sisi tubuh si Bungsu.
Si kapten memberi isyarat pada seorang tentara yang juga bertugas di bahagian kesehatan. Tentara berpangkat sersan itu memeriksa satu demi satu denyut nadi di leher ke tiga sosok tubuh berlumur darah tersebut. Usai menekan dengan ujung jarinya urat nadi di leher, tentara itu mendekapkan telinga ke dada tubuh-tubuh tersebut.
“Yang dua ini sudah mati. Yang ini, masih ada denyut lemah di jantungnya Kapten…” ujar si sersan seraya menunjuk mana yang sudah mati dan mana yang masih berdetak jantungnya.
“Beri yang masih hidup itu obat atau kotoran apapun namanya, agar dia tetap hidup dan bisa diinterogasi. Kita harus tahu dari mana mereka masuk Vietnam, berapa jumlahnya. Di mana markas mereka, ke mana saja tim pembebas tawanan ini dikirim…” ujar si kapten sambil menatap ke langit, ke arah helikopter itu menghilang.
Si sersan menurunkan ransel bertanda palang merah yang tersandang di punggungnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari plastik tebal. Dari kotak itu dia mengeluarkan sebuah jarum injeksi. Kemudian me ngambil sebuah botol pendek sebesar ibu jari. Ujung jarum dia tusukkan ke sumbat botol, dan cairan bening di botol berpindah ke tabung injeksi.
Masih di bawah tatapan mata belasan tentara yang lain, sersan itu membuka lengan baju si Bungsu. Semua mereka, termasuk si kapten, pada tertegun ketika melihat di balik lengan baju lelaki itu terselip tiga batang samurai kecil, dan beberapa lempengan baja tipis, bundar dan amat amat tajam.
“Yakuza…!?” desis beberapa…

1 Comment

  1. Bravo untuak Chun Tsu..Taruihkan carito no sampai tamaik da…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s