Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 646)

“Laksamana, apakah isyarat itu dari si Bungsu?” ujar Florence di radio.
“Nampaknya ya, Ami….”
“Pesawat ini akan menjemputnya?”
“Ya….”
“Boleh saya ikut?”
“Jika Anda memang tidak ingin menunggu di kapal….”
“Boleh saya ikut…?” tanya Ami Florence kembali.
“Silahkan…” jawab Laksamana Lee.
“Harap Anda beritahu pilotnya?” ujar Ami Florence, kemudian memberikan radio itu kepada pilot.
“Yes, Sir…” ujar pilot membuka percakapan.
“Bawa Nona itu bersamamu….”
“Yes, Sir!”
“Kalian boleh berangkat sekarang”
“Yes, Sir….”
Pilot itu kemudian menoleh kepada Ami Florence.
“Kami mendapat kehormatan terbang bersama Anda, Mam….”
“Terimakasih, saya juga mendapat kehormatan terbang bersama Anda, Mayor…” sahut Ami.
Heli itu segera mengudara, membelah malam pekat dan dingin, dengan guruh menderam-deram di langit Philipina.
“Kemana tujuan kita?” tanya Ami Florence kepada dokter Angkatan Laut yang menyertai misi itu, beberapa saat setelah pesawat itu terbang di atas lautan.
“Ke sebuah titik di suatu koordinat di Laut Cina Selatan, Mam…” jawab dokter berpangkat kapten itu.
“Pulau atau kapal?”
“Kapal, Mam….”
“Kapal selam?”
“Yes, Mam….”
“Berapa orang yang dijemput.”
“Tiga belas, Mam….”
Ami Florence menarik resleting jaket kulitnya secara penuh ke atas, menutupi leher di bawah dagunya. Mencegah hempasan angin yang menerpa masuk dari celah pintu heli tempur besar itu.
“Apa di antara yang dijemput ada si Bungsu?”
“Kita tidak mendapat konfirmasi satu nama pun, Mam….” jawab pilot.
“Saya harap dia ada di antara yang akan kita jemput. Saya, dan juga semua awak USS Alamo, ingin bertemu dengannya, Mam,” sambung si dokter.
Sebagaimana awak kapal USS Alamo lainnya, dokter itu juga mendapat cerita tentang kehebatan lelaki dari Indonesia bernama si Bungsu itu, yang tersebar dari mulut ke mulut di USS Alamo. Ami Florence ingat coklat yang dia bawa dari hotel. Dia ambil coklat itu dari tasnya, kemudian me ngulurkan dua buah kepada pilot dan co-pilot, dengan memukulkan coklat itu ke bahu kedua orang tersebut dari belakang.
“Hai, terimakasih, Mam!” ujar pilot, demikian juga co­-pilot, setelah mengambil coklat tersebut.
Ami kemudian mengambil beberapa bungkus coklat lagi, lalu membagi-bagikannya kepada seluruh yang ada dalam heli tersebut. Semuanya menerima dengan senyum dan ucapan terima kasih. Lalu dalam deru pesawat yang membelah malam pekat itu mereka menikmati coklat pemberian Ami Florence.
—o0o—
Di kapal selam Sea Devil.
Thi Binh sadar dari pingsannya. Saat dia membuka mata, hal pertama yang melintas dalam ingatannya adalah si Bungsu.
“Bungsu…” desisnya.
Duc Thio yang memeluk kepala anaknya, menatap anak gadisnya itu dengan mata berlinang. Sebuah firasat yang amat buruk, yang amat tak dia ingini terjadi, menusuk hulu jantung Thi Binh tatkala melihat mata ayahnya yang berkaca-kaca.
“Bungsu…?” desisnya lagi perlahan.
Matanya nanap memandang ayahnya. Duc Thio menunduk, kemudian menggeleng. Air mata mengalir di pipinya yang tua. Thi Binh tiba-tiba merasa ada yang menggenggam tangannya. Dia tahu siapa orangnya, sebelum dia melihat wajah orang yang menggenggam tangannya itu. Dia menolehkan kepala perlahan dan segera menampak wajah Roxy, yang juga bersimbah air mata. Tak mampu bicara sepatah pun.
“Bungsu…?” desisnya.
Roxy menggigit bibir. Memejamkan mata sesaat sembari mempererat genggaman tangannya pada tangan Thi Binh. Han Doi melemparkan ta­tapannya ke langit-langit kapal selam. Apa yang akan dia berikan jawaban, kalau Thi Binh berta­nya padanya tentang si Bungsu? Thi Binh akhirnya berusaha duduk, kendati dadanya yang tertembak terasa amat sakit. Sakit sekali. Namun dia ingin duduk. Dia ingin menatap wajah orang yang di dalam kapal itu. Roxy lah akhirnya yang menolongnya untuk duduk. Dirangkulnya bahu Thi Binh. Kemudian diluruskannya posisi gadis itu perlahan.
Sebelum posisi tubuhnya duduk dengan baik, matanya menyapu semua yang berada dalam kapal selam itu. Tak ditemukannya wajah orang yang dia cari. Semua juga menatap padanya, kemudian pada menunduk. Kolonel MacMahon, Letnan Duval, para wanita yang dibebaskan si Bungsu dari sekapan di goa itu. Mereka dicekam kebisuan yang menyesakkan dada. Dan akhirnya Thi Binh hanya mampu memeluk Roxy. Lalu menumpahkan tangisnya di pelukan gadis Amerika itu.
Kolonel MacMahon yang tersandar dengan bahu dan paha berbalut perban, tiba-tiba merasa menjadi orang tak berguna. Merasa menjadi orang bodoh yang tak tahu berterima kasih.
Namun apa yang harus…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s