Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 647)

Namun apa yang harus dia perbuat dalam posisi amat kritis seperti yang terjadi dalam pertempuran di padang lalang di ujung senja tadi? Dia memejamkan mata sesaat. Namun cepat-cepat matanya dia buka. Karena bayangan pertempuran di padang lalang itu tiba-tiba seperti menyergap seluruh isi kepalanya.
Bayangan saat dia membopong salah seorang wanita yang terluka kena tembakan. Bedilnya memuntahkan peluru menembak ke arah dua tentara Vietnam yang muncul tiba-tiba dari balik pohon. Dan saat itu dia rasa pedih yang amat sangat menghantam bahunya. Dia tahu dia tertembak. Namun dia tetap berlari mengerahkan sisa tenaganya, dengan tetap memikul tubuh perawat yang terluka, mendekati helikopter. Beberapa langkah lagi, tiba-tiba kakinya tertembak. Dia tersungkur, untunglah seorang tentara di dekat helikopter itu sempat menyangga tubuhnya dan mengambil alih tubuh perawat itu.
Dia masih berusaha memutar tegak dan menembakkan bedilnya. Namun yang terdengar hanya suara ‘klik’ beberapa kali. Dia kehabisan peluru! Lalu saat itu tubuhnya ditarik dengan kuat ke atas heli. Kemudian semuanya berjalan amat cepat. Heli mengapung, lalu suara tembakan. Samar-samar dia melihat sesosok tubuh muncul dari belukar di bahagian selatan. Orang itu menembak dan berlari ke tengah medan tempur. Dari pakaiannya dia segera tahu, orang itu adalah si Bungsu. Orang yang sudah memper taruhkan nyawanya untuk membebaskan mereka.
Lelaki tangguh dari Indonesia itu dia lihat berlari menyongsong arah peluru sembari menembakan bedilnya ke arah tentara Vietnam yang muncul di berbagai penjuru. Dia tahu, lelaki itu berusaha mengalihkan sasaran tembak dari heli kepada dirinya. Kemudian heli yang mereka naiki mulai mengudara dengan cepat, meloloskan diri dari lobang jarum. MacMahon mendengar pertanyaan pilot yang juga komandan penjemputan mereka, tentang beberapa jumlah peluru yang ada di dua senapan mesin yang ada di heli.
MacMahon mendengar jawaban kedua pemegang senapan mesin itu, bahwa peluru mereka masing-masing hanya tinggal beberapa butir. Pilot nampaknya berada dalam pilihan yang amat rumit, antara turun menjemput si Bungsu dengan risiko 99,99 persen tertembak dan semua mereka terbunuh. Atau meloloskan diri, tapi dengan demikian berarti membiarkan lelaki yang telah menyelamatkan nyawa mereka itu menjadi sasaran tembak tentara Vietnam. MacMahon tak sempat berfikir, dia hanya tahu pilot kemudian memutuskan untuk menyelamatkan nyawa yang lebih banyak. Yaitu nyawa mereka yang ada di heli.
Turun ke tengah kancah pertempuran dengan peluru hanya beberapa butir, memang bukan pilihan yang berakal sehat. Tetapi juga bukanlah berakal sehat membiarkan orang yang sudah menolong mereka demikian banyak tinggal sendiri menghadapi cecaran peluru belasan tentara Vietnam. Lalu dari atas heli yang sudah semakin tinggi. MacMahon melihat si Bungsu kehabisan peluru. Dia mencampakkan bedilnya, kemudian mengangkat tangan ke udara. Lalu tubuh lelaki itu tersentak-sentak beberapa kali.
MacMahon hapal..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s