Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 649)

Ketika Sea Devil sedang berlayar di bawah laut luas, dan ketika Ami Florence dalam penerbangan dengan heli menuju titik pertemuan untuk melakukan embarkasi para tentara yang dibebaskan itu, Mayor Murphy Black yang semula gagal mengontak USS Alamo, akhirnya mendapat sambungan radio. Dengan permin taan maaf dan rasa menyesal yang amat mendalam, dia melaporkan tidak menemukan si Bungsu di padang lalang Vietnam itu. Di mana pertempuran terakhir terjadi antara pasukan Vietnam dengan pelarian itu.
Black juga menuturkan kondisi kritis saat menentukan pilihan, antara turun menjemput si Bungsu dengan peluru hanya beberapa butir, dan harus menghadapi gempuran belasan tentara Vietnam. Yang risikonya jelas semua awak heli maupun ten­tara yang sudah dibebaskan itu akan tertawan kembali, atau terlebih dahulu menye lamatkan belasan pelarian yang sebagian dalam keadaan terluka.
“Orang Indonesia itu nampaknya sengaja memancing tembakan ke arahnya, agar kami bisa lolos dai serangan maut. Saya sudah kembali ke lokasi itu, namun kami hanya menemukan dua mayat tentara Amerika dan beberapa mayat di padang lalang itu. Tak ada tanda-tanda sama sekali tentang nasib si Bungsu. Menurut analisa saya, kendati tertembak beberapa kali, namun lelaki tangguh itu masih hidup. Paling tidak, tentara Vietnam akan berusaha menyelamatkan nyawanya untuk mengorek keterangan. Siapa saja dan dimana pasukan yang mencari anggota MIA saat ini berada. Saya rasa, dia sekarang berada di suatu tempat yang amat dirahasiakan dan dijaga dengan amat ketat untuk diinterogasi,” papar Mayor Black.
Laksamana Lee tak menjawab sepatah pun. Selain mengatakan ‘oke’ kemudian mematikan radio. Lama Laksamana ini terdiam sambil tangannya masih me megang handel radio. Matanya menatap ke arah layar komputer besar, yang memperlihatkan posisi kapal selam Sea Devil yang te­ngah membawa bekas tawanan yang selamat dan posisi helikopter yang akan menjemput mereka, yang di dalamnya terdapat Ami Florence. Salah seorang di antara tak banyak mata-mata kelas satu Amerika semasa perang Vietnam yang panjang itu, yang besar sekali jasanya untuk Amerika.
Laksamana Lee teringat pada Kolonel MacMahon, adik kelasnya semasa di West Point, Akademi Militer Amerika. Lenyapnya MacMahon, Komandan SEAL di Vietnam dalam pertempuran laut di lepas pantai Da Nang menyebabkan heboh di kalangan angkatan bersenjata Amerika. Kini kolonel itu termasuk salah seorang yang berhasil dibebaskan si Bungsu. Dia lalu meminta dihubungkan ke Sea Devil.
“Komandan Sea Devil di sini, Sir!” ujar Kapten Callahan, begitu diberitahu perwira radio USS Alamo bahwa Laksamana Lee akan bicara.
“Ada gangguan dalam pelayaran Anda, Callahan?”
“No, Sir! Sejauh ini aman. Radar kami juga tidak menangkap adanya kapal perang Vietnam dalam jarak lima puluh kilometer dari posisi kami, Sir….”
“Baik, saya harap juga begitu….”
“Thanks, Sir….”
“Apakah Kolonel MacMahon di kapal Anda, Callahan?”
“Yes, Sir! Kolonel MacMahon ada di kapal ini…!”
“Saya dengar dia tertembak. Kalau dia tidak sedang istirahat, saya ingin bicara dengannya, bisa?”
“Yes, Sir! Saya bisa antarkan radio ke tempat tidurnya agar Anda bisa bicara langsung pada­nya. Harap Anda menunggu, Sir….”
Kapten menyuruh seorang letnan navigasi untuk menghantarkan radio kepada MacMahon. Kolonel itu sedang berbaring dan sejak tadi hanya diam menatap ke arah pembaringan Thi Binh dan Roxy di ujung sana, melihat seorang letnan SEAL mendatanginya. Letnan itu memberi hormat kepada komandan tertinggi mereka, yang sudah dua tahun lenyap dan baru saja dibebaskan.
“Komandan USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Sir…” ujar letnan itu sambil menyerahkan radio kecil tanpa tali.
“Laksamana Lee…?” ujar MacMahon perlahan mengambil radio dari tangan si kapten.
Tak lama kemudian Laksamana Lee mende­ngar suara di radio.
“MacMahon di sini, Laksamana…!”
“Hei MacMahon, senang mendengar lagi suaramu…!”
MacMahon tertawa renyah.
“Senang juga mendengar suaramu, Lee….”
“Bagaimana kondisimu, MacMahon?”
“Agak membaik Lee….”
“Luka di bahu dan dadamu membaik?”
“Ya, agak lebih baik….”
“Masih sempat bermain catur?”
MacMahon tertawa perlahan mendengar pertanyaan kakak kelasnya itu. Soalnya, ketika di West Point dulu, bahkan setelah sama-sama bertugas pun, mereka sering bertanding catur.
“Saya harap bisa segera bertemu Anda, untuk main catur lagi, Lee….”
“Ya saya harap juga begitu. MacMahon…!”
“Ya…?”
“Engkau kenal seorang lelaki Indonesia bernama si Bungsu?”
“Dia yang membebaskan kami, Lee….”
“Apa yang terjadi dengan dia?”
MacMahon tak segera bisa memberikan ja­waban. Dia menatap ke pembaringan Thi Binh dan Roxy. Kedua gadis itu masih tidur pulas.
“Dia tertinggal di medan tempur, Lee….”
“Nampaknya keadaan demikian kritis, sehingga dia tak sempat kalian bawa bersama….”
“Maaf Lee. Kondisi saat itu memang sangat kritis…. Engkau juga mengenalnya, Lee?”
“Tidak. Sebulan yang lalu dia mengantarkan Ami Florence, kau ingat dia?”
“Ya, orang kita yang di Da Nang….”
“Nah, setelah terlibat pertempuran yang amat tak seimbang dengan beberapa kapal patroli Vietnam, dia berhasil merebut sebuah kapal patroli. Kemudian mengan tarkan Ami dan abangnya ke USS Alamo tapi dia tidak naik ke kapal saya. Begitu Ami turun dia langsung pergi. Lewat radar kami melihat dia menghancurkan tiga kapal patroli Vietnam lainnya. Dari Ami saya mendapat cerita, bahwa dia datang ke Vietnam atas permintaan mil­yader AR. Anda masih ingat AR, MacMahon?”
“Alfonso Rogers, milyader yang ikut menyumbang pembelian kapal-kapal Angkatan Laut. Satu diantaranya kapal yang kini Anda komandani, Lee….”
“Anda benar, MacMahon. Anda ingat siapa nama anak tunggal milyader itu?”
“Roxy Rogers. Dia ada bersama saya di kapal ini. Hanya saja saya baru tahu bahwa Roxy adalah anak Alfonso Rogers dari penjelasan si Bungsu, saat membebaskan kami dari tahanan Vietnam. Kami beruntung berada satu tahanan dengan Roxy. Jika tidak, kami tentu belum akan bebas…” ujar MacMahon.
“Well, berapa hari Anda mengenal si Bungsu, Mac Mahon?”
“Satu hari, Lee….”
“Satu hari?”
“Efektifnya hanya beberapa jam….”
“Maksudmu?”
“Dia datang ke goa tempat kami disekap su­buh hari. Kemudian membawa kami ke tempat tiga teman Vietnamnya yang menanti sekitar satu kilometer dari barak tentara Vietnam. Kemudian kami berbagi regu. Satu regu disuruhnya duluan bersama wanita-wanita yang bertugas di keten­taraan sebagai anggota palang merah dan bahagian logistik, untuk menuju ke danau dan membawa jam tangannya yang bisa memancarkan isyarat. Kemudian dia bersama tiga orang lainnya, Letnan Duval, Roxy dan seorang gadis Vietnam bernama Thi Binh menyelusup ke barak-barak Vietnam.
Mereka berhasil menghancurkan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s