Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 650)

Mereka berhasil menghancurkan gudang senjata dan membunuh komandannya, seorang kolonel. Saya sendiri bertugas mencegat Vietnam yang memburu rombongan pertama. Artinya, saya hanya mengenal lelaki dari Indonesia itu sekitar tiga atau empat jam, Lee…” tutur MacMahon.
“Dia seorang yang amat prefect dalam pertempuran laut….”
“Sama prefectnya dengan pertempuran darat, Lee. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana dia mempergunakan samurai kecilnya untuk membunuh seorang Vietnam dari jarak sepuluh meter. Sebelumnya, saat kami akan keluar dari goa, dia membunuh sekaligus empat tentara dengan samurai kecilnya itu. Kemudian juga saat dia menghadang tembakan belasan tentara Vietnam, dalam upaya agar heli yang kami tompangi bisa lolos. Barangkali ada delapan atau sembilan tentara Vietnam yang dia rubuhkan sebelum akhirnya senjatanya kehabisan peluru, dan dia mengangkat tangan….”
“Apakah Vietnam langsung menangkapnya?”
“Tidak….”
“Apa yang terjadi?”
“Dari atas heli, kami melihat tubuhnya beberapa kali diterjang peluru. Setelah itu… dari ketinggian saya hanya melihat tubuh mereka seperti titik kecil di bawah. Saya rasa Vietnam menangkapnya. Jika dia masih hidup, untuk beberapa saat dia belum akan dibunuh, sampai Vietnam yakin tak ada rahasia apapun yang bisa dikorek dari mulutnya mengenai operasi yang dilakukan Amerika saat ini di Vietnam….”
“Saya rasa dia juga tak akan segera dibunuh Vietnam…” ujar Laksamana Lee.
Mereka sama-sama terdiam beberapa saat.
“MacMahon….”
“Ya, Lee….”
“Saya harus mengabarkan pada Ami Florence bahwa si Bungsu tak ada bersama kalian. Gadis itu kini berada dalam heli khusus yang saat ini sudah tak begitu jauh dari posisi kalian. Dia berharap lelaki dari Indonesia itu ada bersama kalian. Baiklah, kita bertemu di Subic kelak, MacMahon….”
“Terima kasih, Lee. Dan saya benar-benar menyesal, tidak bisa membawa si Bungsu bersama kami. Saya juga akan menyampaikan maaf saya pada Nona Ami….”
Hubungan dan percakapan di antara kedua teman lama itupun putus. Ada beberapa saat Laksamana Lee tegak mematung di anjungan USS Alamo. Dia harus menghubungi segera Ami Florence, namun bagaimana dia akan memulai percakapan, untuk memberitakan bahwa si Bungsu tak ada di antara orang-orang yang akan dia jemput itu? Kalau saja dia sudah mendapat laporan dari Mayor Black sebelum Ami ikut dengan heli itu tadi, barangkali dia bisa memberitahunya. Tapi sampai gadis itu naik ke pesawat, hubungan antara USS Alamo dengan Mayor Black sengaja diputus untuk beberapa saat.
“Hubungkan saya dengan helikopter…” ujarnya perlahan.
“Yes, Sir…!” ujar perwira radio.
“Kapten John Gregor Sir…!” ujar pilot heli di radio.
“Kapten….”
“Yes, Sir…!”
“Sebentar lagi perwira navigasi akan memberikan koordinat di mana Anda harus melakukan embarkasi….”
“Yes, siap Sir…!”
“Bisa saya bicara dengan Nona Ami Florence?”
“Siap, bisa Sir!”
Pilot menolehkan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s