Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 651)

Pilot menolehkan kepala ke belakang. Ke arah Ami yang sedang berpeluk tangan dan menatap ke langit gelap lewat kaca di sampingnya.
“Nona Florence….”
Ami tersentak. Menatap ke arah pilot yang memang gilnya.
“Ya…?”
“Silahkan Anda menggeser duduk ke mari. Laksamana di USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Mam….”
Ami Florence merasa jantungnya berdegup. Dia berjalan dengan menunduk di dalam heli itu, mendekat ke belakang tempat duduk pilot. Kemudian duduk di sebuah bantalan besar di sana.
“Sir, ini Nona Florence…” ujar pilot.
Dia segera memberi isyarat pada copilotnya untuk membuka headphone di copilot agar menyerahkan head phonenya pada Florence.
Ami memasang headphone itu ke kepalanya. Kemudian membetulkan letak kap radionya di telinga.
“Yes, Laksamana…?” ujarnya membuka pembicaraan.
“Florence…?”
“Ya….”
“Maaf, saya tidak tahu harus memulai dari mana….”
Hati Florence makin berdebar. Firasat buruk merayapi hulu jantungnya. Ini pasti mengenai si Bungsu, bisik hatinya.
“Mengenai Bungsu…?” ujarnya antara terdengar dan tidak.
“Sekali lagi maaf, Florence. Ya, mengenai Bungsu….”
Florence merasakan tubuhnya tiba-tiba menggigil dan berkeringat dingin. Dia tak mampu bicara sepatah pun. Dia seperti menanti vonis hukuman mati.
“Florence…?” himbau Laksamana Lee.
Tak ada sahutan!
“Florence. Anda masih di sana, Mam…?”
“Yy.. Ya… Laksamana….”
“Dengan permintaan maaf saya harus menyampaikan pada Anda, Mam. Bahwa si Bungsu tidak berada di Sea Devil, kapal selam yang kini sedang Anda tuju….”
Ami Florence tak bicara. Namun masih ada sedikit harapan, si Bungsu dikatakan tidak berada di Sea Devil, tidak dikatakan sudah mati. Dia menunggu kepastian lebih lanjut.
“Dia tidak berada di Sea Devil, berarti masih berada di suatu tempat, Laksamana?”
“Ya, Mam. Dia masih berada di suatu tempat, di belantara Vietnam sana….”
“Masih… masih….”
“Ya Mam, dia masih hidup! Itu dipastikan oleh laporan Mayor Murphy Black, komandan gugus tugas khusus dari SEAL yang ditempatkan di Teluk Kompong Sam, yang menjemput dengan helikoptertawanan yang berhasil dibebaskan si Bungsu….”
Florence menghapus keringat di dahinya. Dia menarik nafas panjang. Kendati dia sangat kecewa orang yang dicintainya itu tidak berada di Sea Devil, namun dia bahagia lelaki itu kini masih hidup.
“Dia sendirian di Vietnam sana, Laksamana?”
Laksamana Lee tak segera menjawab.
“Laksamana?”
“Maaf. Dia tertawan oleh Vietnam. Namun Mayor Black memastikan bahwa dia masih hidup. Tubuhnya tidak terdapat di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di padang lalang di mana pertempuran terakhir pecah saat mereka akan dijemput helikopter….”
Sekali lagi Ami Florence menghapus peluh dingin di wajahnya.
“Dia tertawan oleh Vietnam?” ujarnya perlahan.
“Ya, Nak. Cerita lengkapnya bisa engkau ta­nya pada Kolonel MacMahon di Sea Devil, salah seorang dari 17 pasukan Amerika yang dibebaskan si Bungsu, termasuk Roxy Rogers….”
Ami Florence seperti tercekik sesuatu di kerong kongannya mendengar kabar dari Laksamana Lee. Dia masih terdiam sambil memegang radio yang hubungannya masih terbuka dengan USS Alamo. Lewat radio Laksamana Lee dapat mendengar gadis itu menarik nafas berat dan panjang.
“Saya sangat menyesal, Nak. Sepanjang laporan yang saya peroleh, baik dari Kolonel MacMahon maupun Mayor Murphy Black, Komandan SEAL yang menjemputnya, lelaki dari Indonesia itu sengaja menjadikan dirinya umpan. Agar para tawanan bisa lolos.
Amerika tidak hanya…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s