Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 652)

Amerika tidak hanya berhutang budi padanya. Sekaligus benar-benar merasa malu, karena tak bisa mengeluarkan lelaki perkasa itu dari neraka Vietnam. Saya sangat menyesal….”
Tak ada jawaban apapun dari Ami Florence.
“Ami, Anda masih di situ, Nak?”
“Ya….”
“Saya sangat menyesal, Nak….”
“Terimakasih, Laksamana…” ujar Ami nyaris tak terdengar, sembari memutuskan hubungan radio.
Kolonel MacMahon masih menanti beberapa saat. Dia tahu hubungan dengan Ami sudah diputus gadis itu. Dia benar-benar ikut menyesal.
“Kapten Gregor…” ujarnya Laksamana Lee perlahan memanggil pilot heli tersebut.
“Yes, Sir!”
“Nona Florence masih di sana?”
Pilot heli menolehkan kepalanya sedikit ke belakang melihat Ami masih menunduk sambil memegang radio yang tadi diberikan co-pilot kepadanya.
“Ya, dia masih di sini, memegang radio, Sir!”
“Baik, jangan ganggu dia. Gunakan radio pada Anda saja. Perwira navigasi akan memberi petunjuk di mana Anda harus menjemput para bekas tawanan itu….”
“Yes, Sir!”
Namun saat itu Ami Florence mengulurkan radio di tangannya kepada co-pilot.
“Terimakasih…” ujarnya pelan.
“Yes, Mam…” jawab co-pilot.
Ami masih duduk di belakang pilot. Tatapannya kosong.
“Saya ikut menyesal mengenai Bungsu, Mam…” ujar pilot kepada Ami yang sejak tadi memang ikut mendengar percakapan antara Laksamana Lee dengan Ami Florence lewat headphone di kepalanya.
Ami menatap ke arah pilot tersebut.
“Terimakasih…” ujarnya perlahan.
Gadis itu berusaha untuk tersenyum. Namun dia tak mampu menahan air matanya untuk tidak mengalir. Dia dan abangnya, Le Duan, sebenarnya sudah harus menjalani program khusus di Amerika. Setelah mengikuti program khusus antara tiga sampai empat bulan itu, dia akan ditempatkan di salah satu negara bahagian Amerika atau bisa saja di suatu negara lain yang dia pilih. Program khusus itu antara lain menyangkut pekerjaan yang cocok, dan latihan di program tersebut.
Bisa saja dia ditempatkan di kemiliteran atau polisi. Atau menjadi intelijen di FBI atau CIA yang memang sudah amat dia kuasai. Namun dia sudah bertekad, begitu keluar Vietnam dia akan meninggalkan dunia spionase. Akan hidup sebagai dosen atau penerjemah atau mungkin sekretaris eksekutif. Masa program itu dia minta undur. Dia ingin jika dia pergi ke Amerika, atau ke ujung dunia manapun, si Bungsu ada bersamanya. Atau lebih konkret lagi, dia ingin pergi kemana pun si Bungsu pergi.
Dia sudah meminta agar abangnya pergi duluan ke Amerika untuk mengikuti program khusus itu. Kepada Le Duan dia katakan terus terang, bahwa dia hanya mau pergi kalau bersama si Bungsu. Le Duan hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan adiknya. Dia tahu sikap adiknya yang be­ngal dan kadang-kadang bikin pusing. Susah sekali jatuh hati. Namun begitu ada lelaki yang mampu menaklukkan hatinya, maka jatuh hatinya separoh mampus. Kini saat itu nampaknya tiba. Hati adiknya kepincut separoh mampus kepada lelaki dari Indonesia itu.
“Kita akan pergi bersama, Ami. Saya akan menunggumu…” ujar Le Duan di salah satu hotel di Manila, saat Ami menawarkan dia pergi duluan ke Amerika.
“Tapi, saya akan menunggu si Bungsu….”
“Ya, kita sama-sama menunggunya…” ujar Le Duan sambil tersenyum. Ami membalas senyumnya.
“Ami….”
“Ya…?”
“Apakah kau yakin dia juga mencintaimu?”
Ami tertegun. Tak bisa segera menjawab.
“Kau yakin dia juga mencintaimu, seperti engkau mencintainya, Ami?”
“Aku.. aku ingin menjawabnya ‘ya’, Le….”
“Aku juga ingin seperti itu, Adikku. Aku ingin dia mencintaimu, seperti engkau mencintainya. Tapi apakah kau yakin?”
“Menurutmu, Le?”
“Aku tahu dia menyukaimu, Ami…”
“Apakah dia mencintaiku?”
Le Duan tak bisa menjawab.
“Bagaimana, bagaimana kalau…”
“Kalau dia tidak mencintaiku, Le?”
“Ya, Ami….”
Ami tertunduk. Dia memang tak pernah memikirkan bagaimana jika si Bungsu tidak mencintainya. Sementara dia mencintai lelaki itu sepenuh hati.
“Le…”
“Ya…?”
“Apakah menurutmu, aku akan bunuh diri jika dia tidak mencintaiku?”
Le Duan menatap adiknya. Ami Florence menatap abangnya.
“Bagaimana menurutmu, Le…?”
Le Duan menggeleng perlahan.
“Kenapa kau yakin aku tak akan bunuh diri?”
“Kau takkan bunuh diri, Ami….”
“Kenapa…?”
“Karena lelaki itu juga mencintaimu…!”
Ami menatap abangnya. Le Duan mengangguk. Ami memeluk abangnya. Le Duan mendekap kepala adiknya. Membelainya perlahan. Ami tak mampu menahan air matanya.
“Terimakasih, Le… terimakasih. Hanya engkau saudaraku satu-satunya yang tersisa dari perang panjang yang menghancurkan negeri kita…” bisik Ami.
Le Duan tak mampu bicara sepatah pun, seluruh keluarga mereka memang sudah punah dimakan perang Vietnam yang tiga belas tahun itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Mereka berempat bersau dara. Hanya Ami yang wanita. Dua saudara lelaki mereka sudah meninggal. Juga orang tua mereka.
“Saya akan menunggu kabar dari si Bungsu, Le. Saya yakin dalam seminggu dua ini akan ada kabar mengenai dirinya….”
“Kita akan menunggunya bersama, Ami….” ujar Le Duan.
Lamunan Ami Florence terputus ketika dia mendengar suara ribut di sekitarnya. Dia segera mengetahui helikopter yang dia tompangi sudah mengapung cukup rendah di atas laut. Di bawah sana dia melihat sebuah benda hitam memanjang. Sebuah kapal selam yang tak begitu besar. Tak ada siapa pun di atas deknya yang mengapung. Sekitar setengah meter dari permukaan air helikopter diturunkan di dek tersebut. Kapten kapal dengan pilot heli saling berhubungan dengan radio. Begitu heli mendarat, petugas kesehatan dan petugas yang lain segera berhamburan turun.
Pada saat itu sebuah pintu dekat menara pendek di kapal selam itu terbuka. Lalu dua orang tentara Amerika dari kesatuan SEAL segera muncul. Mereka berdiri di tepi pintu keluar masuk ke kapal selam itu.
Di dalam kapal..

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s