Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 653)

Di dalam kapal selam itu, bahagian radar mengawasi seluruh penjuru dengan seksama. Sementara dua orang letnan yang bertugas menjaga tombol-tombol penembak peluru kendali dan torpedo juga siaga di tempatnya. Siap menunggu perintah dari kapten mereka. Di USS Alamo Laksamna Lee dan seluruh awak di ruang komando siaga. Bahagian radar menyapu lautan dalam radius 100 kilometer persegi dari kapal selam dan heli yang sedang memindahkan muatan itu.
Dari radar di ruang komando USS Alamo itu semua mereka bisa melihat, dalam radius lebih dari 100 kilometer, tak ada kapal perang sebuahpun di laut gelap tersebut. Dalam radius 100 kilometer persegi mereka hanya melihat dua titik yang berdempetan di layar monitor radar. Kedua titik kecil itu adalah kapal selam Sea Devil dan helikop­ter penjemput bekas tawanan.
Namun beberapa saat kemudian perwira radar berseru sambil menunjuk sebuah titik di tenggara yang mendekat ke arah kedua titik pertama dengan cepat sekali.
“Torpedo…!” ujar perwira radar.
“Empat buah torpedo…!” seru perwira radar tatkala melihat di monitor muncul tiga titik lagi seperti berbaris menuju ke dua titik tersebut.
“Sea Devil…!” panggil Laksamana Lee.
“Yes, Sir…!”
“Kalian lihat sesuatu…?”
“Yes, Sir! Saya dan Kapten Johan Gregor, pilot heli melihat empat buah torpedo datang dari jarak jauh, Sir…!”
“Kalian bisa mengatasi?”
“Siap… bisa, Sir!”
“Pemindahan penumpang sudah selesai?”
“Orang terakhir sudah naik ke helikopter, heli siap meninggalkan Sea Devil, Sir!”
“Good luck!”
“Thank you, Sir!”
Begitu pembicaraan antara Komandan USS Alamo usai, terdengar panggilan dari pilot heli­kopter.
“Roy…” panggil pilot pada kapten Sea Devil.
“Yap, John….”
“Kami pergi. Engkau bisa menyelesaikan keempat cucut yang datang itu?”
“Yap, berangkatlah….”
“Good luck, Roy!”
“Good luck, Callahan!”
Helikopter yang memang sudah mengapung sekitar sepuluh meter dari dek Sea Devil itu segera berputar dan melaju ke arah laut lepas dengan kecepatan penuh. Sementara Sea Devil membuka seluruh katup memasukkan air secara maksimal. Bersamaan dengan deru air masuk ke tanki de­ngan tambahan bobot secara drastis, kapal selam tersebut mulai menyelam.
Baik di layar radar Sea Devil maupun di layar radar USS Alamo dan di helikopter, melihat empat titik yang datang dari tenggara itu semakin dekat. Keempat torpedo itu nampaknya berasal dari kapal perang Vietnam yang berada di lepas pantai sekitar Saigon yang sudah berubah nama menjadi Kota Ho Chi Minh.
“Menyelam dengan kecepatan penuh!” seru kapten Sea Devil sambil menarik tuas yang berfungsi menurunkan sirip kapal selamnya. Kapal itu menukik ke dasar samudera, kemudian membuat tikungan tajam ke kiri, ke arah selatan Vietnam.
Awak kapal selam tersebut bersuit panjang sambil berpegangan agar tidak terjatuh dalam manuver kapal selam kecil bertenaga amat kuat itu. Di helikopter dan di USS Alamo orang-orang menatap layar radar tanpa seorang pun berani berkedip. Mereka melihat Sea Devil tiba-tiba le­nyap dari radar. Sedetik kemudian keempat titik yang datang dari arah tenggara itu melintas di titik tersebut.
Mereka menunggu apakah ke empat titik itu juga lenyap pada titik pertama yang hilang tadi. Jika itu yang terjadi berarti Sea Devil hancur dihantam ke empat torpedo itu. Namun empat titik itu terus melaju ke arah utara. Makin lama makin jauh, sampai akhirnya lenyap. Mereka semua terdiam. Adalah Laksamana Lee yang pertama mencoba membuka hubungan radio dengan Sea Devil.
“Kapten Callahan…!”
“Yes, Sir!”
Jawaban kapten kapal selam itu segera disambut sorak gembira dan tepuk tangan semua awak USS Alamo yang ada di ruang komando, juga Laksamana Lee. Pilot helikopter juga tersenyum dan bersalaman dengan copilotnya. Mereka memacu heli itu dalam gelap dengan panduan kompas, menuju ke arah Filipina.
“Anda ada di mana, Kapten?”
“Siap, kami tak pergi jauh. Ada di dalam komputer Anda, Sir!” jawab kapten Sea Devil.
Jawabannya disambut gelak tawa awak USS Alamo.
“Tapi Anda tak kelihatan di komputer ini, Kapten….”
“Siap, apakah kami perlu menampakkan diri, Sir?”
Tawa riuh kembali pecah dalam ruang komando itu. Suara tawa riuh itu terdengar jelas oleh kapten Sea Devil.
“Baik, Anda menyelesaikan tugas dengan baik, Nak. Selamat berenang. Good luck!”
“Terimakasih, Sir!” jawab Kapten Callahan.
Lalu ketika dia mendengar nada ‘blip’ tanda hubungan radio diputus dari USS Alamo, dari ke­dalaman lima belas meter di Laut Cina Selatan itu dia juga mematikan hubungan radionya. Lalu memacu kapal selam itu kembali ke Teluk Kom­pong Sam, di mana kesatuan mereka, unit kecil pasukan SEAL yang tangguh itu, ditempatkan secara rahasia sejak setahun yang lalu.
—o0o—
Di salah satu ruangan VIP rumah sakit tentara di sebuah kota di Philipina, MacMahon menatap Ami Florence yang duduk di sisi pembaringannya dengan diam. Suasana sepi mencekam sejak dia usai menuturkan pertemuannya dengan si Bungsu, dan bagaimana mereka terpisah dalam per tempuran terakhir itu.
“Saya yakin dia masih hidup, Florence…” ujar MacMahon sambil memegang tangan Ami.
“Sampai Vietnam tahu tak ada rahasia yang bisa dikorek dari mulutnya?” ujar Ami lirih.
MacMahon tak dapat…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s