Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 654)

MacMahon tak dapat memberi komentar.
“Saya akan menemui gadis yang bernama Thi Binh itu…” ujar Ami sambil membetulkan selimut MacMahon, lalu bangkit.
MacMahon memegang tangannya.
“Dia masih anak-anak, Florence. Negeri kalian diamuk perang. Banyak keluarga yang remuk redam. Jika dia mencintai seseorang itu karena dia ingin dilindungi. Tidak lebih dari itu. Kau faham maksudku, Nak…?” ujar MacMahon.
Ami Florence tertegak diam. Menatap si kolonel yang memang sudah dia kenal cukup dekat saat perang masih berkecamuk di Vietnam.
“Terimakasih Mac…” ujarnya sambil membungkuk, kemudian mencium pipi MacMahon.
Lalu dia melangkah perlahan keluar. Menu­tup pintu. Melangkah menelusuri koridor berudara sejuk masuk ke ruangan VIP yang lain. Thi Binh yang berada di pem baringan menatap kedatangannya dengan mata berbinar.
“Hai, Thi-thi….”
“Hai, Ami….”
Ami membungkuk, mencium kedua pipi gadis itu. Namun ketika dia akan bangkit, lehernya ditahan oleh kalungan kedua lengan Thi-thi. Mereka bertatapan dalam jarak yang tak sampai satu jengkal.
“Ada apa?” ujar Ami dalam bahasa Vietnam sambil tersenyum dan menatap mata gadis itu na­nap-nanap.
“Menatapmu membuat rinduku pada si Bungsu jadi terobati….” ujar Thi Binh.
Dug!
Jantung Ami seperti akan copot mendengar ucapan itu. Mukanya segera saja berubah. Namun gadis itu masih tersenyum. Dia melepaskan kalungan tangannya di leher Ami. Namun kini ganti memegang tangannya, dan menariknya duduk di sisi pembaringannya.
“Dari Bungsu, saya mendengar banyak sekali cerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh.
Dug!
Lagi-lagi jantung Ami berdegup.
“Ya… saat pertama dia datang ke rumah kami, dia bercerita tentang Kakak. Bahkan ketika di perjalanan pun, saat melewati danau yang banyak buayanya, di rakit dia juga bercerita tentang Kakak…” ujar Thi Binh separoh membual.
Ami terperangah. Dia tahu gadis centil yang cantik ini separoh membual. Namun dia tak kuasa mencegahnya. Dia dibuat geram, marah, gondok, jengkel, senang dan gemas. Semua campur aduk jadi satu. Namun dia memang datang untuk mencari cerita tentang keberadaan si Bungsu di Vietnam setelah berpisah dengannya di USS Alamo. Ami Florence mengumpulkan semua cerita, menyimak dengan diam sambil menyimpan dalam memorinya segala data dan detil yang penting tentang si Bungsu saat-saat terakhir lelaki yang dicintainya itu di Vietnam. Cerita tentang itu dia dapat dari tiga orang, yang memang berada bersama si Bungsu pada saat-saat terakhir.
Ketiga mereka adalah Letnan Duval, Roxy dan Thi Binh. Sebab dengan ketiga orang inilah si Bungsu bersama-sama bertempur tak jauh dari barak tentara Vietnam, sebelum dia menyuruh Duval, Roxy dan Tin Binh berangkat duluan menyusul rombongan Kolonel MacMahon. Kemudian Ami mencari informasi tentang pasukan SEAL di bawah pimpinan Mayor Murphy Black di Teluk Kompong Sam. Yaitu orang yang kali terakhir kembali ke tempat pertempuran guna mencari si Bungsu. Namun dari seluruh cerita yang dia himpun, muaranya tetap satu. Si Bungsu hilang atau tertawan dalam pertempuran terakhir itu. Artinya lelaki itu masih hidup di salah satu tempat di belantara Vietnam di sana.
Kini dia berada di sisi pembaringan Thi Binh. Dia ingin mendengar cerita yang lebih lengkap tentang si Bungsu dari gadis kecil ini. Setelah lama saling menatap, akhirnya Thi Binh bicara perlahan kepada Ami Florence.
“Sebenarnya, sayalah yang banyak bercerita dan bertanya tentangmu pada si Bungsu, Ami….”
“Kau bertanya tentang diriku kepada si Bungsu?
“Ya….”
“Darimana engkau mengetahui aku mengenal si Bung su….”
“Dari mimpiku….”
Ami tersenyum. Merasa kena diakali oleh gadis kecil nakal ini.
“Ami, kau pernah merasa datang ke dalam mimpiku?”
Ami Florence menggeleng. Thi Binh menatapnya.
“Berbulan-bulan saya, juga belasan wanita Vietnam lainnya, dijadikan budak pemuas nafsu oleh puluhan tentara Vietkong. Suatu hari saya mulai diserang Vietnam Rose, sipilis! Saya demam dengan panas yang amat tinggi. Dalam sakit dan hampir mati itu, saya berdoa meminta Tuhan membantu saya, membunuh orang-orang yang memperkosa saya….”
Thi Binh terhenti, air mata mengalir di pipinya. Ami Florence tertegun mendengar derita dahsyat yang dialami gadis kecil ini.
“Suatu malam, dan malam-malam berikutnya, ke dalam mimpi saya datang seorang lelaki yang memakai senjata seperti ninja. Di malam yang lain, lelaki itu saya lihat lagi di dekat sebuah kapal perang yang besar bersama seorang gadis indo-Vietnam yang cantik dan abangnya. Gadis indo itu menangis tatkala pemuda ninja dari Indonesia itu tidak naik ke kapal perang besar itu bersamanya, melainkan pergi dengan boat kecil dan saat itu dia berkata ‘sabarlah Thi-thi… saya akan datang membantumu‘ Gadis indo di dalam mimpi saya itu ada­lah engkau Ami. Saya sudah meilhatmu dan abangmu dalam mimpi saya, Ami…” tutur Thi Binh.
Ami Florence ternganga mendengar cerita yang dahsyat itu. Dia hampir-hampir tak mempercayai pendengarannya.
“Bukan hanya engkau yang tak percaya, Nona. Semula si Bungsu pun tak percaya atas apa yang dituturkan Thi-thi tentang mimpinya. Tapi dari mana dia tahu tentang ninja, tentang Indonesia, tentang kapal perang besar, gadis indo yang cantik yang ternyata dirimu, jika mimpi itu tak pernah ada?”
Ami menoleh ke arah suara di belakangnya. Ternyata tanpa diketahui sejak tadi di ruangan itu sudah ada Duc Tio dan Han Doi.
“Aku tahu, engkau mencintainya. Aku juga….”
Dug!
Hati Ami Florence bedegup mendengar pernyatan Thi Binh.
“Dia memang patut mendapat cinta banyak orang, Thi-thi….”
“Termasuk kita…?”
“Termasuk kita…!”
“Kau tidak marah aku mencintainya, Ami?”
Ami Florence menggeleng. Kemudian memeluk gadis kecil itu. Air matanya merembes, mengingat entah bagaimana nasib lelaki yang sedang mereka bicarakan. Entah masih hidup, sedang di­siksa, entah sudah mati.

—o0o—
Si Bungsu membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah dunia yang serba terbalik. Ada orang-orang, api unggun, rumah-rumah bambu semuanya berada dalam posisi terbalik.
Selain itu ada rasa sakit…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s