Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 656)

Di mulutnya dia rasakan sesuatu yang kental dan asin. Dia coba merasakannya dengan ujung lidah. Darah ternyata tidak hanya mengalir dari hidung, tetapi juga dari mulutnya. Si Bungsu menarik nafas. Dia menyadari siksaan yang dialaminya sekarang baru “tahap pem bukaan”. Siksaan yang lebih dahsyat akan menantinya setelah ini. Dia yakin akan hal itu. Dia terbatuk, nafasnya sesak. Dan orang-orang Vietnam yang berada di rumah-rumah yang terbuat dari bambu, yang berada di sekitar tempat si Bungsu digantung pada menoleh.
Mereka saling berbisik atau bicara, mengatakan tawanan itu sudah sadar. Tiga tentara berjalan ke arahnya. Dia tahu jumlahnya tiga orang karena pendengarannya masih berfungsi dengan amat baik. Jarak antara tempat dia digantung dengan ketiga orang yang melangkah itu sekitar dua puluh depa. Dua di antara yang datang itu memakai sepatu tentara. Yang satu lagi, memakai sepatu karet. Dia bisa menandai perbedaan dari geseran langkah ketiga orang tersebut. Dia menarik nafas, mensyukuri pendengarannya masih bisa diandalkan. Dibukanya mata, namun yang terlihat hanya bayangan yang amat kabur. Darah masih tetap menutupi kornea matanya.
Seseorang bicara kepadanya. Dia tak faham karena orang itu bicara dalam bahasa Vietnam. Sebenarnya orang itu tidak bicara, melainkan membentak. Dia mencoba untuk ter senyum. Apakah pula gunanya orang ini membentak dirinya, pikirnya. Orang itu nampaknya memang seperti sepakat dengan apa yang difikirkan si Bungsu. Tak ada gunanya membentak, lebih baik menerjang! Si Bungsu mendengar desahan angin ke arah tubuhnya, sebelum tendangan sepatu tentara itu menghajar dadanya. Darah segar segera menyembur dari mulutnya akibat tendangan itu.
Da tak tahu apakah ada tulang dadanya yang patah. Namun sakitnya luar biasa. Seseorang dia dengar berbicara, bukan orang yang menendangnya. Dia kenal suara itu. Suara Lok Ma! Orang yang menendangnya itu kemudian mem bentak lagi. Kali ini bentakkan bukan ke arahnya, melainkan pada Lok Ma. Lok Ma mendekat, menjambak rambutnya, lalu bicara padanya dalam bahasa Inggris.
“Kawan, saya harus melakukan ini padamu. Jangan sebut namaku. Jangan sampai orang-orang ini mengetahui engkau mengenalku. Tetaplah pura-pura pingsan….”
Si Bungsu tiba-tiba merasa punya ‘teman’ dalam kondisi yang kritis itu. Dia tahu, Lok Ma bicara dalam bahasa Inggris tentu karena kedua orang lainnya itu tak mengeri bahasa Inggris. Dia membuka mata. Namun yang kelihatan hanya ba­yang-bayang kabur. Jika dia melihat dengan jelas wajah Lok Ma, bukan karena penglihatannya sudah menjadi terang, tetapi wajah lelaki itu menjadi jelas karena rekamannya ada dalam ingat­annya.
“Tolong hapus darah di mataku…” ujarnya dengan suara bergetar menahan sakit.
Lok Ma bercarut kesal. Orang ini disuruh agar terus pura-pura pingsan agar tidak disiksa, malah ngomong minta tolong. Namun Lok Ma merasa kasihan juga melihat darah yang mengalir dari hidung dan mulut lelaki tangguh ini. Dia berteriak ke arah barak. Bicara dalam bahasa Vietnam. Tak lama kemudian seorang kanak-kanak datang membawa sebuah panci alumunium putih yang biasanya dipakai tentara sebagai tempat ransum yang sudah penyok-penyok, berisi air dan sebuah kain lap yang sudah compang camping.
Lok Ma membasahkan kain lap compang camping itu ke air di tempurung kelapa tersebut. Kemudian dengan kain lap yang sudah dibasahi itu dia bersihkan darah yang mengalir dari hidung dan mulut si Bungsu. Dengan hati-hati dia bersihkan darah yang menempel di mata lelaki tersebut. Beberapa saat kemudian si Bungsu bisa melihat ketiga lelaki yang berada di depannya. Dari posisinya sekarang, ketiga lelaki itu dia lihat seperti anak-anak sedang dalam posisi senam standen di sekolah. Kaki di atas, kepala di bawah.
Kendati dalam keadaan sekarat dan nyawanya di ujung tanduk, namun rasa geli melihat seolah-olah ketiga orang itu kakinya berada di bahagian atas, si Bungsu tak dapat menahan senyumnya. Yang dia gelikan sebenarnya bukan ketiga orang itu, melainkan dirinya sendiri. Apa yang dikhawatirkan Lok Ma segera terjadi. Lelaki tinggi besar berpangkat kapten, yang tadi menghantam dadanya, hingga dia muntah darah, kini menjadi berang melihat tawanan tersebut senyam-senyum segala.
Kaki kanannya yang besar itu terhayun. Lok Ma terpaksa memiringkan tubuhnya ke kanan, agar tak terkena tendangan si kapten. Akibatnya bukan main, kaki bersepatu besar itu menghajar kepala si Bungsu dari bawah. Seperti orang menendang bola yang sedang jatuh dari operan. Tendangan itu menghajar persis di ubun-ubun si Bungsu. Saking kerasnya tendangan itu, seiring suara berderak, mungkin dari tulang leher, tubuh si Bungsu yang tergantung terangkat sampai setengah meter.
Saat jatuh usai ditendang…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s