Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 657)

Saat jatuh usai ditendang itu membuat ceng keraman tali pengikat kaki dan tangannya semakin mengencang. Tubuh si Bungsu tak sempat berkelonjotan. Lok Ma melihat mata lelaki itu hanya tinggal putihnya. Wajahnya sudah seperti mayat. Lok Ma, sersan pencari jejak itu merasa bulu tengkuknya merinding melihat demikian kuatnya tendangan si kapten. Suara berderak akibat tendangan itu dipastikan dari salah satu sumber. Jika tidak tulang leher yang patah, pastilah tempurung kepala si Bungsu yang pecah.
Yang manapun di antara kedua kemungkinan itu yang terjadi, akibatnya sama saja. Mati! Belasan tentara Vietnam yang sedang membersihkan senjata di depan pondok-pondok, maupun belasan penduduk sipil lelaki dan wanita serta anak-anak menyaksikan peristiwa itu. Mereka berdiam diri. Lok Ma menggertakkan gerahamnya. Dia berdiri menatap pada si kapten dengan mata berapi dan berkata dengan nafas sesak.
“Kita diperintahkan untuk menjaga orang ini tetap hidup, agar komandan bisa menanyainya. Saya rasa dia sudah harus dikubur sekarang. Saya tak ikut bertanggung jawab!” ujar Lok Ma sambil meninggalkan tempat itu.
“Binatang seperti ini tak boleh dibiarkan hidup. Lebih cepat dia mati lebih baik…” sergah si kapten.
Nada suara perwira bertubuh tinggi besar itu terdengar memancarkan kepuasan setelah dia melihat tubuh lelaki yang sudah menimbulkan banyak sekali korban di pihaknya itu hanya terayun-ayun kecil, dan matanya hanya kelihatan bahagian putihnya. Kapten sadis yang tadi menendang dada si Bungsu, sehingga dia muntah darah itu, dan yang sebentar ini menendang kepalanya sehingga dia semaput, adalah kapten yang memburunya seusai dia bertahan bersama Letnan Duval, Roxy dan Thi Binh. Yang memerintahkan agar Lok Ma bersama dua orang lainnya membuat jebakan untuk membunuh si Bungsu.
Usai pertempuran di padang lalang dekat rawa luas itu, di mana para pelarian lolos bersama helikopter karena si Bungsu memberikan perlindungan, sisa pasukan Vietnam itu menyingkir jauh sekali. Mereka sungguh terkejut tatkala mendapati masih ada pasukan Amerika yang menusuk ke jantung Vietnam dan melibatkan diri dalam peperangan.
Padahal negara ini kini sudah sepenuhnya milik Vietnam. Artinya, kehadiran tentara Amerika tanpa izin di wilayah tersebut merupakan suatu pelanggaran atas kedaulatan Vietnam. Apalagi jika mereka datang lagi memerangi Vietnam. Benar-benar sebuah pelanggaran hukum internasional yang amat berat.
Tapi karena mereka tidak memiliki radio, karena radio yang berada di barak sudah dihancurkan oleh si Bungsu dan teman-temannya, diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa melaporkan kasus pelanggaran berat pihak Amerika itu ke ibukota. Ketika laporan itu akhirnya sampai ke kota Ho Chi Minh, nama baru untuk Hanoi, Amerika sudah mem punyai jawaban. Jawaban pihak Amerika justru membuat pemerintah Hanoi kebakaran jenggot. Pentagon, markas besar angkatan bersenjata Amerika, yang sudah dilapori oleh Laksamana Lee, Komandan USS Alamo, justru menyerang balik penguasa di Hanoi.
Amerika memasuki Vietnam untuk membebaskan tentara dan warga negaranya yang ditawan secara semena-mena dan tidak berkeperimanusiaan. Vietnam ternyata melakukan kebohongan besar, mengatakan mereka tidak menawan seorang pun tentara Amerika.
Kasus ini membuktikan..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s