Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 658)

Kasus ini membuktikan secara amat konkret kebohongan Vietnam tersebut. Amerika tidak hanya melakukan protes keras, tetapi tetap akan melakukan segala tindakan yang diperlukan. Akan terus mencari, dan membebaskan tentara dan warga negaranya yang hilang selama peperangan, selama Vietnam tetap melakukan kebohongan seperti sekarang.
Dalam pernyataan berikutnya, diuraikan pengalaman tawanan perang tersebut, bersumber dari penuturan MacMahon dan kawan-kawannya, yang direkam di rumah sakit militer di pangkalan Subic. Sebuah cerita yang menegakkan bulu roma, tentang kekejian dan kebiadaban Vietnam menyiksa para tawanan, lelaki dan perempuan. Pernyataan di atas sebenarnya tidak disetujui oleh Kementerian Luar Negeri Amerika. Namun para jenderal tak peduli, terutama dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut.
Mereka yang belum habis marahnya akibat pukulan yang mereka terima di Vietnam itu, mengancam Kementerian Luar Negeri AS, agar mengirim pernyataan yang amat di luar kezaliman dan tatakrama diplomatik itu. Namun pernyataan itu pula yang menyebabkan penguasa Vietnam yang memang sengaja menyembunyikan ratusan tentara Amerika yang mereka tawan selama peperangan, segera memindahkan tempat-tempat tahanan dan memperketat penjagaan.
Bersamaan dengan itu, Kolonel MacMahon dan Laksa mana Lee secara rahasia ditempatkan di Teluk Kompong Sam di selatan Kamboja untuk melakukan penerbangan dan operasi intensif mencari tempat disekapnya lelaki Indonesia bernama si Bungsu itu. Mayor Black diperintahkan untuk berusaha maksimal membebaskan lelaki yang sudah membebaskan belasan tentara Amerika tersebut. Pada saat itu nyawa si Bungsu seperti tergantung di sehelai benang yang amat rapuh. Luka yang belum sembuh akibat lima peluru yang bersarang di sekujur tubuhnya diakhiri dengan dua tendangan kapten Vietnam bertubuh besar itu.
Terutama tendangan ke ubun-ubunnya benar-benar mengantarkan nyawa lelaki dari Situjuh Ladang Laweh itu ke bibir liang lahat. Dia tidak pernah sadar sejak dihantam tendangan maut kapten Vietnam tersebut. Pada puncak kritis, dia mengalami mimpi atau mungkin sebuah halusinasi yang dahsyat. Yang kalau saja dialaminya ketika dia berada dalam kesadaran penuh, pasti akan mengguncang jiwanya. Dalam mimpi atau halusinasi itu, rasanya dia memasuki sebuah taman indah yang amat semerbak dan dihiasi bunga serba putih.
Di taman itu ada ayah, ibu dan kakaknya. Ketiga mereka berpakaian sutera serba putih yang amat indah. Ibunyalah yang pertama datang menyongsongnya dengan pelukan dan deraian air mata. Dipeluknya anak bungsunya itu seperti takkan dia lepas. Ayah dan kakaknya menatap dia dengan senyum namun berdiam diri.
“Lama benar engkau merantau dan menderita seorang diri, Bungsu anak Bunda. Sekarang, janganlah pergi lagi dari ibu, ayah dan kakakmu, Nak. Di sinilah bersama kami. Di luar sana, di rantau-rantau yang jauh entah di ujung dunia mana, engkau berkelana seorang diri. Tanpa ibu dan ayah, tanpa kakak dan sanak saudara. Engkau anak seorang penghulu pucuk di kampungmu, keluargamu dihormati orang negeri. Namun lihatlah keadaanmu kini, Bungsu mata hatiku. Tak ada yang menanakkan nasi untukmu, tak ada yang akan mengurut kepalamu jika engkau pening dan demam. Tak ada yang menungguimu kala engkau sakit. Tak ada tempatmu mengadu, Anakku. Tetaplah disini bersama Bunda, Ayah dan Kakakmu, buyung buah hatiku…” ujar bundanya.
Si Bungsu tak mampu berbicara sepatah pun. ‘Pertemuan’ itu amatlah dahsyat baginya. Saat berada dalam pelukan bundanya, saat berada di antara ayah dan kakaknya, dia seperti mendapatkan kembali masa kecilnya yang hilang. Separoh le­nyap karena perangainya sendiri. Sementara yang separoh lagi lenyap direnggut kekejian balatentara Jepang. Belasan tahun hidup sendiri, dia tak pernah tahu bagaimana rasanya meneteskan air mata. Air matanya seperti sudah kering dihisap gurun derita sepanjang jalan hidupnya yang sunyi.
Terpental dari suatu negeri ke negeri lain. Terhempas dari muara nasib yang satu ke muara nasib yang lain. Kini, dalam dekapan bundanya yang penuh kasih sayang, dia merasakan betapa air matanya merembes, membasahi lengan baju sutera bundanya. Tubuhnya terguncang menahan isak yang tak mampu dia bendung. Tangis haru dan bahagia yang belum pernah dia rasakan selama puluhan tahun.
“Oo, betapa rindunya Bunda padamu Buyung sibiran tulang. Betapa rindunya kakak dan ayahmu, ingin bersua denganmu…” bisik bundanya dengan suara bergetar.
Dengan ragu dia berpaling pada ayahnya yang selama ini amat ‘bermusuhan’ dengannya, karena dia memang seorang pejudi, maling dan tak mau mengaji, tak pula mau belajar silat. Padahal ayahnya adalah seorang guru silat andal yang tersohor di Luhak 50.
“Pergilah bicara pada Ayahmu, Buyung. Dia sangat menyayangimu…” bisik ibunya sembari membelai kepala si anak.
Si Bungsu bangkit dari pelukan ibunya. Berjalan perlahan ke arah ayahnya. Ayahnya tersenyum, namun matanya basah. Dia tak membiarkan si Bungsu berlutut di hadapannya. Segera saja anak itu dia peluk erat-erat.
“Telah kau lunasi semua hutangmu padaku, Buyung. Dan telah kau lunasi sekaligus hutang dendam keluarga kita pada orang-orang Jepang itu. Sekaligus telah kau tagih piutang dendam orang Situjuh Ladang Laweh pada bangsa yang menginjak-nginjak kehormatan negeri kita.
Kemahiranmu..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s