Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 659)

Kemahiranmu mempergunakan samurai, membuat Ayah bangga. Kendati tak pernah kuajar, kini engkau adalah pesilat tangguh, yang puluhan kali lebih hebat dari ayah. Kami bangga padamu, Nak…” bisik ayahnya dengan suara yang benar-benar menggambarkan rasa bangga dan bahagia.
Dengan mata basah si Bungsu menatap wajah ayahnya. Yang menatapnya dengan senyum dan mata yang juga basah.
“Jangan katakan bahwa Ayah tak pernah mengajar saya bersilat. Semua yang saya ketahui tentang samurai dan gerak silat yang hanya separoh-separoh, saya pelajari dari gerakan yang ayah lakukan tatkala ayah bertarung dengan Saburo Matsuyama. Semuanya. Ayahlah satu-satunya guru saya. Darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah Ayah…” ujar si Bungsu.
Ayahnya tertawa renyah. Suaranya yang bernada bariton, berat berwibawa, membuat si Bungsu merasa sangat bangga dan terlindungi.
“Ternyata engkau tak hanya pandai bersilat dan bersamurai, tapi juga pandai membawa diri. Mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah, Buyung. Ayah bangga mempunyai anak seperti engkau…” ujar ayahnya sembari mengusap kepala si Bungsu.
Si Bungsu ingin menangis mendengar ucapan ayahnya. Namun dia tak ingin terlihat menjadi lemah. Dia tersenyum, kendati air mata membasahi pipinya. Kemudian dia bangkit, berjalan ke arah kakaknya. Dia duduk berlutut di depan kakaknya. Si kakak memeluk kepala adiknya.
“Ampuni adikmu ini, Kak. Yang tak bisa membelamu, ketika engkau dinistai serdadu Jepang itu…” bisiknya.
“Apa yang telah engkau lakukan, Adikku, lebih dari segala-galanya. Tentang apa yang mereka lakukan pada Ayah, Ibu dan Kakak, kelak akan tiba saatnya masa perhitungan. Biarlah Hakim Yang Maha Agung menimbangnya dan menghukum. Karena Dia memang Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Adil dan Maha Menghukum. Kakak bangga mempunyai adik seperti engkau. Kini tetaplah bersama kami di sini…” bisik kakaknya, sembari mencium kepala adik kesayangannya itu.
Bundanya mendekat. Kemudian kembali memeluk si Bungsu. Lalu membawa anak lelakinya itu berdiri.
“Marilah kita pergi bersama-sama…” ujar si ibu.
Si Bungsu dibimbing ibu dan kakaknya melangkah ke arah taman yang lain. Namun Ayahnya memanggil mereka perlahan. Mereka berhenti. Datuk Penghulu yang berwibawa itu menatap pada istri dan anak perempuannya. Dengan wajah yang amat jernih, perlahan dia memberi isyarat dengan gelengan kepala.
“Belum saatnya dia bersama kita sekarang. Masih banyak hal yang harus dia selesaikan di tempat lain…” ujar ayahnya.
“Tetapi…” ibunya ingin protes.
“Kita tak boleh melawan kodrat Yang Maha Pencipta. Kehadiran seseorang di suatu tempat dalam suatu peristiwa dan kejadian, sudah diatur ketika orang itu masih berada dalam rahim Bundanya. Dia harus menyelesaikan seluruh takdir yang sudah disuratkan untuknya. Mari kita antar dia ke gerbang darimana tadi dia datang…” ujar ayahnya perlahan dan dengan suara yang demikian teduh.
Dengan berat hati si ibu membimbing anaknya ke gerbang darimana si Bungsu tadi masuk ke taman yang amat indah itu.
“Di sini Bunda akan menantimu, Buyung sibiran tulang. Di sini Ayah dan Kakakmu menanti kedatanganmu kelak. Pergilah dengan doa dan kasih sayang yang tak bertepi dari kami. Terutama dari Bundamu ini, Buyung anakku… Pergilah. Jangan sekali-sekali engkau menoleh ke belakang… pergilah!” bisik bundanya, sembari untuk kali terakhir kembali mencium wajah anaknya, mencium kepalanya. Air matanya membasahi rambut, dan menyelusup ke ubun-ubun si Bungsu.
Hal pertama yang dirasakan si Bungsu saat siuman dari pingsannya yang panjang, dari masa kritisnya yang sudah berada di ambang maut, adalah rasa sejuk dan nyaman yang melenyapkan seluruh sakit di ubun-ubunnya yang kena tendangan itu. Air mata bundanya seperti menyelusup lewat ubun-ubunnya yang retak. Mengalir perlahan lewat pembuluh darah di otaknya. Mungkin tak ba­nyak orang yang bisa percaya akan perjumpaan secara halusinasi seperti yang dia alami. Yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai saat-saat ‘transendental’.
Di alam metafisik itu secara ajaib dan amat luar biasa “air mata” seorang ibu mampu mengobati semua luka dan melenyapkan rasa sakit anaknya, yang sudah tak lagi punya harapan untuk hidup. Hanya beberapa orang, termasuk kaum sufi dan ulama, yang percaya bahwa hal-hal gaib seperti itu merupakan bahagian dari kebesaran Yang Maha Pencipta. Namun kendati kejadian seperti itu bukanlah sesuatu yang khayali, lalu dibelokkan untuk melakukan ziarah dan memuja kuburan. Kejadian itu adalah salah satu cara dari Yang Maha Pencipta menunjukkan kebesaran-Nya.
Bahwa apa yang …

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s