Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 660)

Bahwa apa yang musykil bagi manusia, hanya sesuatu yang teramat mudah bagi-Nya. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Karenanya, Allah menginginkan agar umat manusia lebih iman dan lebih tawakal. Selain rasa sejuk yang menjalar dari ubun-ubun ke seluruh pembuluh darahnya, hal lain yang pertama dirasakan si Bungsu, yang siuman dari pingsan dari masa kritisnya yang mencekam, adalah bau yang amat busuk. Bau yang menusuk hidung. Dia dengar dengus yang menjijikkan. Ketika membuka mata, yang pertama tertatap oleh matanya adalah jerajak bambu sebesar-besar lengan.
Bambu yang seolah-olah menjadi loteng tempatnya berada dengan bermacam daun kering yang dijadikan atap. Ada beberapa saat dia membiarkan dirinya tertelentang diam. Kemudian mata­nya melirik ke kanan. Tak sampai sedepa di kanan, dia lihat jerajak batang bambu yang sama. Dia melirik ke kiri, ke bawah kakinya, jejarak bambu yang sama tetap terlihat. Aku berada dalam kurungan yang terbuat dari bambu, bisik hatinya, sembari bangkit untuk duduk. Begitu dia duduk, dia segera melihat bahwa dirinya dikurung dalam kurungan yang kukuh.
Kurungan yang ditaruh dalam kandang babi. Suara dengus dan pekik babi yang belasan ekor itulah yang terdengar olehnya sebelum dia membuka mata. Begitu juga bau busuk yang amat menusuk hidung, yang membuat dia ingin muntah. Bau apalagi kalau bukan bau taik, kencing dan makanan babi itu. Rasa dingin di punggungnya ternyata karena dia terbaring menelentang di atas lumpur di kandang babi itu. Babi-babi itu pada menjulurkan kepala dari sela-sela tiang bambu kurungannya. Menatap padanya, mungkin dengan perasaan heran. Sungguh suatu hal yang tak pernah terba­yangkan olehnya, dalam hidupnya dia akan menga­lami penghinaan seperti ini.
“Hei, kamu hidup kembali?”
Tiba-tiba sebuah suara serak dan lemah terde­ngar dari arah kanan. Dia menoleh, dan di kanannya, hanya berjarak sekitar tiga depa dari dia, ada lagi sebuah kandang bambu seperti yang dia tempati. Tidak, tidak sebuah, ada dua tiga buah. Masing-masing berisi seorang manusia. Dan semuanya jelas tentara Amerika. Itu dapat segera ditandai dari pakaian seragam compang-camping yang masih melekat di tubuh mereka. Bedanya antara tempat dia ditahan dengan orang-orang itu adalah tinggi rendahnya tempat tahanan.
Kurungan yang dia tempati ditaruh di atas tanah kandang tersebut. Sementara kurungan yang lain nampaknya sengaja digali sedalam satu meter. Semua kotoran kandang babi itu dialirkan ke tempat tawanan tersebut. Hal itu menyebabkan mereka berendam sepanjang hari di dalam air kotoran babi yang ketinggiannya mencapai perut. Nam­pak­nya untuk sementara kurungan yang dia tempati lebih lumayan.
“Kami sangka kau takkan hidup. Kami de­ngar kapten gorilla itu menendang dada dan kepalamu. Sudah belasan tawanan tentara Amerika yang mati disiksa gorilla haus darah itu…” ujar tentara kurus kerempeng dan pucat, dari kubangan di sebelah si Bungsu.
Ada beberapa saat dimana semua yang dia lihat, yang dia dengar dan dia rasakan lewat se­perti bayang-bayang. Matanya melihat apa yang ada di hadapannya, telinganya mendengar semua suara, indera penciumannya mengendus semua bau. Namun hanya sampai di sana. Belum satupun yang masuk ke rekaman otaknya. Fikirannya masih berada di dalam impian dahsyat bertemu ayah, ibu dan kakanya yang baru saja lewat. Impian itu demikian nyata dan demikian jelas. Perlahan dia raba kepalanya. Ada perban di sana, dili­litkan dari ubun-ubun ke bawah dagunya.
Saat itulah dia baru sadar sepenuhnya, bahwa apa yang dia alami sebentar ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang amat luar biasa. Dia yakin, sekali pun yang baru dia alami adalah mimpi, namun dia amat bahagia.
Dia bisa bertemu..

1 Comment

  1. saketek bana sambungan caritonyo,da….!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s